Assalamualaikum semuaa
Apa kabar kalian?
Btw dapet cerita ini darimana?
Absen dong dari kota mana aja nih hehe☝
🌵🌵🌵
Happy Reading
Luna bergelayutan manja pada lengan kekar kakaknya, gadis yang baru saja sembuh setelah 3 hari harus mendekam di kamar itu merekahkan senyumnya menikmati udara pada sore hari.
Dunianya terasa baik baik saja ketika kakak lelakinya berlaku baik dan manis seperti ini kepadanya, membawanya berjalan keliling komplek dengan menjelajah berbagai makanan pedagang kecil di pinggir jalan.
"Sering sering dong kak, ajakin gue jalan kaya gini," pinta Luna terkesan memaksa, menatap wajah kakak laki lakinya yang sangat datar seperti triplek.
"Makanya jangan sering sakit," dengus Mirza melirik adeknya sekilas.
"Gue juga nggak mau sakit kali kak."
"Tapi lo sering menjerumuskan diri lo pada kata itu Na," tukas Mirza membuat gadis berkacamata bulat itu mengembangkan pipinya kesal.
"Kak Mirza bisa nggak sih jangan marah mara gitu, jelek tau," ujar Luna melepaskan tangannya dari lengan Mirza, menatap sinis kakak laki lakinya.
Tidak ada jawaban, membuat sang empu mendengus kesal. Berbicara dengan kakaknya sama aja bohong, sama seperti tengah berbicara dengan batu tak ada suara.
Alih alih menghilangkan rasa kesalnya terhadap Mirza Luna menghampiri penjual cilor di sebrang jalan, gadis itu menyapa abang yang sudah berumur dengan sopan.
"Hallo bang man," sapa Luna dengan senyumannya.
"Eh neng Luna, apa kabar? udah lama nggk beli cilor saya." Bang Man menatap Luna sekilas sebelum kembali bergulat dengan aktivitasnya.
"Alhamdulillah baik, bang Man sendiri gumana kabarnya."
"Alhamdulillah saya baik juga neng." Luna mangut mangut.
"Bang mau nanya dong," ucap Luna membuat abang penjual cilor itu menoleh kembali ke arahnya sedangkan Mirza sudah terlebih dahulu berjalan menduduki kursi yang sudah tersedia disana.
"Nanya apa neng?" balas Abang penjual sibuk menggoreng aci.
"Cilor itu aci molor ya bang?" tanyanya polos sembari serius memperhatikan si penjual melakukan aktivitasnya.
"Bukan neng cantik."
"Terus apa dong?" tanya Luna penarasan menatap lelaki berkumis lebat di atas mulutnya.
"Pecinta kolor." Abang Rollyman- penjual cilor itu tertawa.
"Kebetulan Luna salah satunya bang, boleh dong."
"Tinggal beli apa susahnya sih Na?" geram Mirza tengah duduk di atas kursi plastik yang sudah disediakan.
"Apasih bange sewot mulu." Lirik Luna sinis.
KAMU SEDANG MEMBACA
LANGITNYA LUNA
RomanceHOLAA SELAMAT DATANG!! Maiza Aluna, gadis ceria yang selalu mencoba membendung rasa cintanya kepada Langit Angkasa akibat perasaan ragu. Masa lalunya yang hadir menjadi salah satu penyebab keraguannya hingga menjadi ketakutan terbesar gadis itu. Si...
