Boboiboy Fanfiction
© Boboiboy | Animonsta Studio
A/N: seluruh cerita ini merupakan karangan semata dan penulis tidak mengambil keuntungan dari penulisan cerita ini. Apabila ada kesamaan ide, nama tokoh atau tempat, semua itu murni ketidaksengajaan.
≫ ──── ≪•◦ ❈ ◦•≫ ──── ≪
Kondisi Ratu dirahasiakan dari publik.
Orang-orang hanya mengetahui Ratu sedang kurang sehat dan harus memulilhkan dirinya. Tidak ada yang mengetahui jika saat ini Ratu berada dalam kondisi kritis. Taufan tau alasan pengambilan keputusan itu. Ibu adalah Ratu negeri ini, Ibu Negara dan salah satu pemimpin dari kerajaan ini. Jika orang-orang tau dirinya tengah sakit keras saat ini, maka kerajaan akan dianggap melemah dan akan menimbulkan ancaman dari berbagai pihak. Mereka tidak dapat mengambil risiko dikala Ignisia masih berusaha untuk pulih.
Taufan telah mengerahkan segala yang dia bisa. Dia membantu mengumpulkan dana agar obat bisa diproduksi secara massal, dia bertukar pikiran dengan Halilintar dan Ayah mengenai strategi untuk mengatasi para bandit dan dia telah mulai mengatur rencana untuk pemulihan kerajaan. Penduduk yang terdampak wabah dan menjadi korban dari para bandit perlu mendapat perhatian yang terutama.
Dia harus melakukan apapun demi rakyatnya. Taufan telah menegaskan hal itu berkali-kali di dalam kepalanya, dia tidak boleh bertindak egois. Ibu akan sembuh, Ibu akan baik-baik saja. Sekarang yang harus Taufan pikirkan adalah kerajaannya, rakyatnya. Dia harus melakukan apapun demi mereka, dia tidak boleh terbawa emosinya.
Meski demikian, semua itu sangat sulit untuk dilakukan. Tidak saat Ibu semakin lemah di setiap kunjungannya, tidak ketika bahkan dokter kerajaan tampak mulai menyerah, tidak saat Ayah terlihat akan tumbang kapanpun itu.
Taufan tidak ingin bersikap dewasa. Dia ingin menangis seperti anak-anak pada usianya. Dia tidak mau menopang beban kerajaannya. Dia ingin berbaring di samping Ibu sambil berpura-pura Ibu hanya menderita flu biasa.
Namun, Taufan menelan semua keinginan egois di dalam hatinya dan kembali melakukan tugasnya. Dia adalah Pangeran Ignisia. Pangeran Mahkota Ignisia walau belum resmi. Sejak dia menyandang gelar itu, maka beban itu sudah diletakkan di pundaknya dan dia tidak boleh menolaknya.
...
"Kakak, apa kau memiliki waktu sejenak?"
Gempa menghadangnya saat Taufan dalam perjalanan menuju ruang kerja Ayah. Dari air mukanya, Taufan tau jika apa yang ingin dibicarakan oleh adiknya adalah hal yang penting. Jadi, Taufan memilih untuk meninggalkan pekerjaannya demi sang adik.
Gempa menyeretnya ke ruangan kosong, yang menandakan jika akan terjadi perbincangan serius antara mereka. Di dalam ruangan itu, Halilintar sudah menunggu bersama dengan tumpukan buku yang cukup banyak. Taufan mengenali beberapa buku di antaranya, tentang herba dan penyakit langka yang di benua yang tercatat. Dia tak pernah menyangka akan melihat Halilintar di kelilingi tumpukan buku seperti ini, pikirnya Halilintar hanya tertarik pada pedang dan duel.
Taufan memperhatikan ruangan dengan seksama, dia menyadari peralatan sihir yang membuat ruangan menjadi kedap suara. Walau Taufan memiliki beberapa kecurigaan perihal apa yang ingin dibicarakan oleh kedua saudaranya, dia memutuskan untuk berpura-pura tidak tau terlebih dahulu. Sebaiknya dengarkan mereka menjelaskan motif mereka.
Gempa menutup pintu dan menguncinya.
"Aku tau kau sudah tau apa yang ingin kami bicarakan, Taufan."
Dengan anggukan kaku, Taufan menanggapi perkataan Halilintar. Dia menatap kedua saudaranya ragu-ragu, lalu pada tumpukan buku di sekitar mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Di Bawah Langit yang Sama
Fanfiction~"Nyatanya, kita semua berada di bawah langit yang sama, bukan begitu, Taufan?"~
