Bagian 26: Pahlawan Perkasa III

634 98 37
                                        

Boboiboy Fanfiction

© Boboiboy | Animonsta Studio

A/N: seluruh cerita ini merupakan karangan semata dan penulis tidak mengambil keuntungan dari penulisan cerita ini. Apabila ada kesamaan ide, nama tokoh atau tempat, semua itu murni ketidaksengajaan.

≫ ──── ≪•◦ ❈ ◦•≫ ──── ≪

Aku benci mendatangi tempat di mana aku nyaris mati sebanyak 2 kali, tapi akan aku kesampingkan hal itu dahulu saat ini. Perjalanan menuju Istana Utama diisi dengan keheningan. Maripos memang bertanya apa yang ingin aku lakukan ke Istana Utama, tetapi begitu aku menjelaskan aku perlu menemui Halilintar terkait kasus Beruth, dia diam dan melakukan apa yang aku minta darinya.

Begitu tiba di Istana Utama, aku bergegas turun dari kereta. Mengabaikan Maripos yang meneriakkan aku tak seharusnya berlarian di tengah hujan seperti saat ini. Maafkan aku Maripos, tapi benar-benar tidak bisa menunggu saat ini. Aku merasa harus segera bertemu dengan Halilintar.

Walau Istana Utama begitu besar dan membingungkan bagiku, tetapi untungnya ruang Halilintar itu mudah ditemukan. Juga, saat Halilintar memaksaku tinggal di Istana Utama, aku sering pergi ke ruangannya karena bosan, jadi aku sedikit mengingat jalan menuju ruangannya.

Aku mengabaikan para pelayan yang menatapku dengan berbagai pandangan—juga sedikit menyesal karena aku membuat kotor lantai marmer yang berkilauan ini dengan noda lumpur dan air dari tubuhku. Aku bahkan mengabaikan Maripos yang berlari mengejarku sambil mengomeliku.

Begitu tiba di ruang kerja milik Halilintar, aku dihentikan oleh dua orang penjaga. Mereka menyilangkan pedang mereka di depan pintu, menghalangiku untuk menerobos masuk.

"Pangeran Halilintar tidak mengharapkan tamu saat ini. Harap kembali." Salah satu di antara mereka berkata.

Astaga, kenapa disaat seperti ini?

"Bisakah kau mengatakan jika Taufan ingin menemuinya? Ada sesuatu yang harus aku sampaikan pada Pangeran Halilintar." Kataku.

Namun mereka tetap berdiri di tempat mereka. Mereka kembali mengulang kalimat yang sama, berkata jika Halilintar tidak mengharapkan tamu. Aku tau Halilintar itu sangat sibuk, tapi kenapa di saat seperti ini dia malah tidak menginginkan tamu?

Aku terus mendesak kedua penjaga itu untuk mengijinkanku masuk. Aku mulai kedinginan dengan pakaian yang basah dan aku lelah berdiri, tetapi keduanya tetap tidak membiarkan aku masuk.

Sekarang aku mulai bertanya-tanya apakah mereka tidak mengijinkanku masuk karena memang Halilintar tidak mengharapkan tamu atau mereka tidak mengijinkanku masuk karena mereka sedang meremehkanku.

Perlakuan Halilintar padaku telah membuatku lupa jika tubuh yang kutempati ini adalah milik Taufan, Pangeran yang dibuang oleh kerajaannya sendiri. Setiap sikap hormat yang diberikan oleh pelayan juga penjaga di tempat ini pada kunjunganku sebelumnya, itu karena Halilintar memerintah mereka. Belum lagi Komandan Kaika, yang merupakan ksatria kepercayaan Halilintar, selalu berada di dekatku atas perintah Halilintar.

Sekarang hanya ada diriku dan Maripos, dua orang yang tidak memiliki kekuatan apapun, jelas saja mereka tidak akan menganggap serius diriku.

"Tolong sampaikan saja pada Pangeran Halilintar jika aku ingin menyampaikan sesuatu. Tidak akan lama. Aku berjanji setelah itu akan langsung pergi." Sekarang aku memohon pada mereka. Mengapa mereka begitu keras kepala? Sebegitu rendahkan status Taufan di mata mereka hingga mengabaikanku begini?

Salah satu dari mereka berdecak, air mukanya nampak jelas jika dia kesal padaku yang tak kunjung pergi. Sebelum sempat aku mengatakan sesuatu, Maripos maju dan berdiri di depanku. Aku sempat melihat sekilas bagaimana ekspresi wajah Maripos terlihat seperti siap membunuh seseorang.

Di Bawah Langit yang SamaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang