Bagian 24: Pahlawan Perkasa I

736 98 40
                                        

Boboiboy Fanfiction

© Boboiboy | Animonsta Studio

A/N: seluruh cerita ini merupakan karangan semata dan penulis tidak mengambil keuntungan dari penulisan cerita ini. Apabila ada kesamaan ide, nama tokoh atau tempat, semua itu murni ketidaksengajaan.

≫ ──── ≪•◦ ❈ ◦•≫ ──── ≪


Aku akhirnya kembali ke Istana Mentari Terbenam setelah Halilintar menahanku di Istana Utama selama dua hari. Dia benar-benar tidak mengijinkanku pergi sebelum mendapat kepastian dari Dokter Kién bahwa keadaanku baik-baik saja. Padahal memarku sudah menghilang dan kakiku tak lagi sakit karena bantuan Duri.

Perjalanan kembali ke Istana Mentari Terbenam jauh lebih heboh dibandingkan ketika datang, dia menugaskan lebih banyak prajurit dari yang sebelumnya dia tugaskan untuk mengawalku ke Istana Utama. Tidak peduli apa yang aku katakan, Halilintar tidak mau mendengarnya. Pada akhirnya aku hanya dapat mengalah dengan kekeraskepalaan Halilintar. Dan jangan tanya, dia menghukum Komandan Kaika karena dianggap tak dapat menjagaku. Sekali lagi aku harus memohon padanya untuk berhenti menghukum orang-orang saat aku terluka karena kesalahanku.

Ngomong-ngomong, selama aku di Istana Utama, Duri dan Solar selalu datang menemuiku. Juga, setelah malam aku menemukan mereka di balkon kamar Halilintar, mereka kembali datang untuk mendengarkan cerita lain dariku. Alasannya mereka kesulitan untuk tidur, walau aku tau sebenarnya itu hanya alasan mereka untuk bisa datang ke kamar kakak tertua mereka.

Halilintar memang memarahi mereka karena kabur dari Istana Mentari Terbit, tetapi dia tetap membiarkan mereka datang. Halilintar itu memang sangat menyayangi adik-adiknya. Hebat sekali dia belum menjadi botak dengan banyaknya tekanan yang dia dapatkan dan tingkah ajaib dari adik-adiknya—termasuk diriku yang selalu membuatnya khawatir.

Ya, pada akhirnya aku senang karena bisa kembali ke Istana Mentari Terbenam. Jauh dari kebisingan dan ancaman untuk kehidupanku.

Pada saat aku memiliki waktu untuk diriku sendiri seperti ini, aku akhirnya bisa memikirkan banyak hal. Salah satunya adalah apa yang aku lihat ketika menatap mata Solar saat pertama kali kami bertemu.

Itu seperti ingatan samar mengenai hal yang telah terjadi bertahun-tahun silam. Tapi, walau ingatan itu terasa begitu samar, aku tau dengan jelas jika pemuda bermata perak itu adalah Solar dan, jika tebakanku benar, semua itu berasal dari ingatan Taufan asli. Yang mana semua itu malah membuatku bertambah bingung.

Jika pemuda itu adalah Solar dan itu berasal dari ingatan Taufan asli, bagaimana bisa semua itu terjadi? Solar dalam ingatan itu adalah seorang pemuda yang mungkin sudah berusia 20-an tahun dan terlihat sangat kurus juga lemah, sementara Solar yang saat ini aku ketahui adalah anak kecil berusia 9 tahun yang suka bersembunyi di balik tubuh kakak tertuanya.

Apa itu adalah pandangan tentang masa depan? Apa Taufan dapat melihat masa depan? Mungkinkah itu masa depan yang menunggu Solar? 

Atau mungkinkah... Taufan asli sebenarnya telah terlahir kembali dan entah bagaimana aku malah memasuki tubuhnya? Maksudku, itu akan menjelaskan mengenai cuplikan ingatan itu yang kulihat itu. Namun itu masih belum menjelaskan mengapa aku bisa berakhir di tubuhnya.

Jika dia memang terlahir kembali—seperti yang banyak kubaca di novel dan komik—mengapa bukan jiwanya yang saat ini berada di dalam tubuh ini? Mengapa malah jiwaku, seorang mahasiswa jurusan seni, yang tidak tau apapun mengenai dunia ini?!

"Vayuna, apa seseorang bisa kembali masa lalu?" Aku bertanya dengan ragu.

"Mana mungkin. Berurusan dengan waktu itu hal yang mustahil bagi manusia. Bayaran karena bermain-main dengan waktu akan sangat mahal. Bisa saja seluruh keberadaanmu dihapus."

Di Bawah Langit yang SamaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang