Prolog

1.6K 143 17
                                        

Taufan tidak pernah membaca novel itu sendiri. Dia hanya mendengar ceritanya dari mulut orang lain, yang penuh semangat menceritakan dengan detail setiap adegan di dalam novel tersebut. Sebuah novel yang menceritakan perebutan tahta dengan genre fantasi petualangan. Novel yang menarik jika kau menanyakan pendapat Taufan, tetapi tak begitu menarik hingga Taufan ingin membacanya.

Bukan karena jalan ceritanya yang membosankan, karena sesungguhnya novel itu memiliki apa yang Taufan sukai di dalamnya. Sihir, keajaiban Dewa-Dewi, hewan-hewan ajaib dan banyak petualangan. Terdengar sangat menarik bukan? Tentu saja ini akan menjadi novel yang hebat jika saja akhir dari novel tersebut juga sama hebatnya dengan isi dari novel tersebut.

Sayangnya ini hanya salah satu dari sekian banyak novel sampah lainnya. Sebuah novel dengan akhir yang membuat para pembaca akan merasakan amarah dan melontarkan makian. Ya, sebuah novel dengan akhir yang buruk dimana sang pemeran utama mati terbunuh.

Kalian tidak salah membacanya, memang benar jika pemeran utama dalam novel itu akan mati terbunuh. Dan yang membuat lebih buruk adalah, dia terbunuh saat hari penobatannya, yang adalah tujuan sang pemeran utama sedari awal. Ini seperti.. untuk apa membuat pemeran utama melalui berbagai kesulitan untuk mencapai tujuannya jika pada akhirnya hanya akan dibunuh?

Untungnya, bukan Taufan yang membaca cerita itu. Jika saja dia yang membacanya, dia mungkin akan memuntahkan darah saking marahnya. Malah dia akan mengirim rangkaian kutukan pada penulis novel tersebut. Jadi, Taufan berniat melupakan isi novel yang tidak menyenangkan itu lalu melanjutkan kehidupannya seperti biasanya.

Lalu kenapa Taufan malah terbangun di tempat ini?

Ini bukan kamarnya. Kenapa dirinya bisa terdampar di tempat ini? Sebuah ruangan yang asing dan belum pernah dia lihat. Kamar ini begitu luas dengan dekorasi ruangan yang terlalu mewah untuk dirinya yang hanya mahasiswa biasa.

"Ini dimana?!" pikir Taufan.

...

Ini bukan kamarnya. Bukan tempat tinggal. Dan bukan dunianya.

Bendera berwarna biru dengan lambang seekor burung phoenix yang memegang pedang terlihat hanya mengejek Taufan akan situasinya saat ini.

Burung Pheonix yang memegang pedang.

Hanya satu hal yang terpikirkan oleh Taufan saat melihat lambang tersebut.

Ignisia.

Sebuah Kerajaan yang dikenal sebagai Kerajaan Api dengan Ignis sang Dewa Api sebagai pelindung Kerajaan ini. Sebuah Kerajaan dengan 7 pangeran di dalamnya dengan kekuatan yang berbeda, yang sayangnya hanya sang Pangeran Keempat yang memperoleh berkah dari Dewa pelindung Ignisia. Hanya dia yang memiliki kekuatan api yang sesuai dengan kepercayaan dan tradisi dari Kerajaan Ignisia.

Apa lagi yang lebih buruk dari memasuki sebuah novel?

Memasuki novel yang tak pernah kau baca.

Terlebih jika tubuh yang kau tempati saat ini adalah seorang Pangeran yang terbuang dan tak dipedulikan oleh saudara-saudaramu yang lain.

"Ini akan merepotkan."

Bagaimana caranya kembali ke dunianya sendiri? Seingatnya, novel ini tak memiliki akhir yang baik. Pemeran utama dalam cerita ini—Halilintar—yang adalah Pangeran Pertama Kerajaan Ignisia, akan mati terbunuh pada hari penobatannya sendiri.

Mungkinkah dia harus memastikan Halilintar dapat naik tahta dengan aman agar bisa kembali ke dunianya sendiri?

"Akan aku pastikan Halilintar berhasil naik tahta dengan aman. Aku akan menyelamatkanmu."

Taufan akan mempertaruhkan segalanya untuk memastikan Halilintar naik tahta dengan aman. Dengan setiap langkah yang diambilnya, dia harus memecahkan misteri-misteri yang mengancam Kerajaan dan menguak rahasia yang akan mengubah jalan cerita dari novel ini.



Boboiboy Fanfiction

© Boboiboy | Animonsta Studio

A/N: seluruh cerita ini merupakan karangan semata dan penulis tidak mengambil keuntungan dari penulisan cerita ini. Apabila ada kesamaan ide, nama tokoh atau tempat, semua itu murni ketidaksengajaan.

Di Bawah Langit yang SamaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang