Aku terbangun dalam keadaan nyaris telanjang di sebuah tempat tidur. Hanya tersisa celana dalam dan bra yang menutupi tubuhku. Kedua pergelangan kaki, paha, pinggang, pergelangan tangan dan leherku terkunci oleh borgol besi otomatis yang mengikat tubuhku pada tempat tidur besi. Orang gila dengan kelainan seksual sadistik seperti apa yang terangsang dengan keadaanku? Mungkin banyak, Robert salah satunya. Aku bergidik hanya dengan membayangkan tangannya menyentuhku.
Aku melihat tubuh Marlina berada di tempat tidur besi serupa di sebelahku, dengan keadaan nyaris telanjang yang sama, tubuh bagian dada sampai pinggulnya dibungkus perban dengan noda darah yang cukup banyak. Aku lega setelah memperhatikan gerakan napas teraturnya, dia sedang tidur lelap. Di sebelah tubuh Marlina yang sedang tidur, ada sebuah elektrokardiogram yang menunjukkan angka 72 detak per menit, sekilas kondisi medisnya terlihat stabil. Tapi aku perlu memeriksa dengan detail untuk memastikan. Tabung infus NaCl-nya pun menetes setiap enam detik. Aku tidak sadar sekitar dua sampai enam jam.
Ruangan tempat kami terbaring adalah sebuah ruangan dengan lebar empat meter dan panjang enam meter, tanpa jendela. Hanya sebuah pintu beton dengan penggerak hidrolik, pintu tipikal yang ada dalam stasiun bawah tanah UniCare. Tidak terlihat kamera CCTV, tapi aku yakin Robert dan orang-orang suruhannya sedang memperhatikan kami dari ruangan lain. Ruangan ini memiliki dua buah lampu gantung satu meter di atas tubuhku dan tubuh Marlina, seperti sebuah ruangan interogasi di film aksi dengan tokoh protagonis memiliki kekuatan super yang bisa menghancurkan belenggu-belenggu besi. Tapi kami tidak berada dalam sebuah film.
"Apa mau mu, Robert?" Kataku dengan suara datar, seolah-olah aku tidak sedang terikat dan itu adalah sebuah kalimat yang kuucapkan kepada teman lama di sebuah warung kopi. Tidak ada jawaban apa-apa, dugaanku ruangan ini tidak memiliki pengeras suara.
Tiga menit kemudian, pintu beton terbuka dan dua laki-laki memasuki ruangan, seorang laki-laki botak dan terlihat berusia hampir sembilan puluh tahun dengan tongkat kayu sebagai penyangga tubuhnya, Robert Aryawinata. Seorang laki-laki muda berkulit hitam dan berambut kribo mengikuti di belakangnya, Kaisar Monewa.
"Ha! Rombongan sirkus tidak tahu malu memasuki panggung!" Kataku sambil tertawa lebar.
"Halo, Lydia. Good to see you again." Kata Robert, sambil memindahkan tumpuan badannya pada tongkat sambil meraih sebuah kursi dan duduk di sampingku.
Monewa berdiri di belakangnya dengan memegang sebuah pistol plasma yang diarahkan kepadaku dan mengangguk kepadaku dengan ekspresi yang aneh. Mungkin Monewa memang merencanakan ini semua dengan Robert, mungkin juga dia terjebak dalam sebuah situasi yang memaksanya untuk melakukan ini semua. Kau akan tahu maksudku jika mengenal Robert lebih lama.
"Tuan Robert Aryawinata, kau kenapa menjadi keriput begini?" Kataku mengejeknya, dan Robert hanya tersenyum memperlihatkan deretan gigi depan yang kusangka adalah gigi-gigi palsu. Orang yang dulu begitu tampan sekarang terlihat seperti kakek ringkih dengan punggung bungkuk. Gravitasi memang selalu menang jika beradu dengan tubuh manusia. Sisa-sisa ketampanannya memang masih terlihat, terutama hidung dan tulang pipinya yang mancung. Tapi tidak mengurangi rasa benciku kepada orang ini.
"Kau sudah lama menunggu kami mendatangi tempat ini?" Tanyaku.
"Lumayan." Kata Robert sambil mengangkat bahunya. "Oke, mari kita membicarakan bisnis," lanjutnya sambil tersenyum.
"Hahaha! Bisnis denganmu seperti melakukan bisnis dengan setan. "
"Aku membutuhkan kau dan Marlina untuk tetap hidup."
"Untuk apa kau membutuhkan kami berdua?" Tanyaku, ini adalah sebuah pertanyaan retorik. Karena aku tahu betul apa yang diinginkan Robert.
"Aku perlu mengambil sampel darah kalian. Jadi yaaa, kuharap kalian bisa bertahan hidup, sampai aku memutuskan kapan harus membunuh kalian."
KAMU SEDANG MEMBACA
2471
Fiksi IlmiahSeorang dokter wanita mendapati dirinya berada di dalam sebuah tabung kapsul dengan populasi dunia berkurang 99.91% dan permukaan air laut naik 100m. Sebuah kejahatan yang berumur lebih dari empat setengah abad menunggu untuk diselesaikan di tengah...
