JAVIECAS

23.1K 494 3
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


​"Gak usah dekat-dekat bisa, gak? Anjing!" Pemuda itu menggeram rendah, melangkah lebar-lebar demi menghindar dan memberi jarak dari gadis yang terus membuntutinya tanpa henti.

​"Ini tuh udah jauh, Javier! Mau sejauh apa lagi, sih?" balas sang gadis. Suaranya melengking menuntut penjelasan, membuat rahang Javier makin mengeras menahan muak.

​"Jauh. Sangat jauh. Kalau bisa sejauh langit sama bumi," sentak Javier tanpa sudi menoleh.

​Mendengar itu, gadis yang sedari tadi menempel seperti benalu itu mendadak terdiam. Langkah kakinya menyeret perlahan sebelum akhirnya terhenti sepenuhnya.

​Hening yang menyusul membuat Javier sempat bernapas lega. Namun, ketenangan itu menguap begitu saja saat ia menghentikan langkah dan memutar tubuhnya. Javier menatap lekat-lekat raut wajah si gadis—bibir yang terpaut rapat, mata yang berkedip bingung, serta dahi yang berkerut dalam.

​Melihat ekspresi itu, Javier tahu betul bahwa sebuah ucapan konyol akan segera lolos dari bibir mungil yang menggemaskan, namun teramat menyebalkan itu.

​"Berarti— gue harus di langit, terus lo di tanah?" tanya gadis itu polos, mendongak menatap Javier.

​Javier mengembagkan napas kasar lewat hidung, memutar bola matanya sebelum merespons ucapan tak masuk akal di hadapannya. "Iya. Lo di langit, gue di tanah."

​"Gimana caranya gue bisa ke langit, Javier?"

​"Mati," potong Javier cepat, datar tanpa beban.

​Kalimat tajam itu sukses membuat Aca tertegun. Nada bicaranya mendadak berubah tegas, berusaha menutupi getar di suaranya. "Kalau udah waktunya, pasti gue meninggal kok."

​"Emang sekarang bukan waktunya? Padahal gue berharap waktunya sekarang," sahut Javier dingin. Tatapannya menusuk, seolah tak ada penyesalan sedikit pun atas kata-katanya.

​Aca meremas kain rok sekolahnya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa sesak yang familier menjalar cepat menghantam dadanya, menyisakan rasa tandas yang membakar tenggorokan.

​"Kalau tiba-tiba lo yang meninggal duluan dari gue gimana?" cetus Aca mendadak. Matanya membelalak menahan panas yang siap meleleh menjadi air mata.

​"Bagus, lah. Setidaknya gue gak perlu jumpa lo lagi—walaupun ujung-ujungnya gue berakhir di neraka," balas Javier santai, menyilangkan dada dengan sudut bibir terangkat remeh.

​Remasan pada kain roknya makin
kuat hingga meremukkan lipatannya. Aca sudah tak kuat lagi. Pasokan udara di sekitarnya mendadak terasa begitu tipis dan menyiksa.

​"Ya udah. Semoga lo cepat meninggal," Balas Aca mendadak.

​Kalimat berbisa itu lolos begitu saja dari bibirnya—ucapan yang sangat bertolak belakang dengan isi hatinya yang menjerit ketakutan.

​Javier tertegun. Senyum remehnya luntur seketika. Pemuda itu membeku, menatap Aca dalam diam dengan pancaran mata yang sulit diartikan selama beberapa detik.

​"Terima kasih doanya," balas Javier akhirnya. Sebuah senyum miring yang dingin kembali terukir di wajahnya sebelum ia memutar tubuh dan melangkah pergi, meninggalkan Aca sendirian di lorong sekolah yang sepi.

​"Sakit, Javier... Udah tiga tahun, tapi lo gak pernah berubah sedikit pun," gumam Aca lirih. Matanya yang berkaca-kaca menatap nanar punggung Javier yang perlahan menyatu dengan keramaian dan menghilang dari pandangan.

— —

Prolog nya segini aja ya..
Semoga bikin penasaran deh.
A

yo tinggalkan jejak kalian teman-teman.


INSTAGRAM

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

INSTAGRAM

JAVIECAS [ SEGERA TERBIT ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang