Bagian 33: Tatapan Biru Es III

797 110 19
                                        

Boboiboy Fanfiction

© Boboiboy | Animonsta Studio

A/N: seluruh cerita ini merupakan karangan semata dan penulis tidak mengambil keuntungan dari penulisan cerita ini. Apabila ada kesamaan ide, nama tokoh atau tempat, semua itu murni ketidaksengajaan.

≫ ──── ≪•◦ ❈ ◦•≫ ──── ≪

Aku benar-benar tidak sadar selama 10 hari penuh.

Aku masih syok dengan keseluruhan kejadian ini. Tak kusangka aku akan tidur—atau bisa kubilang koma—selama itu. Maripos berkata dia sangat takut jika aku tidak bangun lagi, terlebih katanya Halilintar bahkan memanggil Aarav dan Count Balakung untuk membantu membangunkanku, tetapi kedua orang itu juga tidak berhasil melakukan apapun.

Di saat aku berusaha memproses keseluruhan informasi yang aku terima, Halilintar dan Gempa muncul begitu saja di dalam kamarku. Kedua orang itu memiliki kantong mata yang tebal di bawah mata mereka, mata mereka juga terlihat merah seolah mereka telah melewati banyak malam tanpa tertidur.

Tunggu.

Jangan bilang mereka memang tidak tidur selama ini?!

Ugh. Aku merasa sangat bersalah.

Walau rasa bersalahku bisa menyingkir dahulu saat ini, karena kedua orang itu memelukku begitu erat seolah mereka ingin meremas setiap kehidupan yang ada pada tubuhku. Padahal badanku sedang sakit sekali, tetapi kedua orang itu malah memelukku seperti tidak ada hari esok!

"Aku sangat ketakutan, Taufan. Aku berpikir aku akan kehilangan kau lagi." Kata Halilintar.

Dia memegang tanganku begitu erat. Tangannya gemetar, menandakan dirinya yang benar-benar ketakutan memikirkan kemungkinan aku mati. Aku tidak berniat mati dengan cepat, Halilintar. Kau bisa tenang.

Gempa tidak mengatakan apapun, dia sepertinya puas hanya memelukku saat ini.

Ah, padahal aku tidak melakukan apapun, tetapi kenapa aku malah merasa bersalah ya?

Sudahlah. Aku akan menyingkirkan rasa bersalahku dulu saat ini karena itu bukan hal penting. Ada beberapa hal yang harus aku pastikan.

Maripos telah menjelaskan mengenai peristiwa yang terjadi. Memang tidak begitu lengkap karena dia hanya seorang pelayan. Informasi yang bisa dia ketahui begitu terbatas. Itulah mengapa aku harus bertanya pada Halilintar yang memiliki kekuasaan tertinggi di Ignisia setelah Perdana Menteri. Dia harus mau menjelaskannya padaku, aku akan memaksanya jika dia tidak mau.

"Apa yang sebenarnya terjadi? Orang-orang yang menyerang Istana saat itu, siapa mereka dan apa yang mereka inginkan?"

Aku merasakan tubuh Gempa menegang. Dia bahkan mempererat pelukannya padaku. Sepertinya apa yang terjadi di Istana Utama saat itu membuatnya ketakutan sampai saat ini. Apa lagi dia tak ada di Istana Utama saat penyerangan terjadi. Entah kapan dia menerima informasi mengenai keadaanku, tetapi dia pasti ketakutan setengah mati karena hal itu.

"Kami juga tidak tau siapa orang-orang itu. Semua orang yang kami tangkap hidup-hidup, ditemukan tewas di dalam sel mereka keesokan harinya. Mereka semua memakan racun yang disembunyikan di bawah lidah mereka. Mayat mereka sudah diperiksa, tetapi tidak ada satupun tanda pada tubuh mereka yang dapat menjelaskan identitas mereka. Kami juga sudah memanggil para ahli untuk menangani kasus ini. Penyerangan yang terjadi saat para bangsawan berkumpul, terlebih mereka menargetkan kedua pangeran, termasuk dalam kejahatan berat yang dianggap sebagai penghinatan. Kami akan mengerahkan semua yang kami miliki untuk menemukan pelakunya."

Di Bawah Langit yang SamaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang