Bagian 32: Tatapan Biru Es II

704 113 9
                                        

Boboiboy Fanfiction

© Boboiboy | Animonsta Studio

A/N: seluruh cerita ini merupakan karangan semata dan penulis tidak mengambil keuntungan dari penulisan cerita ini. Apabila ada kesamaan ide, nama tokoh atau tempat, semua itu murni ketidaksengajaan.

≫ ──── ≪•◦ ❈ ◦•≫ ──── ≪

Kedua orang itu, yang kupanggil A dan B, memperhatikan kami dengan waspada. A, yang kupukul kepalanya tadi, menatap tajam padaku. Tangannya menggenggam pedang begitu erat, jika aku salah bergerak sedikit saja, dia pasti akan menyerangku. Sementara B, hanya diam menatap kami. Dia tidak lagi mengatakan apapun setelah berbicara tadi.

Aku tidak memiliki senjata apapun di tanganku, Vayuna tak ada di sini untuk membantu melindungiku, aku baru belajar pedang beberapa bulan belakangan, aku juga tidak sepenuhnya menguasai kekuatan angin milik Taufan. Ini benar-benar pertarungan yang berat sebelah. Apa yang harus aku lakukan dalam situasi ini?

Akan terlalu lama jika menunggu bantuan datang, tetapi aku juga tau aku tidak akan bisa menghadapi kedua orang ini. Aku mundur selangkah, berusaha menjaga jarak dari kedua orang tersebut. Namun gerakanku malah membuat A melompat untuk menyerangku dan Ice. Pada detik-detik itu, kepalaku kosong dan aku tidak bisa memikirkan apapun.

Kukira aku akan mati saat itu. Namun kemudian aku mendengar suara bisikan dari belakangku yang mengatakan, 'dinding es'[1], lalu muncullah dinding es di depanku yang menahan serangan dari A.

[1] dinding es merupakan dinding yang dibuat dari es. Sering digunakan untuk menahan serangan. Ketebalan dinding es tergantung pada orang yang membuatnya, semakin tebal es tersebut maka tingkat kesulitannya semakin tinggi.

Namun tidak ada tempat bagiku untuk terkejut dengan kemunculan dinding es itu. Aku menarik Ice dan memecahkan kaca jendela di belakang kami lalu melompat keluar. Kami jatuh ke bawah karena gravitasi. Pada saat yang singkat itu, aku memeluk Ice seerat mungkin dan terus berdoa di dalam hati agar kami tidak mati hari ini.

"Windshield![2]"

[2] Windshiled merupakan perisai yang dibuat dengan memanfaatkan angin di sekitar. Biasanya berupa pusaran angin yang mengelilingi tubuh penggunanya, tetapi Taufan memilih menggabungkan prinsip windstep, yaitu dengan memadatkan angin di sekitarnya untuk menjadi perisainya.

Cahaya kebiruan menyelimuti tubuhku dan Ice, sama seperti ketika bola api menyerang aku dan Lilia di kota Fontis dahulu. Cahaya kebiruan itu adalah perisai yang terbuat dari angin, memang tidak sepenuhnya bisa melindungiku dan Ice, tapi paling tidak bisa mengurangi dampak yang akan kami terima karena terjatuh.

Tubuh kami membentur tanah cukup keras, rasanya sangat menyakitkan hingga aku ingin menangis. Bahkan setelah melindungi diriku dengan windshield, efeknya masih sesakit ini. Bagaimana jika aku tidak berhasil membuatnya tepat waktu?

Tak ada waktu untuk memikirkan rasa sakit sekarang. Aku kembali menarik Ice untuk berdiri dan mulai berlari. Si A dan B pasti akan mengejar kami. Saat ini yang terpenting adalah bersembunyi dari kedua orang itu sambil menunggu seseorang menyelamatkan kami.

Kami terlalu lambat. Kedua orang itu telah muncul dan mengejar kami. Mereka begitu cepat, bisa menghadang kami dalam waktu singkat.

"Bisakah kalian berhenti berlari dan membiarkan kami mengakhiri semua ini dengan cepat?" B berkata.

Oh, betapa aku berharap aku bisa membuat pisau angin seperti yang dahulu aku lakukan. Namun aku tak tau bagaimana cara melakukannya, aku pula tak tau cara mengontrolnya. Kekuatan Taufan itu terlalu sulit untuk dikendalikan, belum lama aku belajar mengendalikannya dari Vayuna. Hanya dasar saja yang aku kuasai. Ilmu pedangpun tak layakku banggakan. Terlebih saat ini aku tak memiliki apapun untuk kujadikan senjata.

Di Bawah Langit yang SamaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang