41 | JAVIER ?!

2.7K 122 13
                                        

° h a p p y r e a d i n g °

.
.
.
.
.
.

Rumah yang dulunya ramai, kini sunyi.

Rumah yang dulunya selalu di isi candaan dan omelan seorang wanita kini hening.

Kebahagiaan seolah-olah telah sirna dari rumah ini dan hanya menyisakan kesedihan nya.

Matahari seolah-olah juga telah tenggelam di gantikan malam yang akan terus menemani rumah besar itu.

Ceklek!

"Javier?"

Tak ada jawaban.

Rumah itu gelap dan hening, membuat seorang pemuda yang baru saja masuk ke dalam rumah tersebut kebingungan.

"Javier?" Panggil pemuda itu sekali lagi seraya bergerak menghidupkan lampu.

Ctek!

Lampu telah hidup namun tanda-tanda adanya kehidupan tak dapat pemuda itu rasakan.

"Jav? Ini gue cakra." Cakra kembali memanggil, sedikit menaikkan intonasi suaranya berharap pemilik rumah mendengar.

Tak lama seorang pria muncul dengan pakaian berantakan membuat Cakra terkejut seketika.

"Astaga om, cakra kira tadi siapa." Tutur Cakra menatap Tian yang tengah berjalan mendekati nya.

"Maaf ngagetin kra. Kamu ada urusan apa kesini?" Tanya Tian terlihat tak bertenaga.

Cakra tak menjawab. Cowok itu justru khawatir dengan keadaan tian yang terlihat semakin kurus.

"Om gak papa? Om udah makan belum?'" Tanya nya seraya membawa tian untuk duduk di sofa.

"Om udah makan kok. Kamu gak perlu khawatir." Balas Tian tersenyum sendu.

Cakra menarik nafas kasar.

Semuanya berantakan sekarang. Keluarga bahagia itu hancur seketika karena pelangi yang selalu mewarnai keluarga tersebut telah pergi.

"Javiernya ada om?"

Tian tersenyum tipis. Pria itu tak menjawab namun pandangan nya beralih pada kamar javier yang berada di lantai atas.

"Kemarin o om lihat dia bawa obat-obatan. Om gak tau itu obat apa, mau nanya tapi om juga gak ada tenaga lagi." Jawab Tian.

Mendengar jawaban itu sontak cakra beranjak dari duduknya.

"Cakra izin ke kamar javier ya om. Takutnya anak itu gegabah." Tutur cakra di balas anggukan kecil.

Cakra berlari menuju kamar javier. Dalam batinnya cakra berharap javier tak melakukan hal gila.

"Jav, lo di dalam kan?" Cakra sedikit meninggikan intonasi suara nya berharap javier yang berada di dalam mendengar nya.

Tak ada jawaban.

Kamar itu hening.

Rasa panik semakin menyerang Cakra.
Ketua calaveras itu akhirnya memilih mendobrak pintu kamar javier.

Berkali-kali ia dobrak paksa hingga akhirnya pintu terbuka.

Saat terbuka cakra membulatkan matanya terkejut saat melihat javier yang terduduk lemas di lantai dengan tubuh yang bersandar pada pinggir kasur.

Cowok itu terlihat pucat dengan lingkaran hitam yang menghiasi matanya seperti kurang tidur.

Dan yang mengejutkan adalah obat pil dan silet yang berserakan di lantai.

"Tolong waras jav. Jangan jadi orang gila please." Tutur cakra berjalan pelan mendekati javier.

Cowok itu berjongkok menyamakan tingginya dengan javier.

Tangan kekar itu perlahan bergerak mengelus pundak javier.

"Are you okay bro?"

Javier menggeleng pelan.

Cowok itu sudah sangat lemah sekarang.

Cakra menarik nafas kasar melihat gelengan lemah itu.

"Berdiri, pindah ke kasur. Biar gue rapiin kamar lo." Tutur Cakra menarik pelan javier untuk berdiri.

Namun javier benar-benar tak ada tenaga lagi. Untuk berdiri sejenak saja ia sudah tak sanggup.

"Mama Airin bakal benci sama lo kalau lo lemah kaya gini. Setidaknya lo harus semangat hidup demi papa tian anjir." Ujar Cakra menatap kesal javier.

Lagi dan lagi tak ada jawaban.

"Lo bisu ya?" Tanya cakra dengan kekesalan yang telah meningkat.

Javier yang mendengar pertanyaan itu sontak tersenyum kecut.

Perlahan ia mendongak menatap cakra yang tengah berdiri.

Cowok itu hanya diam namun anggukan kepala yang ia berikan mampu membuat Cakra bungkam.

Jantung cakra berdetak kencang.

Cowok itu kembali berjongkok dan menatap dalam manik sendu javier.

"Jangan bercanda jav. Ayo ngomong!" Tutur Cakra dengan intonasi suara yang tinggi.

Tak ada jawaban.

"Gue mohon jangan gini jav. Ada papa tian yang harus lo bahagia in. Ada calaveras yang di sisi lo.  Lo bilang lo mau perjuangin cassa kan? Ayo perjuangin dia. Bawa dia dari deon. Kalian berhak dapat kebahagiaan." Ujar Cakra dengan tangan yang berada di kedua bahu javier.

"Ayo ngomong jav. Satu kata aja."

.to be continued.
.
.
.

Follow Instagram
@naadaablas.wp

JAVIECAS [ SEGERA TERBIT ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang