Bagian 19: Vayuna II

703 104 23
                                        

Boboiboy Fanfiction

© Boboiboy | Animonsta Studio

A/N: seluruh cerita ini merupakan karangan semata dan penulis tidak mengambil keuntungan dari penulisan cerita ini. Apabila ada kesamaan ide, nama tokoh atau tempat, semua itu murni ketidaksengajaan.

≫ ──── ≪•◦ ❈ ◦•≫ ──── ≪


Blue... atau harus kupanggil Vayuna, rupanya benar-benar seekor—atau seorang, aku bingung yang mana—spirit animal. Juga, ya, dia telah menjalin kontrak denganku tanpa sepengetahuanku. Bagaimana bisa terjadi? Aku baru ingin menanyakannya.

"Tapi bagaimana caramu melakukan itu? Aku bahkan tidak akan tau mengenai tanda di punggungku jika tidak diberitau."

"Kau dalam keadaan terdesak saat itu, apa kau berharap aku mengajakmu mengobrol santai agar kita bisa menjalin kontrak?"

Keadaan terdesak? Kapan tepatnya itu? Apa dia membicarakan ketika aku diserang oleh para bandit itu? Mungkin itu ketika Maripos akan dibunuh dan aku tak dapat melakukan apapun.

"Ah! Jadi itu kau!"

Blue—maksudku Vayuna, tersenyum bangga. Sayapnya mengepak-ngepak seolah ingin menegaskan betapa hebatnya dia. Aku masih kebingungan dengan keseluruhan kejadian yang terjadi saat ini. Bahkan kurasa otakku tidak bisa memproses hal ini dengan baik.

"Tapi... kupikir spirit animal harus melakukan tes pada manusia saat memilihnya?"

"Memang dan kau sudah lulus, karena itu aku bisa menjalin kontrak denganmu."

Tunggu sebentar. Aku lulus tesnya? Tes apa yang dia maksud? Kenapa aku tidak pernah sadar jika aku sedang dites?

"Kapan? Aku tidak ingat pernah mengikuti tes darimu."

Vayuna melompat-lompat kecil di sekitar kamarku. Kemudian dia berakhir melompat-lompat di atas tempat tidurku sementara aku menunggunya menjawab dengan sabar. Tingkahnya ternyata tidak jauh berbeda dari seorang anak kecil ya. Lucu.

"Sebelum kau naik ke Gunung Vintara dan saat kau membebaskanku sebelum meninggalkan Gunung Vintara."

Sebelum naik ke Gunung Vintara? Tunggu, apa itu saat aku terjebak di semacam pembatas aneh itu? Jadi semua itu ulah Vayuna yang ingin mengetesku? Kukira itu adalah ulah jin! Itu berarti jin tidak ada 'kan di dunia ini?

Tapi mengapa dia memilihku? Tubuh yang aku tempati sekarang ini begitu lemah, bukankah dia melihat sendiri aku nyaris mati saat menggunakan windstep?

"Mengapa kau memilihku?"

Vayuna berhenti melompat-lompat. Dia kini berdiri di tempat tidur, kedua matanya menatapku begitu intens, membuatku gugup. Dia memiringkan kepalanya ke kiri dan kanan, tingkah yang sama dengan yang dia lakukan dalam wujud burung.

"Apa kau masih tidak mengerti tesnya?"

"Huh?"

Vayuna menggelengkan kepalanya. Dia duduk di tempat tidurku sambil menyilangkan kedua lengannya dan memasang ekspresi serius. Sayapnya mengepak beberapa kali, membuat beberapa bulu biru beterbangan di kamarku.

"Saat kau mencoba begitu keras untuk keluar dari pembatas itu meski tau tubuhmu begitu lemah dan tak dapat menahan kekuatanmu. Itu adalah tes pertama, untuk melihat apakah kau pantang menyerah atau tidak, untuk mengetahui apa tekadmu bisa dihentikan oleh batasan tubuhmu atau kau akan menyerah begitu saja. Lalu saat kau membawaku ikut serta denganmu dan bukannya meninggalkanku di sana. Itu adalah tes kedua untuk menguji kepedulianmu pada sesama makhluk hidup."

Di Bawah Langit yang SamaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang