Bagian 7: Beruang Emas II

849 114 33
                                        

Boboiboy Fanfiction

© Boboiboy | Animonsta Studio

A/N: seluruh cerita ini merupakan karangan semata dan penulis tidak mengambil keuntungan dari penulisan cerita ini. Apabila ada kesamaan ide, nama tokoh atau tempat, semua itu murni ketidaksengajaan.

≫ ──── ≪•◦ ❈ ◦•≫ ──── ≪


Spirit animal adalah suatu konsep yang dahulu aku anggap sebagai karangan imajinasi orang-orang, karena bagaimana bisa kau mengharapkan untuk percaya jika dirimu memiliki kepribadian atau jiwa spiritual yang sama dengan Binatang? Maksudku, kau adalah manusia, terlahir sebagai manusia dan tumbuh sebagai manusia, mengapa mau menyamakan dirimu dengan Binatang?

Namun rupanya apa yang aku anggap sebagai karangan semata di duniaku adalah hal yang nyata di dunia ini. Aku seharusnya tidak terkejut akan hal ini, karena jika Dewa-Dewi saja nyata, bagaimana bisa hal sepele seperti itu tidak nyata, 'kan?

Meski begitu, konsep spirit animal di dunia ini cukup berbeda dari spirit animal yang aku ketahui di duniaku. Spirit animal di dunia ini semacam roh atau dapat kukatakan perwujudan kekuatan para Dewa-Dewi namun dalam bentuk Binatang. Mereka akan membantu, menjaga dan melindungi manusia yang mereka pilih. Mereka juga bisa meminjamkan kekuatan mereka pada manusia yang mereka pilih. Tentu saja tidak sembarang manusia dapat pilih oleh spirit animal, mereka harus menjadi manusia yang menerima berkat dari Dewa-Dewi. Itupun harus melewati tes terlebih dahulu. Dan setiap tes akan selalu berbeda. Jadi sangat jarang manusia dapat memiliki spirit animal.

Jarang bukan berarti tidak ada. Karena salah satu pemilik spirit animal ternyata adalah saudara Taufan, Pangeran Ketiga Ignisia, Gempa von Ignisia.

Beruang emas yang kukira ingin memakan diriku rupanya spirit animal milik Gempa yang bernama Oak.

Bagaimana aku tau itu milik Gempa? Sederhananya aku mengetahui itu dari Duri dan Halilintar. Tepat ketika aku nyaris pingsan lagi karena beruang tersebut mendekatiku, Duri dan Halilintar datang untuk mengunjungiku. Begitu melihat mereka, beruang tersebut segera menjauh dariku dan memilih mendekati Duri dan Halilintar. Duri meneriakkan nama beruang tersebut dan terlihat sangat bahagia. Bahkan dia berlari dan memeluk beruang yang ukurannya berkali-kali lebih besar dari dirinya. Halilintar juga terlihat santai dengan beruang itu, dia mengusap kepala beruang emas tersebut dan bertanya mengenai kabar sang Pangeran Ketiga, Gempa.

Untuk menenangkan jantungku yang terus berdebar dengan begitu cepat dan mengolah informasi yang baru saja aku dapatkan, aku meminta Maripos untuk mengantarku ke kamar dengan alasan aku mulai merasa pusing dan lelah. Kabar baiknya adalah Maripos segera menuntunku kembali ke dalam istana. Kabar buruknya adalah alasanku menyebabkan Halilintar menjadi cerewet mengenai kesehatanku.

Dan disinilah aku, duduk di tempat tidurku dengan sebuah buku di pangkuan sementara Halilintar juga Duri sedang menikmati teh dan kue. Ah, buku yang aku baca saat ini adalah buku mengenai spirit animal, selain sebagai alibi agar aku tidak diajak bicara, aku juga memanfaatkannya untuk mempelajari lebih lanjut mengenai spirit animal.

Kembali lagi pada beruang emas yang tengah mengunyah batang pohon yang Duri berikan padanya, karena dia milik Gempa, itu berarti dia adalah spirit animal berelemen tanah. Dia memiliki kemampuan yang kurang lebih sama dengan milik Gempa tetapi jauh lebih kuat darinya. Beberapa spirit animal bahkan dapat dikatakan sebagai perwakilan dari para Dewa dan Dewi. Melihat bagaimana hewan itu memiliki tubuh fisik yang jelas bahkan bisa dipeluk juga diusap oleh Duri dan Halilintar, itu berarti dia memiliki kekuatan yang cukup besar untuk bisa mewujukan tubuh fisiknya. Terlebih wujudnya adalah seekor beruang besar yang mungkin tingginya 2 meter! Kemungkinan besar dia adalah spirit animal yang mewakili Terra, Sang Dewa Tanah.

Di Bawah Langit yang SamaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang