33.

9 2 0
                                        

-Happy Reading-

Prankk!!

Suara benda jatuh yang sangat keras terdengar di lantai atas kamar Luna, suara tersebut berasal dari balkon kamar gadis itu.

Farel dan Ceisa yang tengah berjalan tepat di depan pagar rumah Rosa tersentak kaget menatap kamar Luna secara bersamaan.

"Farel, Luna dalam bahaya!" ucap Ceisa berlari untuk menghampiri sahabatnya sedangkan cowok dingin itu memergoki seseorang berpakaian serba hitam hendak kabur setelah meluncurkan aksinya.

"BERHENTI!!" Farel berlari dengan kencang menarik paksa seseorang yang tidak memiliki persiapan apapun untuk pergi dengan cepat, sial dia tidak menyadari kehadiran dua remaja itu tadi.

"LO SIAPA ANJING!" teriak Farel penuh emosi membogem rahang orang itu membabi buta. Deru nafasnya naik turun menyorotnya tajam.

Farel membuka topeng hitam yang dikenakan cowok tidak kenal itu, wajah yang sangat asing bahkan Farel tidak pernah melihat orang itu sebelumnya.

"SIALAN!"

Ceisa menaiki tangga dengan cepat, ia sungguh khawatir dengan keadaan Luna sekarang, apa yang sudah terjadi pada gadis itu saat ini.

Ceisa menarik knop pintu yang tidak dikunci kemudian berlari menuju balkon, alangkah terkejudnya ia menatap tempat itu yang berantakan akibat pecahan pot dimana mana.

Gadis dengan wajah penuh keringat itu menatap sekitar mencoba menemukan temannya yang ternyata terduduk di pojok sembari merangkul lututnya dengan bahu bergetar.

Gadis dengan wajah penuh keringat itu menatap sekitar mencoba menemukan temannya yang ternyata terduduk di pojok sembari merangkul lututnya dengan bahu bergetar

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Luna!" Ceisa segera berhambur untuk memeluk sahabatnya.

"Cei gue takut," lirih Luna membalas pelukan sahabatnya.

Bukan saatnya Ceisa menanyakan apapun kepada Luna, gadis itu pasti butuh ketenangan, Ceisa berdiri untuk membantu Luna berdiri lalu memapahnya berjalan masuk kedalam kamar.

"Gue ambilin minum dulu ya Na," ujar Ceisa setelah mendudukkan Luna di atas ranjang gadis itu. Luna menahan tangan sahabat dan menggelengkan kepalanya.

"Gue takut."

"Lo bakal aman Na, ada gue di sini. Gue ambilin minum dulu ya, biar lo bisa tenang."

Akhirnya Luna membiarkan Ceisa pergi kebawah untuk mengambilkan dirinya air putih.

Luna masih terdiam, otaknya kembali memutar kejadian beberapa menit lalu ketika ia sedang menunggu Ceisa yang katanya akan menginap di rumahnya setelah selesai pergi bersama Farel. Tiba-tiba seseorang berpakaian serba hitam dengan membawa sekarung pot tanah melemparinya bertubi tubi dari bawah balkonnya.

LANGITNYA LUNACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang