Bagian 28: Pahlawan Perkasa V

731 102 25
                                        

Boboiboy Fanfiction

© Boboiboy | Animonsta Studio

A/N: seluruh cerita ini merupakan karangan semata dan penulis tidak mengambil keuntungan dari penulisan cerita ini. Apabila ada kesamaan ide, nama tokoh atau tempat, semua itu murni ketidaksengajaan.

≫ ──── ≪•◦ ❈ ◦•≫ ──── ≪


"Bagaimana keadaannya?" Dia bertanya pada dokter wanita di hadapannya. Wanita itu menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, "Saya telah mencoba untuk berbicara dengan beliau, Yang Mulia. Namun apa yang terjadi terlalu berat untuk ditanggung oleh Pangeran Gempa. Saya khawatir hanya dapat membantu sampai di sini."

Mendengar perkataan wanita itu, tangannya mengepal erat. Apa yang harus dia lakukan sekarang?

Dia memberi anggukan pada wanita itu, mengizinkannya untuk pergi. Selepas kepergian dokter wanita tersebut, dia berjalan mondar-mandir, gelisah dengan pikirannya yang kalut. Tangannya mencengkram rambutnya kuat, seolah menarik rambutnya dapat menghilangkan stress yang dirasakannya. Apa lagi yang harus dia lakukan untuk adiknya? Apa lagi yang harus dia lakukan untuk menjaga mereka semua?

'Aku tidak bisa melakukan ini, Ayah. Aku tidak sekuat yang kau katakan. Aku membiarkan semua ini terjadi. Ini semua salahku.' Pikirnya.

Dia hanya dapat menutup mulutnya untuk menahan isakan yang ingin keluar. Matanya terasa panas karena air mata. Dia duduk di lantai, bersandar pada pintu di belakangnya. Apa yang harus dia lakukan sekarang?

...

"Singkirkan semua ini! Aku tidak ingin melihatnya!"

Sekali lagi, dia hanya dapat berdiri diam di sudut ruangan, melihat ketika adiknya yang lemah lembut kini berubah menjadi orang yang pemarah dan kasar. Melempari pelayan-pelayannya dengan apapun yang ada di dekatnya, meneriaki mereka setiap berbuat salah, bahkan tak segan memukul mereka. Dia juga hanya dapat melihat dalam diam saat adiknya mulai memukul dirinya sendiri.

Tak ada yang bisa dia lakukan. Tidak ada hal yang berhasil dia lakukan untuk membantu adiknya. Tak peduli dokter terbaik macam apa yang dia datangkan untuk membantu saudaranya, tak ada yang berhasil.

Ketika malam tiba, dia kembali menyelinap ke kamar saudaranya. Berpikir jika adiknya telah terlelap setelah seharian mengamuk. Nyatanya, sang adik belum tertidur sama sekali. Dia duduk di lantai kamarnya, bersandar pada tempat tidurnya.

Tatapan matanya terlihat kosong, seolah jiwanya telah disedot oleh pencuri jiwa. Tubuhnya yang dahulu tegap dan berotot, kini menjadi layu dan kurus. Benarkah orang ini adalah adiknya? Saudaranya yang selalu tersenyum lembut ketika melihatnya?

"Gempa..."

Dia memanggil, tetapi tak ada respon sama sekali. Dia hanya memutuskan untuk duduk di sisi saudaranya. Mereka larut dalam keheningan selama menit-menit ke depan, hingga kemudian saudaranya mulai bersandar padanya.

"Apa kau mengunjungi mereka lagi?" Suara saudaranya terdengar serak. Suara yang berbeda dari yang dia ingat.

Dia hanya menjawab dengan anggukan. Saudaranya mulai tertawa, tawanya terdengar sumbang dan tak sedap didengar, "Kenapa kau masih melakukannya?"

"Karena mereka saudara kita." Dia menjawab tanpa ragu.

"Hah! Mereka sudah bukan lagi adik kecil yang sama dengan yang kau ingat. Mereka telah menjadi sama dengan orang-orang yang membuangmu! Mereka telah menjadi orang serakah yang menginginkan kekuasaan!"

Di Bawah Langit yang SamaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang