Baby By Me !
II
Yuta berjalan sempoyongan karna kepalanya yang terasa pusing, badannya lemas dirinya pun mengalami morning sickness yang membuat dirinya lelah karna dirinya sering muntah. Entah apa penyebabnya yuta tak tau, dirinya memeriksakan dirinya kedokter. Dokter berkata dirinya hanya terlalu memforsir tubuhnya untuk terus bekerja dan berakhir drop.
Hidup sebagai seorang ahli waris dari perusahaan tambang terbesar kedua didunia, membuat yuta harus disibukkan dengan kegiatannya mengurus bisnis yang sudah dirintih oleh kakek nenek buyutnya. Kebetulan yuta adalah anak tunggal dari kedua orangtuanya, dirinya harus menanggung beban yang sudah dirinya pikul semenjak lulus kuliah.
Dirinya berbaring lagi di ranjang besarnya, entah sudah helaan nafas keberapa yang yuta keluarkan. Dirinya sama sekali belum pernah merasakan sakit yang semenyiksa ini. Benar-benar baru kali ini dirinya merasakan. Yuta bukanlah tipe orang yang betah berlama-lama tidur dikasur, dirinya lebih sering sibuk dengan pekerjaannya.
Mungkin ini teguran dari yang maha kuasa untuknya karna dirinya yang terlalu memaksa kehendak.
Apa mungkin ini efek dari stress yang dialaminya beberapa bulan belakangan ini karna dirinya yang gagal menikah dengan kekasih modelnya. Jujur yuta memang jadi jarang memperhatikan dirinya sendiri, rambut yang biasanya selalu tertata rapih kini dibiarkan olehnya memanjang. Yuta sangat cinta dengan kekasihnya itu, tapi cintanya dikhianati oleh kekasihnya. Kalau boleh jujur yuta masih mau menerima kekasihnya kepelukannya lagi. Sangat ingin.
""
Winwin sudah mulai terbiasa dengan perutnya yang semakin hari semakin membesar. Usia kandunganya pun sudah 9 bulan, dirinya hanya perlu menunggu hari untuk bayi ini keluar dari perutnya.
"Nah sekarang udah rapih barang-barang yang mau dibawa. Jadi nanti kalo semisal lo udah mules-mules kita langsung bisa kerumah sakit" ten tersenyum sangat tulus kepada winwin, winwin merasa sangat terbantu dengan adanya ten. Tak tau lagi harus membalas kebaikan ten.
Bahkan johnny yang hanya sebatas teman winwin ikut membantu membiayai kehidupan winwin dan bayinya. Padahal itu bukanlah tanggung jawab nya, winwin menyesal tak bisa bekerja karna traumanya.
Ten menggenggam tangan winwin "nanti setelah baby lahir, gw sama johnny akan bantu ngerawat bayi ini ya" sampai saat ini ten tak mengetahui siapa ayah bayi ini, winwin selalu mengelak jika ten membahas masalah ini. Tapi itu tak ten ambil pusing, dirinya akan tetap ada untuk winwin sampai kapanpun.
"Terima kasih ten, aku yang akan mengurus bayi ini sendiri. Aku tak ingin merepotkan kalian terus, terima kasih karna kalian mau menerima aku selama aku hamil" winwin tak ingin merepotkan johnny dan ten lagi.
"Tapi win..." ten tampak ragu mengucapkan saat winwin menatapnya dengan tatapan memohon. "Okey, tapi ingat kalo butuh sesuatu segera hubungi gw dan johnny"
Winwin mengelus perut ten yang membuncit, usia kandungannya berbeda 3 bulan membuat perut winwin terlihat lebih besar.
"Aku harap bayi ini akan sehat dan tumbuh menjadi anak yang pintar" winwin berdoa untuk bayi ten.
Malam harinya winwin merasakan sakit perut yang teramat, darah mengalir dari jalan lahir bayi. Perlahan dirinya keluar dari kamar menuju kamar ten dan johnny untuk meminta bantuan.
Pintu diketuk pelan oleh winwin, johnny yang belum tertidur terusik dengan segera membuka pintu kamarnya. Betapa terkejut johnny saat winwin dalam keadaan muka yang pucat, dan darah yang mengotori lantai putih apartemennya.
"John, tolong....hikss...sakit" johnny memegang pinggang winwin, menahan berat badan winwin agar tak terjatuh.
"Tahan sebentar win, sebentar... sayang bangun winwin ingin melahirkan" johnny sedikit berteriak memanggil ten yang tertidur.
Ten bangun dengan segera mengambil tas yang berisi keperluan winwin dan bayinya. Sedangkan johnny menggendong winwin untuk segera dilarikan kerumah sakit.
Disini winwin sekarang, dirinya berjuang mempertaruhkan nyawanya untuk bayi yang dirinya kandung. Winwin tak menyangka, sebentar lagi dirinya akan menjadi orang tua. Winwin mendengar dengan seksama instruksi dokter yang membantunya melahirkan.
Winwin sedih, dirinya tak ada yang menemani. Winwin benar-benar merasakan sakit yang teramat, tak ada kata cinta bahkan penenang untuknya. Hanya suara dokter serta suster yang menyemangatinya. Winwin hanya tinggal selangkah lagi untuk bebas dari belenggu bayi tak bersalah ini.
Bayi itu keluar dengan sempurna, winwin memejamkan matanya lelah. Suara tangis mulai memasuki indra pendengaran, bayinya menangis dengan nyaring.
Sayup-sayup winwin mendengar, bayinya berjenis kelamin laki-laki dan gender keduanya adalah submissive seperti dirinya. Setelah dibersihkan bayi itu dibawa dokter kesamping wajah winwin, winwin dapat melihat bayinya yang mungil, kulitnya memerah. Bibir tipis yang memerah membuat bayinya sangat cantik. Winwin menangis tak menyangka bayi yang tak diharapkan olehnya sudah lahir.
Jujur winwin punya banyak kesempatan untuk menggugurkan bayi ini, tapi entah kenapa winwin berfikir untuk mempertahankan bayi ini karna dirinya punya hak untuk hidup. Walau nanti bayinya tak hidup bersamanya.
""
Sudah seminggu semenjak dirinya melahirkan dirumah sakit. Winwin kembali keapartemennya bersama bayi kecilnya.
Dirinya merawat bayi ini sebelum dirinya berpisah dengan bayi nya. Winwin tak menamai bayinya, masih bingung harus dinamakan apa. Dengan sisa waktu yang tak banyak winwin merawat bayi yang masih memerah, bahkan bayinya masih perlu asi dari dirinya.
Jujur berat untuk winwin melihat wajah bayinya, sangat mirip dengan orang itu. Setelah memandikan bayinya winwin bergegas memakaikan pakaian hangat agar bayinya tak kedinginan.
Winwin menangis, menatap bayinya keputusannya sudah bulat. Winwin tak mau di cap sebagai orang kotor, dirinya ingin kembali ke kehidupan normal dimana sebelum ada bayinya. Winwin ingin bekerja, winwin ingin sukses. Dan menurutnya bayinya ini adalah penghalang dari semua hal yang ingin dirinya capai.
Dengan perasaan yang bercampur, winwin mengunjungi sebuah komplek yang berisi villa-villa orang kaya. Dimana letaknya sangat jauh dari hiruk pikuk kota. Winwin membawa bayinya beserta perlengkapannya untuk ditaruh didepan gerbang villa.
Winwin memutuskan untuk menaruh bayinya didepan gerbang. Winwin menatap bayi mungilnya, dirinya menutupi bayinya dengan selimut hangat. Tak lupa beberapa mainan dirinya taruh, sebenarnya winwin tak tega tapi dirinya harus. Daripada dirinya yang tersiksa terus menerus melihat bayinya yang membuat traumanya kembali.
Setelah mencium kening anaknya, winwin bergegas pergi meninggalkan bayi yang tak bersalah menjadi korban atas keegoisannya.
Satpam penjaga villa itu tercenggang ketika menemukan bayi didepan gerbang villanya. Bayi itu menangis kencang, siapa yang tega membuang bayi cantik ini begitu saja?
Bunyi klakson membuat atensinya teralihkan, sambil membawa box bayi itu. Satpam penjaga villa membuka pintu untuk sang tuan pemilik villa.
"Tuan saya menemukan bayi didepan gerbang" satpam itu segera menghampiri yuta, dirinya bingung harus diapakan bayi mungil ini.
Yuta mengambil bayi itu kedalam gendonganya, dari yang tadinya menangis kencang bayi itu diam. Yuta menenangkan bayi mungil itu dengan sabar. Setelah dilihat lebih teliti, kulit bayi itu mulai membiru bayi itu sudah terlalu lama diluar. Membuat tubuh bayi ini kedinginan.
"Hubungi dokter, lalu segera kau cek cctv dan cari siapa pelaku yang membuang bayi ini" yuta segera membawa masuk bayi kecil itu, dirinya tak tega melihat bayi tak bersalah ini menjadi korban dari orang tuanya.
Walau yang baca cerita ini masih sedikit banget,aku akan tetep up ya.
Jangan lupa untuk Vote dan Comment 💚
KAMU SEDANG MEMBACA
Baby By Me ! | Yuwin
FanfictionYuta tak tau takdir membawanya kepada renjun. Anak yang dirinya temukan berada di wilayah villa tempat menetap sementara yuta, renjun ditinggalkan begitu saja oleh orang tua kandungnya. Awalnya yuta sama sekali tidak ingin renjun terus bersamanya...
