"Gak usah ngancurin hidup gue."
- Javier nalendra Aditya.
"Gue gak nyakitin lo, jadi kenapa lo hancur?"
- Cassandra Zahra Aqila.
"Dengan adanya lo di hadapan gue, itu sama aja ngehancurin hidup gue."
- javier nalendra Aditya.
•••••••
Javier itu luk...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
— HAPPY READING —
Aca menghela napas panjang, menatap sebuah kotak bekal di tangannya cukup lama sebelum akhirnya memberanikan diri melangkah mendekat ke arah kompor.
"Mama..." panggil Aca lirih, memotong dentang alunan alat masak.
Sang wanita paruh baya yang di panggil mama tersebut spontan mematikan matikan kompornya, lalu membalikkan badan seraya mengelap kedua tangannya pada kain celemek. Ia menatap Aca dengan pandangan hangat—yang perlahan berubah menjadi cemas saat menyadari raut wajah lesu Aca.
Aca menyodorkan kotak bekal berhias pita itu dengan kedua tangan yang sedikit gemetar.
"Tadi Aca sempat buatin Javier nasi goreng. Nanti tolong kasih ke Javier, ya, Ma?" Aca menunduk dalam, menggigit bibir bawahnya rapat-rapat sebelum melanjutkan dengan suara yang hampir tenggelam, "Tapi jangan bilang kalau ini dari Aca."
Wanita itu terdiam. Pandangannya berganti-ganti antara kotak bekal di tangannya dan sosok Aca yang enggan menatap matanya.
Airin, ibunda kandung dari javier itu akhirnya mengulum senyum tipis. Dengan semangat ia melayangkan jari jempolnya dan menerima kotak bekal yang dibawakan aca.
"Kamu gak usah khawatir sayang, mama pastikan nasi goreng kamu masuk ke lambung Javier."
Aca mendongak. Setiap sudut bibirnya tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman manis.
"Rajin banget sih anak gadis, pagi-pagi udah masak aja." Puji airin tiba-tiba membuat senyum Aca semakin lebar.
"Demi javier ma." Bisiknya kemudian terkekeh geli bersama dengan airin.
"Kamu berangkat sekolah sama siapa pagi ini? Mau di antar papa aja gak?"
Airin meletakkan bekal dari aca di atas meja makan, tangannya beralih ke dasi sekolah aca dan merapikannya dengam teliti.
Aca terdiam sejenak. Bola matanya bergulir kesana sini dengan alis yang tertekuk, tampak berpikir.
"Aca naik bus aja deh ma," Tungkas Aca seketika membuat pergerakan tangan Airin terhenti.
"Yakin sayang?" Tanya Airin setelah selesai merapikan dasi aca.
Aca mengangguk semangat. Ia tersenyum lebar, memamerkan deretam gigi putihnya yang rapi. "Yakin empat lima Ma!" Seru Aca menggemaskan.
Airin tersenyum tipis. Kedua tangannya beralih mengusap pundak aca tak lupa menepuknya pelan.