1-April-2023, 13.30
Jalanan di sekitar Cikutra Bandung siang itu padat dengan kendaraan, terutama di depan sebuah pusat perbelanjaan serba-ada. Laras turun dari angkutan kota dan bergegas menyeberang jalan bersama seorang ibu paruh baya. Sesampainya di seberang, Laras memasuki pelataran parkir pusat perbelanjaan yang cukup ramai di masa pandemi Covid-19. Niatnya membeli jus dan cemilan manis untuk meredakan kekesalan setelah dikerjain oleh teman sekelasnya yang mengatakan bahwa nilai tengah semester untuk mata kuliah Riset Metodologi miliknya tidak ada.
Biasanya karena tugas-tugas tidak dikumpulkan atau karena nilai ujian tidak ada. Bukan nilainya jelek, tapi tidak ada. Jadi jam sembilan pagi tadi Laras sudah menunggu di ruang dosen, Risma, dosen mata kuliahnya mengajar sampai jam sebelas. Jadi dia menunggu sambil membaca pesan Whatsapp atau membaca berita yang masih membahas tentang Covid-19 di telepon pintar berlayar tujuh inci miliknya. Setelah dosennya selesai mengajar, Laras langsung menghadap dan menanyakan perihal nilai tengah semesternya yang tidak ada.
"Sebentar saya lihat dulu, ya." Kata Risma sambil memperbaiki letak masker medis berwarna hijau yang dipakaina, lalu membuka dan menyalakan laptopnya.
"Terimakasih, Bu," jawab Laras.
"Kamu asli orang bandung?" tanya Risma, berbasa-basi sambil menunggu laptopnya berproses.
"I.. Iya, Bu. Saya lahir dan besar di Bandung," jawab Laras.
"Orang tua juga asli Bandung?" tanya Risma lagi.
"Ayah dari Serang, Banten, ibu dari Bandung," jawab Laras.
"Tapi kamu tidak ada keturunan Cina gitu? Soalnya matamu agak sipit, ya," kata Bu Risma sambil tersenyum di balik maskernya.
"Oh, tidak ada, Bu. Rejekinya di mata agak sipit saya." Kata Laras sambil membalas senyum Bu Risma.
Mama telat ngambil mata belo waktu di pembagian mata dulu, Bu! Yang tersisa hanya yang sipit. Pikirnya.
"Larasati Jihan?" tanya Risma.
"Benar, Bu,"jawab Laras.
"Nilaimu ada kok di data saya. Bagus malah. Kamu sudah lihat papan pengumuman yang saya pasang itu?" Tanya Risma.
"Belum, Bu, saya dapat kabar dari Nit..." Laras berhenti, lalu terdiam dan teringat sesuatu.
Nitya brengsek! Dia tau kalau aku malas melihat papan pengumuman.
"Sepertinya kamu sedang dikerjain teman-temanmu. April fool today." Kata Risma.
"Iya, Bu. Sepertinya begitu." Kata Laras menunduk malu sambil memainkan ujung kemejanya.
"Ya sudah, Bu, saya pamit dan minta maaf kalau sudah mengganggu," kata Laras.
"Oke, Laras," jawab bu Risma.
"Terima kasih, Bu Risma." Kata Laras sambil berdiri dan menyalami Bu Risma. Lalu berjalan menuju pintu dengan ekspresi wajah yang dongkol.
April mop, april yang bodoh, dirayakan oleh orang-orang yang lebih bodoh. Pikirnya, sambil memasuki pusat perbelanjaan disambut oleh hawa dingin dari pengondisi udara. Setelah memilih sebuah cemilan kering dan minuman manis yang dingin, dia membayar di kasir, dan langsung keluar bangunan menuju kontrakannya.
Sebuah pesan singkat masuk ke gawai dalam genggamannya, Mama.
"Nanti malam kita makan bareng, ya, jam 19.00 di warung Leman Buahbatu. Mama udah ngasih tahu Kiki juga."
Laras mengetik jawaban dengan singkat, "Oke, siap lapar!" diikuti sebuah emotikon senyum lebar.
Laras menyewa sebuah rumah petakan, kira-kira 100m dari jalan raya, dan hanya sepuluh menit jalan kaki dari kampusnya. Bukan sebuah kontrakan mewah, tempat itu dipilih dengan alasan dekat dengan kampus, bisa istirahat dan belajar dengan tenang, juga dilengkapi dengan dapur kecil dan toilet. Walaupun jalan masuknya melewati jalan sempit di antara rumah-rumah warga. Lingkungan sekitar tempat itu dihuni oleh keluarga-keluarga sederhana dengan pekerjaan rata-rata buruh harian, penjual makanan, atau pengendara ojek online. Tepat di depan kontrakannya ada warung sayuran segar dan bahan makanan, jadi Laras sewaktu-waktu bisa memasak makanannya sendiri jika sedang ingin.
Setiap hari hampir sepanjang pagi dan sore, di sekitar rumahnya dimeriahkan oleh aksi dan suara anak-anak balita yang bermain atau menangis, ditemani oleh para ibu yang bergosip mulai dari harga beras naik, politik sampai tentang istri muda tuan tanah yang alisnya mengalahkan tebalnya ulat bulu.
KAMU SEDANG MEMBACA
2471
Science FictionSeorang dokter wanita mendapati dirinya berada di dalam sebuah tabung kapsul dengan populasi dunia berkurang 99.91% dan permukaan air laut naik 100m. Sebuah kejahatan yang berumur lebih dari empat setengah abad menunggu untuk diselesaikan di tengah...
