Lampung, 23 Oktober 2021
Saya terbangun jam 3 pagi, tanpa alarm. Btw, jarang banget hal kayak gini kejadian, karena sebelumnya saya itu agak bangkong kalo soal bangun subuh. Alarm yang berisiknya minta ampun aja saya kadang gak kebangun, lah ini saya bangun tanpa alarm. Tanpa basa-basi saya lihat notif hp, berharap yang keluar adalah ucapan selamat dari teman-teman. Btw, di Turki masih jam 11. Jadi seharusnya sih masih ada yang bangun terus ngucapin selamat ke temannya seandainya ada keluar pengumuman.
"Enggak lolos ke Afyon. Ada problem lagi katanya. Disuruh nunggu 3 minggu. Saya bilang kelamaan. Saya punya saran, mau nggak saya masukan ke Dumlupinar bareng Revaldi untuk tomer dulu, tahun depan kita daftarkan lagi ke univ yang kamu inginkan, gak perlu bayar pendaftaran lagi"
Gimana coba, saya bangun jam 3 ternyata hasilnya diluar ekspektasi. Mau nangis, tapi rasanya jatah air mata udah habis waktu di Sakarya kemarin. Benar-benar gak habis pikir saya.
"Terserah tad. Kok bisa gak masuk sih tad? Ini kapan tad masuknya. Kami ingin telpon antum tad supaya semuanya jelas", saya ketika ketik ini gak tau mau gimana. Sebisa mungkin saya berpikiran positif waktu itu. Saya sholat tahajud, kemudian mengambil Mushaf. Mengaji beberapa halaman. Lalu kembali lagi ke Kasur, menunggu subuh menjelang. Sementara anggota keluarga yang lain masih tidur, belum bangun.
Adzan berkumandang, saya sholat subuh. Orang tua saya sudah bangun ternyata. "Gimana ri pengumumannya?", tanya ibu dan ayah saya. "Gak lulus katanya", jawab saya singkat.
"Lah kok bisa? Kata siapa?"
"Ya kata mumtaza nya"
"Gimana ceritanya, kesalahan sistem lagi apa?"
Saya kasih liat lah hasil balasan chat dari Ustad Muafi ke mereka. Yang isinya sebagaimana diatas. Waktu itu saya menafsirkan chatnya kayak gini. Jadi saya yang penting tomer dulu di dumlupinar, tapi bukan sebagai mahasiswa sana. Yang penting tomer belajar Bahasa dulu. Karena memang ada sih yang seperti ini di Turki sana. Ayah saya gak setuju kalau seperti ini. Kata dia, jangan berangkat dengan keadaan tanpa kejelasan kayak gitu. Nanti susah sendiri. Soalnya orang tua saya mengira saya gak lulus ini karena kesalahan sistem, bukan karena nilai. Kalau ada masalah sama sistem, daftar dimanapun bakal sama hasilnya. Dan saya setuju dengan itu.
"Udah ditelpon belum Ustadz Muafi nya?", kata ayah saya.
"Belum dibalas pah", jawab saya.
Sampai saat ini, saya masih lemas. Takutnya gak jadi kuliah disana kalau begini ceritanya. Ayah saya juga bilang kalau kayak gini, ada kemungkinan memang bukan jalan saya. Sampai-sampai Afyon saja tidak masuk. Beliau bilang, saya harus mulai mencari solusi. Seandainya gak masuk, memang bukan jalannya. Harus mau mengikhlaskan. Karena mungkin hasil inilah yang terbaik bagi saya.
"Sudah, ri. Kalau memang bukan jalan kamu, ya sudah ikhlaskan aja. Mama percaya kok kamu bisa bangkit dari keadaan ini. Banyak kok yang bisa kamu capai selain di Turki", ucap Ibu saya memotivasi. Kala itu saya hanya diam saja, lalu pergi kamar. Meringkuk meluk guling. Diam aja nggak ngapa-ngapain. Sebelumnya, saya sudah kirim WA ke teman-teman saya kalau kayaknya memang bukan jalannya saya kuliah di Turki. Banyak dari mereka yang membalas dan mencoba meyakinkan saya untuk tidak menyerah. Entahlah, tidak saya balas pesan mereka. Terlalu rumit keadaan saya waktu itu.
"Ri, kamu disuruh Papa ke depan", gak lama, kakak saya memanggil saya. Ternyata, ibu saya sedang menelpon Ustadz Muafi. Beliau sampaikan permintaan maaf. Karena beliau sebelumnya memang sudah memberikan kepastian ke kami kalau saya insyaAllah positif lulus. Beliau bilang kayak gini karena sudah berulang kali bertanya ke pihak kampus secara langsung. Dan pihak kampus pun sudah memastikan. Memang agensi ya seperti ini kalau sudah ada MoU dengan pihak kampus. Seharusnya jauh lebih mudah masuknya. Tapi ketika sudah pengumuman, eh ternyata malah tidak lulus. Wajar bila beliau meminta maaf kepada kami. Pihak kampus agaknya masih kesulitan dalam menangani mahasiswa yang masuk jumlahnya begitu banyak sehingga mereka kewalahan untuk mengatasi itu. Akhirnya, mereka tawarkan untuk menunggu selama 3 minggu. Tapi karena waktunya yang lama, beliau putuskan untuk mencari opsi yang lebih cepat.
Akhirnya kami tanya, opsinya apa? Yaitu opsi masuk ke Dumlupinar. Tapi ternyata sebagai mahasiswa. Dugaan saya salah. Pengumumannya hari Jumat nanti dan pendaftarannya besok. Cepat sekali memang.
"Kalau seandainya mau, saya langsung masukkan nama Alfarisi ini bareng dengan Mahasiswi yang bernasib sama", ujar beliau lewat telpon kala itu.
Ya kami tentunya mau saja, dengan meminta tolong agar mengecek sebenarnya kesalahan sistem apa yang bikin saya ditolak sana-sini, padahal nilai termasuk besar.
"Ya pokoknya itu kami serahkan saja ke Ustadz, ya. Karena ustadz kan yang lebih paham. Kami minta tolong ya, Ustadz karena kan dia ini juga sudah lama nunggunya dan semuanya juga ditinggalin demi kuliah disana. Jadi usahain aja lah sama Ustadz ya, kami nunggu info baiknya aja", ujar ibu saya menutup percakapan di telepon.
Ya begitulah, akhirnya saya terpaksa nunggu lagi sampai hari Jumat. Tapi untuk kali ini, saya gak berharap banyak. Sudah terpikir di otak untuk mengambil Tahfidz saja. Atau kalo masih ada waktu, bisa ambil les Bahasa inggris. Kuliahnya juga di Indonesia saja jikalau keadaan mengarahkan saya ke situ.
"Sudah, kamu berdoa saja. Cari solusi keadaan. Tidak usah terlalu berharap, kalau memang bukan garisnya, ya udah cari yang lain. Isi kegiatan dengan bermanfaat. Kita tinggal ikhtiar saja, semua sudah kita usahakan, tinggal gimana takdir dari Allah", kata ayah saya.
Dan ya benar, saya gak bisa memungkiri kalau saya ingin keluar hasil lulus jum'at nanti. Tapi untuk kali ini, saya sudah siap seandainya keadaan gak memihak. Bukan saya saja yang pernah bernasib seperti ini. Saya kembali ke Kasur, mencoba tidur lagi, mengarahkan kipas angin ke badan, supaya sakit. Hehehe, ini agak speechless keadaannya, tapi memang begitulah yang terjadi. Sebenarnya hari ini saya ada tugas menjadi penguji ujian lisan di pondok, tapi saya akhirkan saja dengan alasan gak enak badan. Semangat saya benar-benar rontok waktu itu.
Kawan-kawan, tulisan ini saya ketik dua hari setelah kejadian ini, karena saya gak punya kekuatan untuk langsung menulis kejadian ini saking lemasnya saya. Walaupun pada sore harinya, saya harus ke pondok untuk nguji anak-anak. Karena ternyata pengujinya gak bisa digantikan. Hadeh, tapi inilah yang bikin saya mau gak mau move on dari kasur😩. Ya, walaupun keadaan lagi sulit, saya kira gak boleh berlarut-larut. Your life must go on! Bagaimanapun, waktu dan hidup kita tetap berjalan. Ini bukan ujian yang bisa mematahkan semangat saya untuk bangkit. Semua harus saya ikhlaskan. Karena siapa tau, ada yang Allah simpan untuk kita dibalik ini semua.
Sepertinya banyak sekali yang saya rasakan hari ini, tapi saya coba tulis sesingkat mungkin. Oh ya, dalam hal ini, tidak ada yang bisa disalahkan. Pihak agensi juga sudah berusaha semaksimal mungkin. Saya juga sudah berikhtiar dengan nilai itu dibarengi dengan doa. Pihak kampus juga ada hak untuk menerima atau menolak siapapun orang yang mendaftar di tempat mereka. So, no one to blame. Urutannya selalu ikhtiar, doa, dan tawakkal. Kalau sudah dimaksimalkan tapi diluar ekspektasi, berarti itu mungkinlah yang terbaik bagi kita.
وَ عَسٰۤی اَنۡ تُحِبُّوۡا شَیۡئًا وَّ ہُوَ شَرٌّ لَّکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ یَعۡلَمُ وَ اَنۡتُمۡ لَا تَعۡلَمُوۡنَ
Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.
―QS. [2]: 216.
Ayat ini selalu jadi penopang bagi setiap muslim yang terkena cobaan dan ujian di dunia. Yang membuat kita selalu berpikir positif bagaimanapun keadaannya. Allah juga sudah berfirman kalau Dia sesuai dengan apa yang disangkakan hambanya. Jadi, jika kita selalu berhusnudzon kepada Allah, insyaAllah semuanya berjalan baik. Biidznillah saya dapat yang terbaik.
KAMU SEDANG MEMBACA
Notes from Turkiye
AdventureCatatan keseharian selama kuliah di turki. Sebelum, ketika, dan setelah berangkat ke Turki. İnformasi apa saja tentang turki secara santai. Setiap perjalanan menarik, termasuk destinasi keren yang saya kunjungi selalu saya catat dengan bahasa yang a...
