Bagian 45 : Tanah Tak Bertuan V

226 40 16
                                        

Boboiboy Fanfiction

© Boboiboy | Animonsta Studio

A/N: seluruh cerita ini merupakan karangan semata dan penulis tidak mengambil keuntungan dari penulisan cerita ini. Apabila ada kesamaan ide, nama tokoh atau tempat, semua itu murni ketidaksengajaan.

≫ ──── ≪•◦ ❈ ◦•≫ ──── ≪

Suasana hutan rawa itu sunyi tanpa suara. Kesunyian yang tidak Taufan sukai sama sekali. Rasanya seolah akan ada yang nanti melompat dan menyerang mereka. Riak air saat mereka mendayung menuju tempat Pilea dan Siput Merah berada sama sekali tidak cukup untuk mengisi keheningan yang mencekam ini. Tubuh mereka tegang karena kesunyian yang membuat mereka waspada sepenuhnya. Ada sesuatu yang bergerak di dalam air, atau mungkin itu hanya halusinasi mereka semata karena terlampau khawatir. Mereka sudah mendekati tempat di mana Pilea tumbuh, tangan Taufan berkeringat dan gemetar yang berusaha dia sembunyikan dengan mendayung rakit mereka menuju tujuan.

Halilintar memberi arahan agar mereka mulai melambatkan laju rakit mereka, akar-akar pohon di mana Pilea tumbuh tampak lebih mengerikan dari dekat. Akar-akar itu mencuat dari air seperti ular raksasa yang saling melilit, tebal, bengkok dan dipenuhi lumut. Beberapa menggantung rendah dengan bentuk menyerupai jemari kurus yang tidak manusiawi. Di sela-sela akar itu, Pilea tumbuh dengan subur. Daun hijau kecilnya berbentuk bulat dan rapat dengan batang berwarna putih transparan yang tampak rapuh. Terdapat pula buah-buah lonjong berwarna hijau yang menggantung ke bawah pada tangkainya.

"Kau bilang siput itu memakan daun-daun itu 'kan?" Halilintar bertanya.

"Menurut buku yang aku baca, iya." 

Taufan meraih ke dalam tasnya, mencari-cari wadah yang tepat untuk menyimpan Pilea mengingat tanaman itu merupakan tanaman beracun. Tidak banyak studi yang membahas mengenai tanaman ini karena sulitnya didapat, jadi Taufan tidak begitu tahu apakah tanaman ini hanya beracun saat dimakan ataukah akan meninggalkan racunnya saat diambil atau ada mekanisme pertahanan diri yang mungkin membahayakannya dan Halilintar—mengingat mereka berada di Tanah Tak Bertuan saat ini. Termasuk dengan Siput Merah yang juga harus Taufan ambil.

Mereka juga harus mewaspadai makhluk apapun yang ada di sekitar rawa ini, jangan sampai peristiwa ketika mengambil Tetesan Matahari terulang lagi. Dia benar-benar tidak mau melawan apapun lagi, terlebih di rawa seperti ini.

Memakai sarung tangan khusus yang Taufan 'pinjam' dari rumah kaca milik Ibunya dan pisau milik Halilintar yang sudah dicuci secara sembarangan untuk memanen Pilea, Taufan memandang kakaknya yang kemudian menganggukkan kepalanya. Rakit semakin dekat dengan tempat Pilea tumbuh dan dihentikan oleh Halilintar setelah memastikan Taufan bisa meraihnya.

Taufan bukan ahli dalam tanaman seperti adiknya, Duri, dan Ibu mereka, tetapi dia cukup tau dasar-dasar dalam menangani tanaman beracun. Yang paling utama adalah meminimalkan kontak langsung terhadap tanaman itu dengan kulit. Semoga saja sarung tangan yang dia kenakan ini bisa mengatasi racun Pilea yang masih menjadi pertanyaan bagi Taufan. Pilea bukan tanaman yang besar, tetapi mereka tumbuh bergerombol, Taufan meraih tanaman itu dan mulai memotongnya dengan perlahan. Tanaman itu tampaknya memiliki mekanisme entah pertahanan atau proses penyebaran benih, tetapi saat Taufan tidak sengaja menyentuh buahnya, benda itu meledak dan menyemburkan biji kemana-mana. Taufan terlalu terkejut, tapi dia berhasil melindungi dirinya sendiri dengan perisai angin. Ini membuatnya semakin berhati-hati mengambil tanaman tersebut.

Yang dibutuhkan dari Pilea hanya bagian daunnya, jadi tidak perlu mengambil buahnya. Taufan melakukan tugasnya secepat mungkin, dia sudah gelisah sejak tadi, dan Halilintar tampak sama dengan dirinya. Taufan sudah membotolkan daun-daun Pilea ke dalam botol kaca yang dia bawa, lalu memasukkannya ke dalam tasnya. Namun, dia masih belum menemukan Siput Merah di antara dedaunan Pilea padahal dikatakan jika Pilea merupakan makanan hewan itu.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 01 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Di Bawah Langit yang SamaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang