10-Mei-2011, 02.00
Dini hari itu, komplek Matahari Unggul sudah memasuki waktu jam malam, para residen sudah berada di kamar masing-masing, hanya suara jangkrik yang mengisi kesunyian malam. Lampu-lampu sudah dimatikan, dan menyisakan lampu teras, dapur dan lampu-lampu di luar bangunan panti wreda.
Dua bayangan terlihat bergerak melintas koridor dan berhenti di depan sebuah kamar. Dua orang wanita, salah satunya dengan kursi roda, dan satunya lagi berdiri sambil mengetuk pintu dengan pelan. Pada ketukan ketiga, mereka berdua mendengar suara gerakan orang yang beranjak dari tempat tidur dari arah dalam kamar. Beberapa detik kemudian, suara deretan kunci terdengar memutar diikuti dengan membukanya pintu kamar itu selebar sepuluh sentimeter.
"Dewi? Apa yang kau lakukan di sini?" Kata Ronny Manusama dengan wajah berkerut dan mata merah dari balik pintu.
"Aku butuh pertolonganmu." jawab Dewi.
"Apa tidak bisa besok pagi saja?" Tanya Ronny dengan nada kesal.
"Buka pintunya, Ron!" Kata suara yang berasal dari wanita berkursi roda.
"Agatha?" Tanya Ronny sambil melepaskan rantai pengaman pintunya. Sekarang wajahnya lebih ke terkejut daripada kesal karena tidurnya terganggu.
Setelah pintu terbuka, Dewi mendorong kursi roda Agatha memasuki kamar Ronny. Dewi lalu menarik sebuah kursi baca dan duduk di samping Agatha, Ronny menutup kembali pintu kamarnya dan masih berdiri di dekat pintu sambil mengangkat kedua tangannya.
"Ada apa? Kenapa malam-malam begini?" Tanya Ronny sambil melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 02.04. "Panggilan makan sahur atau apa?"
"Duduklah, Ron." Kata Dewi dengan wajah serius. Dewi selalu berwajah serius, dia memang jarang tersenyum atau tertawa, dan di pagi buta ini wajahnya terlihat lebih serius.
"Oke-oke." Kata Ronny sambil berjalan menuju tempat tidurnya lalu duduk di pinggiran. "Aku akan dengan senang hati menerima kedatangan kalian berdua di kamarku jika dilakukan lima puluh tahun yang lalu." Katanya sambil tersenyum nakal memperlihatkan gusi yang sudah kehilangan penghuni bertahun silam. Dewi memutar matanya sambil menghela napas.
"Aku akan senang melakukannya, Ronny sayang. Tapi hentikan mimpi jorokmu, lagi pula kau tidak seperti lima puluh tahun yang lalu!" Agatha berkata sambil mengangkat jari telunjuknya dari menunjuk ke arah atas lalu menggerakkannya ke arah bawah. Ronny membalas dengan senyum yang lebih lebar dan memperlihatkan ujung lidah di antara gusinya.
"Ronny, kau ingat Tonny dan Andrea?" Tanya Dewi sambil mencondongkan badannya ke depan. Ronny memiringkan kepalanya sambil mengerutkan dahi.
"Dua penghuni panti ini yang meninggal lebih dari sembilan bulan yang lalu." Tambah Agatha.
"Aku ini hanya tua, tapi belum pikun! Tentu saja aku ingat, aku yang menemukan jenazah mereka pertama kali. Kenapa dengan mereka? Apakah polisi menemukan fakta baru atau tersangkanya?" Kata Ronny sambil berdiri dan berjalan ke meja dan meminum segelas air.
"Kau seharusnya memiliki informasi yang baru dari bekas anak buahmu itu." Kata Dewi. "Dan mintalah mereka untuk bekerja lebih giat. Hampir setahun dan belum ada info apa-apa dari mereka."
"Sembilan bulan lebih sedikit, Dewi. Dan mereka bukan bekas anak buahku. Kau tidak perlu mendramatisir situasi. Di tubuh kepolisian sektor sinipun kupikir pasti sedang melakukan penyelidikan yang tidak sedikit dan kasus kematian Tonny dan Andrea sejauh ini adalah kematian normal, berdasarkan otopsi dan olah TKP waktu itu tidak ditemukan tanda kekerasan atau petunjuk yang menunjukkan bahwa kematian mereka berdua adalah akibat dari sebuah tindakan kriminal." Ronny menjawab sambil menggaruk kepalanya yang botak lalu duduk kembali di atas kasurnya.
Ronny adalah pensiunan polisi dengan pangkat kolonel, yang mengakhiri masa aktif kedinasannya dua puluh dua tahun yang lalu. Sejak memasuki masa pensiun, Ronny bekerja menjadi satpam di beberapa pabrik pakaian selama sepuluh tahun. Dia tidak latah mengikuti jejak rekan-rekan pensiunan sejawatnya yang menjadi direktur atau komisaris di banyak perusahaan. Baginya, masa pensiun bukanlah masa untuk berhenti menjadi polisi dan beralih profesi menjadi pengeruk uang. Ronny hanya ingin menjadi orang dengan membawa serta jiwa Tri Brata-nya sampai dia mati. Dia mungkin satu-satunya orang yang mengatakan bahwa kelakar almarhum Gus Dur adalah kesalahan besar sang mantan presiden itu. Gus Dur mengatakan 'hanya ada tiga polisi yang jujur: patung polisi, polisi tidur dan alm. Jenderal Hoegeng.' Ronny berkata dengan wajah serius di banyak kesempatan: 'Ada empat polisi yang jujur: patung polisi, polisi tidur, alm. Jenderal Hoegeng, dan Ronny Manusama!' Sampai anak terkecilnya memaksa Ronny untuk berhenti bekerja sebagai satpam dan dia menyambutnya dengan muka masam. Bermain-main dan menjaga cucu-cucu memang suatu kesenangan tersendiri untuk seorang kakek sepertinya. Tapi menjaga bara api Tri Brata adalah kewajiban yang mengalir dalam nadinya, aktif maupun pensiun, tegak ataupun bungkuk, mulus ataupun keriput. Sampai beberapa bulan yang lalu dia menjadi salah satu penghuni paling awal di Matahari Unggul karena cucu-cucu nya sudah besar.
KAMU SEDANG MEMBACA
2471
Science FictionSeorang dokter wanita mendapati dirinya berada di dalam sebuah tabung kapsul dengan populasi dunia berkurang 99.91% dan permukaan air laut naik 100m. Sebuah kejahatan yang berumur lebih dari empat setengah abad menunggu untuk diselesaikan di tengah...
