Boboiboy Fanfiction
© Boboiboy | Animonsta Studio
A/N: seluruh cerita ini merupakan karangan semata dan penulis tidak mengambil keuntungan dari penulisan cerita ini. Apabila ada kesamaan ide, nama tokoh atau tempat, semua itu murni ketidaksengajaan.
≫ ──── ≪•◦ ❈ ◦•≫ ──── ≪
Untuk kesekian kalinya, aku menatap tanda yang ada di punggungku melalui pantulan cermin. Aku tak begitu penasaran pada awalnya, tetapi setiap kali Maripos membantuku berpakaian atau mandi, dia akan selalu menyentuh tanda itu. Setiap kutanya mengapa dia begitu tertarik dengan tanda yang ada di punggungku, dia akan menjawab jika dia ingin tau dari mana asalnya tanda itu. Padahal aku sudah mengatakan jika aku tau, aku akan langsung memberitaunya.
Tanda berbentuk sepasang sayap burung berwarna biru. Biru, ya. Benar juga, saat aku menggendong Maripos menuju kota, bukankah Blue ikut dengan kami? Lalu mengapa saat aku terbangun, dia sudah tidak ada? Apa burung itu telah kembali ke tempat asalnya? Lagipula apa yang sebenarnya dia lakukan di sana? Hutan itu sangat jauh dari tempat aku membebaskannya. Bagaimana dia menemukan kami di hutan itu, masih menjadi misteri bagiku.
Aku kembali menatap punggungku, kali ini jauh lebih rendah. Tanda berbentuk pusaran angin yang ada di tubuh ini terlihat menyedihkan jika ingin dibandingkan dengan milik Duri. Namun berdasarkan perkataan Maripos, warnanya telah kembali karena aku mulai menggunakan kekuatanku. Apa itu berarti warnanya akan menjadi secerah milik Duri jika aku terus menggunakan kekuatanku?
Hah... dunia ini memang penuh misteri.
Ketika aku keluar dari kamar mandi, aku terkejut mendapati Halilintar telah duduk dengan santai pada salah satu kursi dan tengah membaca buku yang semalam kubaca bersama Maripos. Pemuda itu menoleh begitu mendengar pintu terbuka, dia tersenyum hangat seperti yang selalu dia lakukan saat bersamaku, "Kau memiliki pilihan yang menarik dalam buku, Taufan."
Eh?
Eh?!
AAA!! Itu novel bodoh tentang kisah percintaan tidak masuk akal yang ditulis oleh penulis yang terlalu suka berkhayal!!
"Tidak! Kau salah paham! Aku tidak menyukai buku seperti itu! Aku hanya membacanya karena pelayan di Kediaman Count Balakung merekomendasikannya!"
Halilintar tertawa, dia menertawakan aku yang mencoba menjelaskan mengapa aku membaca buku itu. Astaga, rasanya sangat memalukan. Mengapa aku setuju membaca buku itu? Ah, benar. Itu karena Tarisa—gadis pelayan yang aku sandera—mengatakan itu buku yang menarik. Nyatanya isi buku itu benar-benar omong kosong! Kisah cinta seorang gadis miskin dan seorang pangeran. Seluruh isinya benar-benar omong kosong! Hanya menekankan kisah cinta mereka dan tidak menyelesaikan masalah yang ada dengan baik! Belum lagi banyak adegan yang sangat ambigu di dalamnya. Sungguh memalukan Halilintar tau aku membaca sesuatu seperti itu!
"Ya, tidak ada yang salah dengan membacanya, mungkin saja kau berharap menemukan gadis sepertinya?" Senyuman pada wajah Halilintar terlihat tidak menyenangkan. Seperti dia sedang menggodaku saat ini.
"Atau kau ingin menemukan sang Pangeran?"
Apa-apaan itu?!
"Ngomong-ngomong, kenapa kau disini, Yang Mulia?"
Halilintar menutup buku di tangannya, "Ah, aku ingin mengajakmu jalan-jalan."
"Jalan-jalan?"
"Iya. Bukankah aku berjanji akan membelikan buku baru untukmu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Di Bawah Langit yang Sama
Fanfiction~"Nyatanya, kita semua berada di bawah langit yang sama, bukan begitu, Taufan?"~
