Yuta tak tau takdir membawanya kepada renjun. Anak yang dirinya temukan berada di wilayah villa tempat menetap sementara yuta, renjun ditinggalkan begitu saja oleh orang tua kandungnya.
Awalnya yuta sama sekali tidak ingin renjun terus bersamanya...
Doyoung bersenandung, menikmati udara pagi yang masuk melalui jendela yang sengaja dibuka olehnya.
Dirinya nampak sibuk menyiapkan bahan mentah untuk disulap menjadi masakan yang menggugah selera.
Harum masakan yang dibuatnya, menebar diseluruh penjuru dapur. Setelah menyelesaikan masakan yang dibuatnya, dirinya melepas celemek yang melekat pada tubuh rampingnya.
Bergegas keatas untuk membangunkan sikembar.
Nampak keduanya masih terlelap dalam mimpi indah mereka, sangat menenangkan melihat keduanya tertidur damai sambil berpelukan.
Doyoung mengusap kepala mereka, nampak jeno terganggu dengan usapan itu.
"Selamat pagi nono kesayangannya buna!!" Doyoung menyapa yang tertua saat yang muda membuka mata perlahan.
Jeno menggeliat, dirinya Menyembunyikan matanya yang memang hanya segaris jika tersenyum.
"Pagi buna!!" Jeno mencuri kecupan pada pipi bunanya, doyoung juga nampak membalas dengan mencium kening anaknya.
Sekarang atensinya beralih pada jaemin, anaknya yang satu itu nampak masih saja pulas tertidur. Jaemin salah satu tipe yang sangat susah untuk dibangunkan, terkadang doyoung lelah menghadapi jaemin.
Dirinya harus ekstra sabar menghadapi anak submissivenya yang bisa saja menjadi sensitive jika doyoung salah-salah dalam berkata atau bersikap.
"Nana sayangnya buna, ayo bangun! Nana anak pintarnya buna, ayo sayang bangun!" Doyoung sedikit mengguncang badan jaemin.
Jaemin nampak sedikit terusik, tapi belum juga bangun.
"Nana sayangnya buna, ayo bangun nak! Kita sarapan dulu..."
Jeno membantu bunanya membangunkan jaemin dengan menggoyangkan hidung dan juga mulut jaemin dengan tangannya.
Hal itu membuat hidung jaemin gatal serta mulutnya dibuat bergerak tak nyaman.
"Ishh...buna!...yung! Nana macih mau bobo!" Jaemin merengek dalam tidurnya, tak ingin bangun karna masih mengantuk.
"Ayo nana, kita salapan dulu. Nanti macakan buna kebulu dingin!"
Jaemin duduk, anaknya nampak akan menangis. Benar saja, kini jaemin menangis dengan kencang meluapkan emosinya yang dibangunkan dengan paksa oleh jeno dan juga doyoung.
...
Setelah drama panjang yang terjadi untuk membujuk jaemin, kini ketiganya turun menuju dapur.
Jeno dan jaemin didudukkan pada kursi mereka masing-masing. Sementara doyoung sibuk mengambil makanan kedalam piring anaknya untuk dimakan.
Ting! Nong! Ting! Nong!
"Makannya pelan-pelan saja! Buna akan kedepan untuk membuka pintu!"
Bel rumah berbunyi, doyoung bergegas menuju pintu depan untuk menyambut tamunya.
"Selamat pagi!"
"Pagi juga hyung..." doyoung mengusap kepala anak-anak yang lebih pendek darinya.
"Wah!! Kau tak perlu repot-repot membawa ini untukku..." Doyoung menerima buket bunga yang lumayan besar dari tamu laki-lakinya dengan senyum yang lebar tercetak pada wajahnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.