"Gak usah ngancurin hidup gue."
- Javier nalendra Aditya.
"Gue gak nyakitin lo, jadi kenapa lo hancur?"
- Cassandra Zahra Aqila.
"Dengan adanya lo di hadapan gue, itu sama aja ngehancurin hidup gue."
- javier nalendra Aditya.
•••••••
Javier itu luk...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
—
"Gak usah dekat-dekat bisa, gak? Anjing!" Pemuda itu menggeram rendah, melangkah lebar-lebar demi menghindar dan memberi jarak dari gadis yang terus membuntutinya tanpa henti.
"Ini tuh udah jauh, Javier! Mau sejauh apa lagi, sih?" balas sang gadis. Suaranya melengking menuntut penjelasan, membuat rahang Javier makin mengeras menahan muak.
"Jauh. Sangat jauh. Kalau bisa sejauh langit sama bumi," sentak Javier tanpa sudi menoleh.
Mendengar itu, gadis yang sedari tadi menempel seperti benalu itu mendadak terdiam. Langkah kakinya menyeret perlahan sebelum akhirnya terhenti sepenuhnya.
Hening yang menyusul membuat Javier sempat bernapas lega. Namun, ketenangan itu menguap begitu saja saat ia menghentikan langkah dan memutar tubuhnya. Javier menatap lekat-lekat raut wajah si gadis—bibir yang terpaut rapat, mata yang berkedip bingung, serta dahi yang berkerut dalam.
Melihat ekspresi itu, Javier tahu betul bahwa sebuah ucapan konyol akan segera lolos dari bibir mungil yang menggemaskan, namun teramat menyebalkan itu.
"Berarti— gue harus di langit, terus lo di tanah?" tanya gadis itu polos, mendongak menatap Javier.
Javier mengembagkan napas kasar lewat hidung, memutar bola matanya sebelum merespons ucapan tak masuk akal di hadapannya. "Iya. Lo di langit, gue di tanah."
"Gimana caranya gue bisa ke langit, Javier?"
"Mati," potong Javier cepat, datar tanpa beban.
Kalimat tajam itu sukses membuat Aca tertegun. Nada bicaranya mendadak berubah tegas, berusaha menutupi getar di suaranya. "Kalau udah waktunya, pasti gue meninggal kok."
"Emang sekarang bukan waktunya? Padahal gue berharap waktunya sekarang," sahut Javier dingin. Tatapannya menusuk, seolah tak ada penyesalan sedikit pun atas kata-katanya.
Aca meremas kain rok sekolahnya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa sesak yang familier menjalar cepat menghantam dadanya, menyisakan rasa tandas yang membakar tenggorokan.
"Kalau tiba-tiba lo yang meninggal duluan dari gue gimana?" cetus Aca mendadak. Matanya membelalak menahan panas yang siap meleleh menjadi air mata.
"Bagus, lah. Setidaknya gue gak perlu jumpa lo lagi—walaupun ujung-ujungnya gue berakhir di neraka," balas Javier santai, menyilangkan dada dengan sudut bibir terangkat remeh.
Remasan pada kain roknya makin kuat hingga meremukkan lipatannya. Aca sudah tak kuat lagi. Pasokan udara di sekitarnya mendadak terasa begitu tipis dan menyiksa.
"Ya udah. Semoga lo cepat meninggal," Balas Aca mendadak.
Kalimat berbisa itu lolos begitu saja dari bibirnya—ucapan yang sangat bertolak belakang dengan isi hatinya yang menjerit ketakutan.
Javier tertegun. Senyum remehnya luntur seketika. Pemuda itu membeku, menatap Aca dalam diam dengan pancaran mata yang sulit diartikan selama beberapa detik.
"Terima kasih doanya," balas Javier akhirnya. Sebuah senyum miring yang dingin kembali terukir di wajahnya sebelum ia memutar tubuh dan melangkah pergi, meninggalkan Aca sendirian di lorong sekolah yang sepi.
"Sakit, Javier... Udah tiga tahun, tapi lo gak pernah berubah sedikit pun," gumam Aca lirih. Matanya yang berkaca-kaca menatap nanar punggung Javier yang perlahan menyatu dengan keramaian dan menghilang dari pandangan.
— —
Prolog nya segini aja ya.. Semoga bikin penasaran deh. A
yo tinggalkan jejak kalian teman-teman.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.