Epilog

18 3 0
                                        

Transkrip presentasi Prof. Simon Lando, Kepala Departemen Antropologi Universitas Colorado, Republik India Nova. Tanggal 11-Nov-1000 Pacem, 11.05 pada pembukaan pameran antropologi "Peradaban Satu Milenium Kemudian",:

Bapak-Ibu, saudara-saudari, dan para mahasiswa yang berbahagia dan saya hormati dan cintai; sebuah kesempatan istimewa untuk saya berbicara di depan saudara-saudari sekalian.

Seperti yang kita ketahui besama, sekitar satu setengah milenium yang lalu, lebih sedikit, peradaban kita berada di kondisi yang sangat kritis, karena ketika itu planet Bumi, planet yang luar biasa indah ini mengalami kejadian luar biasa yang oleh beberapa literatur disebut sebagai awal dari bencana nuklir hebat, dan oleh beberapa literatur yang lain disebut sebagai 'kiamat nuklir'.

Ketegangan antar negara, keserakahan dan kecenderungan manusia yang pada saat itu sangat merusak, mengakibatkan perang teknologi khususnya teknologi nuklir, dan bermuara pada terjadinya ledakan nuklir di hampir semua kota-kota besar dengan penduduk padat di seluruh dunia. Peradaban kita mengalami penurunan populasi hingga 99,91%. Dari 13,4 miliar orang menjadi hanya 12 juta jiwa pada satu milenium yang lalu.

Guncangan-guncangan seismik akibat ledakan nuklir yang terjadi dalam kurun waktu singkat itu. (Ya, singkat saya katakan! Jika kita mengacu pada umur bumi dan peradaban yang tinggal di atasnya).

Menarik napas panjang.

Mengakibatkan pergerakan lempeng bumi secara hampir bersamaan, dan membuat lempeng-lempeng benua mengalami pergeseran dan pergerakan turun, sehingga mengakibatkan permukaan air laut yang tercatat pada akhir abad ke XX Masehi naik sampai angka 100.2 meter secara rata-rata global.

Ya, kita semua tahu, kurun waktu itu adalah setengah milenium yang paling kelam yang pernah dirasakan oleh umat manusia.

Awal bulan lalu, kita semua merayakan tahun baru ke 1000 pada kalender Pacem. Jika menurut kalender Masehi yang digunakan oleh peradaban manusia satu milenium yang silam, hari ini adalah tanggal 11-Nov-3473.

Menyeruput air putih dari cangkir di depannya.

Pada tanggal 1-Nov-2473, satu milenium yang lalu adalah waktu pertama kali peradaban kita sekarang ini memasuki babak baru, 12 juta jiwa yang selama dua abad hidup di kedalaman tanah dan samudera mulai muncul kembali ke permukaan. Karena racun dari radiasi ledakan nuklir dua abad sebelumnya sudah terukur aman bagi tubuh manusia normal, dan memungkinkan peradaban untuk kembali bergerak maju.

Kita bisa membayangkan, pada waktu itu sekitar delapan sampai sepuluh generasi makhluk manusia hidup di dalam tanah tanpa pernah terpapar langsung cahaya matahari atau menghirup udara segar seperti yang kita hirup saat ini!

Kita perlu bersyukur pada apa yang kita miliki hari ini, dan jangan pernah mencoba untuk menciptakan neraka lagi!

Terima kasih pada catatan dua orang dokter yang berasal dari wilayah Republik Asia Tenggara saat ini, dr. Marlina Kusumawardhani (seorang ahli saraf) dan dr. Lydia Sunaryo (seorang ahli genetika), mereka berdua memimpin beberapa koloni yang pada waktu itu menjadi penghuni bawah tanah, untuk muncul dan mulai mendiami permukaan bumi.

Menurut catatan mereka berdua, dan juga beberapa catatan dari lokasi-lokasi lainnya, pada fase awal yang dibangun kembali oleh peradaban awal ini adalah pemanfaatan lahan untuk pertanian tanaman pangan, peternakan, membangun sistem kesehatan, konservasi energi, tata permukiman dan pendidikan.

Kita semua perlu berterima kasih pada generasi satu milenium yang silam itu. Berkat mereka kita bisa menikmati peradaban yang kita punya saat ini, dan...

Lydia mematikan volume suara monitor plasma di dinding ruangan, sementara Profesor Lando masih terlihat memaparkan presentasinya di hadapan ratusan audiens dan ribuan orang lainnya yang menonton live streaming dari implan mereka masing-masing di seluruh dunia. Lydia mengangkat cangkir yang berisi teh lemon hangat dari atas meja kecil di hadapannya, dan membuka pintu. Cahaya bulan terlihat di atasnya. Di terpa semilir angin tropis yang hangat, di kegelapan di depannya terlihat di kejauhan bayangan ratusan pohon kelapa yang bergerak seakan menari dan menghias garis pantai, permukaan samudera luas dan pantulan cahaya bulan di atas perairan yang beriak menari bersama angin malam itu.

Lydia melangkah ke pekarangan depan pondok tempatnya tinggal selama tiga abad terakhir.

"Malam yang indah, Lin." Katanya sambil terus berjalan ke arah sebuah komplek permakaman yang berisi sebuah nisan dengan tulisan nama:

Marlina Kusumawardhani.

2471Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang