Boboiboy Fanfiction
© Boboiboy | Animonsta Studio
A/N: seluruh cerita ini merupakan karangan semata dan penulis tidak mengambil keuntungan dari penulisan cerita ini. Apabila ada kesamaan ide, nama tokoh atau tempat, semua itu murni ketidaksengajaan.
≫ ──── ≪•◦ ❈ ◦•≫ ──── ≪
"Bagaimana kau tau tempat ini aman?"
Ace menatapku sejenak, dia kemudian mengalihkan pandangannya dan menatap ke sudut ruangan yang tidak disinari cahaya api. Raut wajah remaja itu nampak penuh kesedihan begitu tiba-tiba. Aku tidak menanyakan sesuatu yang salah 'kan?
"Aku... ini tempat persembunyianku dan saudaraku. Dulunya."
"Dulunya? Apa yang terjadi pada saudaramu?" Apa saudaranya sudah meninggal?
Ace menghela nafas, "Tidak ada yang terjadi padanya, jika kau berpikir dia sudah mati, singkirkan pikiran itu dari kepalamu," Aku menyengir mendengarnya. Anak ini bisa saja menebak pikiranku, "Dulu kami sering datang ke kota ini. Dia yang pertama kali menemukan tempat ini dan kami sering bersembunyi disini hingga Ayah datang mencari kami."
"Oh? Kau bukan penduduk asli Kota Fontis?"
"Bukan, tapi aku sering datang ke kota ini."
"Apa kau selalu datang dengan orang tuamu?"
"Tidak, aku datang sendirian."
Seorang remaja bepergian seorang diri ke kota lain. Aku menggeleng pelan, orang tua anak ini sangat tidak bertanggung jawab. Tapi mungkin saja itu karena dia berasal dari kota di dekat sini dan mungkin karena penduduk Kota Fontis adalah orang yang damai, orang tuanya percaya tidak akan ada yang terjadi pada anak mereka jika dia datang ke tempat ini. Mungkin orang tuanya adalah pedagang, karena itu mereka sering datang ke tempat ini.
"Lalu, bagaimana tempat ini menjadi tempat yang aman? Bangunan ini nampak sangat tua, seperti sudah ditinggalkan puluhan tahun lalu dan terlihat akan hancur kapan saja."
"Ada mantra perlindungan di bangunan ini yang melindungi dari serangan dari luar."
Ah... pantas saja dia menyuruhku untuk membawanya ke tempat ini. Ya, untunglah jika seperti itu. Aku tak tau berapa lama waktu yang kami habiskan di tempat ini, tapi saat aku hampir ketiduran, aku mendengar suara pukulan yang sangat keras. Membuatku melompat dari tempatku. Ace juga melakukan hal yang sama. Aku menjadi khawatir, apa kami telah ditemukan? Apa itu orang berbaju hitam tadi? Aku melihat Ace, ekspresinya terlihat masam. Lebih seperti dia kesal dan bukan khawatir.
"Kau yakin tempat ini aman 'kan?"
Ace menghela nafas, "Sebagian besar."
Sebagian besar?! Kau baru mau mengatakannya sekarang?!
Suara ledakan itu terdengar lagi, membuatku semakin khawatir. Namun Ace tidak terlihat khawatir. Dia mengacak-acak rambutnya, sepertinya sedang frustasi. Tanpa mengatakan apapun, dia berdiri dan berjalan ke arah pintu. Aku memanggilnya untuk menghentikan remaja itu, sayangnya dia tidak mendengarkanku. Pilihanku sekarang hanya bersembunyi dan melihat apa yang remaja itu lakukan. Ace membuka pintu jauh lebih mudah dibandingkan aku, mungkin faktor dia sering datang ke tempat ini jadi dirinya sudah terbiasa dengan pintu yang berat itu. Begitu pintu terbuka, ada kilatan merah menyambar masuk ke dalam ruangan dan menghancurkan tembok. Ace membungkuk untuk menghindarinya, dia terlihat biasa-biasa saja dengan serangan itu. Seperti sudah sering mengalaminya. Itulah saat aku melihat Halilintar berdiri di depan pintu. Dia terlihat baik-baik saja, kecuali pakaiannya sedikit kotor dan rambutnya yang berantakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Di Bawah Langit yang Sama
Fiksyen Peminat~"Nyatanya, kita semua berada di bawah langit yang sama, bukan begitu, Taufan?"~
