Boboiboy Fanfiction
© Boboiboy | Animonsta Studio
A/N: seluruh cerita ini merupakan karangan semata dan penulis tidak mengambil keuntungan dari penulisan cerita ini. Apabila ada kesamaan ide, nama tokoh atau tempat, semua itu murni ketidaksengajaan.
Peringatan: Pada chapter ini akan terjadi pergantian sudut pandang dari sudut pandang orang pertama (Taufan) menjadi sudut pandang orang ketiga.
≫ ──── ≪•◦ ❈ ◦•≫ ──── ≪
Taufan.
Taufan von Ignisia.
Pangeran Kedua Ignisia.
Adik Halilintar yang sebenarnya.
Pemilik asli dari tubuh yang aku tempati saat ini.
Orang di depanku benar-benar dia.
Bukan hanya sebuah pantulan dari cermin yang kulihat setiap hari sejak terbangun di dunia ini. Dia adalah Taufan yang asli.
Aku tak tau apa yang harus aku lakukan atau katakan saat melihatnya. Aneh rasanya melihat pemilik asli dari tubuh yang kau tempati selama berbulan-bulan. Orang yang seharusnya menjalani kehidupan sebagai Pangeran Kedua Ignisia.
Dia tersenyum padaku. Namun hatiku merasa sakit ketika melihat senyumannya.
Baru kini kuperhatikan lebih seksama sosoknya. Kami terlihat begitu mirip juga berbeda di saat yang bersamaan. Dia jelas Taufan asli, pemilik sebenarnya tubuh ini, tetapi dia nampak lebih kurus. Jauh lebih kurus dibanding ketika pertama kali aku terbangun di dalam tubuhnya. Kulitnya begitu pucat, ada kantong mata tebal di bawah matanya, pipinya cekung ke dalam, tulang pipinya menonjol, bibirnya pucat dan pecah-pecah. Lalu matanya...
Walau matanya memiliki warna biru seperti permata, itu tidak berkilauan. Iris biru itu nampak kusam, bagaikan permata lama yang ditinggalkan dalam debu dan kotoran. Senyumannya terlihat palsu. Senyuman lelah yang dipasang hanya karena memori otot.
Matanya juga memancarkan kelelahan yang sama dengan senyumnya. Dia terlihat begitu lelah dan sedih. Taufan di depanku telah kehilangan semua cahaya dari dalam dirinya.
Aku membuka mulutku, tetapi kembali menutupnya karena tak tau apa yang harus aku katakan padanya. Haruskah aku bertanya apa dia yang membuat aku datang ke dunia ini? Atau haruskah aku bertanya apa dia baik-baik saja? Yang manapun terasa salah untuk ditanyakan.
Dia mengulurkan tangannya padaku, aku mengambilnya dengan ragu.
Apa dia menemuiku untuk mengambil kembali tubuhnya? Ataukah dia ingin bertanya padaku apa yang aku lakukan dengan tubuhnya selama ini?
Namun bukan kedua hal itu. Sebaliknya, dengan menggenggam tanganku, dia menarikku berjalan entah ke mana. Langkahnya mantap, penuh keyakinan dan tak sekalipun dia menoleh padaku. Di sisi lain, aku hanya dapat mengikutinya dengan patuh. Selain karena aku tak tau apa yang dia pikirkan, saat ini pula aku masih berada di ruangan putih tanpa ujung.
Kemudian, secara perlahan, muncul beberapa hal di dalam ruang putih ini. Aku melihat kelopak-kelopak bunga berwarna ungu yang terbang ditiup angin, lalu perlahan muncul pohon tempat kelopak bunga itu berasal, angin sepoi-sepoi di kulitku, cahaya mentari hangat yang mencium kulitku, dan aroma bunga yang tercium di udara. Tiba-tiba saja aku sudah berada di bawah pohon yang berbunga ungu di sepanjang tangkainya.
Aku menoleh pada Taufan, ingin bertanya di mana kami dan mengapa kami di tempat ini, tetapi tatapan Taufan hanya fokus pada satu hal, dia tidak sekalipun mengalihkan pandangannya padaku walau masih menggenggam tanganku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Di Bawah Langit yang Sama
Fanfic~"Nyatanya, kita semua berada di bawah langit yang sama, bukan begitu, Taufan?"~
