Boboiboy Fanfiction
© Boboiboy | Animonsta Studio
A/N: seluruh cerita ini merupakan karangan semata dan penulis tidak mengambil keuntungan dari penulisan cerita ini. Apabila ada kesamaan ide, nama tokoh atau tempat, semua itu murni ketidaksengajaan.
≫ ──── ≪•◦ ❈ ◦•≫ ──── ≪
"Kakak, mengapa kau bersikeras membuktikan bukan kami yang melakukannya?"
Benar, mengapa dia bersikeras mempercayai pemuda di hadapannya? Mengapa dia tidak bisa membenci dan menyalahkan mereka seperti yang dilakukan orang-orang? Mengapa dia masih berusaha membuktikan mereka tidak bersalah?
"Karena aku kakakmu dan aku akan selalu mempercayai kalian."
Pemuda itu tersenyum lemah. Tubuhnya kian mengurus dan kulitnya menjadi jauh lebih pucat dari waktu ke waktu. Dia terlihat tidak sehat, padahal selama ini dia tidak pernah memiliki masalah kesehatan. Berada di balik jeruji besi selama hampir dua bulan jelas mengubah banyak hal darinya.
Pemuda itu mengulurkan tangannya melewati sela-sela jeruji besi yang memisahkan mereka. Dan yang dapat dilakukannya hanya memegang tangan itu. Tangan adiknya yang kini nampak seperti tulang terbungkus kulit.
"Aku senang karena memilikimu, kak." Kedua manik perak pemuda itu nampak berkilauan ketika mengatakannya. Dan yang dapat dia lakukan hanya memegang tangan pemuda tersebut dengan erat. Berjanji di dalam hatinya bahwa dia akan melakukan apa saja untuk menyelamatkan mereka.
...
"...AN! ...GERAN! PANGERAN!"
Aku tersadar kembali ketika mendengar suara teriakan itu. Kulihat Maripos yang tampak ketakutan juga khawatir di hadapanku. Dia mengulurkan tangannya dan menyentuh kepalaku, aku meringis sakit karena sentuhannya. Aku menunduk, anak itu masih ada dalam dekapanku. Tubuhnya bergetar hebat, mungkin karena ketakutan atau alasan yang lainnya. Aku memutuskan untuk tidak memikirkan apa yang baru saja aku lihat sebelumnya dan fokus pada anak dalam dekapanku.
"Apa kau terluka?"
Anak itu, atau harus kupanggil... Pangeran Solar, menatapku sejenak. Kemudian dia menundukkan kepalanya dan menggeleng pelan. Aku mengusap rambutnya untuk menenangkan dia, tubuhnya masih gemetaran, pengalaman jatuh dari tempat tinggi itu bukan hal yang menyenangkan. Aku tau karena sudah dua kali aku merasakannya.
"Tidak apa-apa, kau aman sekarang." Bisikku padanya. Kuharap dia tidak keberatan aku menyentuhnya seperti ini. Dia adalah Pangeran termuda dan saudara kembar Duri. Dia juga Pangeran yang begitu pintar dan nantinya akan menjadi saingan Halilintar di masa depan.
Maripos masih melayang-layang di sekitarku untuk memastikan aku baik-baik saja. Aku tertawa kecil, tetapi segera dimarahi Maripos karena katanya tak ada yang lucu. Padahal lucu sekali melihatnya panik seperti ini, dia mengingatkanku pada induk ayam yang sedang menjaga anak ayamnya. Oh, itu induk ayam peliharaan adik keduaku. Bagaimana kabarnya ya? Apa dia masih hidup atau sudah dijadikan semur ayam?
Aku bersyukur pelatihan yang selama ini kujalani dengan Kapten Fang mulai membuahkan hasil. Stamina dan ketahanan tubuhku jauh lebih baik sekarang. Jika tubuh ini masih sama dengan pertama kali aku memasukinya, mungkin aku sudah mati hanya karena tertimbun buku.
Maripos mengambil Solar dari dekapanku, dia menepuk punggung Solar lembut, tetapi menatap tajam padaku seolah menjanjikan akan memberi ceramah panjang lebar mengenai hal ini. Ah, telingaku tidak akan selamat dari ceramahannya. Belum lagi Halilintar yang akan mengoceh panjang lebar mengenai hal ini. Padahal Vayuna di dalam kepalaku sudah berteriak betapa bodohnya aku karena menggunakan diriku sendiri disaat aku bisa saja menggunakan kekuatan angin seperti yang sudah dia ajarkan padaku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Di Bawah Langit yang Sama
Fanfiction~"Nyatanya, kita semua berada di bawah langit yang sama, bukan begitu, Taufan?"~
