Boboiboy Fanfiction
© Boboiboy | Animonsta Studio
A/N: seluruh cerita ini merupakan karangan semata dan penulis tidak mengambil keuntungan dari penulisan cerita ini. Apabila ada kesamaan ide, nama tokoh atau tempat, semua itu murni ketidaksengajaan.
≫ ──── ≪•◦ ❈ ◦•≫ ──── ≪
"Yang Mulia, mengapa anda tidak meminta Maripos untuk membawakan buku-buku ini? Dibanding datang langsung ke tempat ini, bukankah lebih baik jika anda menyuruh Maripos yang melakukannya?"
"Hm? Aku hanya ingin memeriksa beberapa hal. Lagi pula sudah lama aku tidak keluar, jalan-jalan sedikit akan menyenangkan."
Kapten Fang tidak mengatakan apapun lagi. Satu hal yang aku suka dari Kapten Fang adalah dia tidak banyak bertanya. Jika aku pergi bersama Maripos, dia pasti akan berusaha untuk mengulik apapun yang aku katakan hingga ke akarnya. Dan dia pintar dalam melakukan hal itu hingga membuatku takut tanpa sengaja membocorkan mengenai identitasku. Aku tak tau apa yang akan mereka lakukan jika tau aku bukan Taufan, Pangeran mereka, tetapi aku tau jika hal itu tak akan berakhir dengan baik. Kemungkinan besar mereka akan menganggapku sebagai entitas jahat yang memiliki tujuan jahat terhadap Ignisia, atau bahkan lebih buruk lagi. Jadi aku harus berhati-hati agar tidak membocorkan identitasku sendiri.
"Yang Mulia, apa anda ingin beristirahat sejenak?" Kapten Fang bertanya. Dari air mukanya dia terlihat khawatir padaku, yang tidak aku salahkan karena kini aku sudah terengah-engah hanya karena berjalan dari perpustakaan menuju pintu keluar. Sialan, kenapa tempat ini begitu besar? Apa yang orang-orang pikirkan saat membangun istana ini?
"Tidak apa-apa, aku hanya sedikit kelelahan."
Itu adalah kebohongan, rasanya aku akan segera mati hanya karena berjalan. Astaga tubuh lemah ini benar-benar.
"Saya benar-benar tidak bermaksud lancang, Yang Mulia, tetapi anda tidak terlihat baik-baik saja." Kapten Fang berkata.
Apakah aku terlihat seburuk itu? Kupikir aku sudah lebih ahli dalam menyembunyikan keadaanku, ternyata dia masih bisa saja melihat menembus diriku. Aku ingin mengikuti sarannya, untuk beristirahat sejenak karena aku memang kelelahan. Namun sedari tadi aku merasa tidak nyaman, perasaan tidak tenang yang aku tak mengerti mengapa. Aku hanya ingin kembali ke kediamanku saat ini secepat mungkin. Berada di tempat ini lama-kelamaan membuatku merasa rentan dan tidak aman. Entah ini perasaan Taufan asli atau perasaanku sendiri, hanya saja sejak keluar dari perpustakaan, aku terus merasakan perasaan ini. Apakah ini yang mereka namakan dengan firasat buruk?
"Tidak masalah, aku memang cukup lelah sekarang, tapi aku ingin segera kembali."
Kapten Fang menatapku sejenak, dia tak mengatakan apapun yang membuat aku berpikir jika pemuda ini mungkin tidak mempercayai alasanku walau apa yang aku katakan adalah kebenaran.
"Apa anda ingin saya menggendong anda, Yang Mulia?"
Aku berdehem untuk menyembunyikan tawaku. Entah mengapa aku merasa lucu dengan cara Kapten Fang menawarkan untuk menggendongku. Wajahnya datar tanpa ekspresi dengan kedua tangan memegang beberapa buku. Bagaimana pemuda ini mengharapkan akan menggendongku saat membawa buku-buku seperti itu?
Sepertinya menyadari perkataannya, Kapten Fang mengalihkan pandangannya dariku. Berpura-pura tak ada yang terjadi padahal telinga memerah karena malu. Aku menertawakan kejenakaan pemuda itu. Tak peduli seperti mau dilihat dari segi manapun, Kapten Fang baru berusia 18 tahun dan dia adalah seorang manusia yang mungkin akan melakukan kesalahan konyol suatu hari nanti. Dan hari ini adalah salah satunya. Aku ingin menggodanya, tetapi Kapten Fang tidak seakrab itu denganku. Tidak seperti Maripos, Kapten Fang cenderung membuat batasan antara kami. Mungkin ini karena aku adalah Pangeran sementara dia adalah pengawal pribadiku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Di Bawah Langit yang Sama
Fanfiction~"Nyatanya, kita semua berada di bawah langit yang sama, bukan begitu, Taufan?"~
