Bagian 20: Gopal Kumar

676 106 27
                                        

Boboiboy Fanfiction

© Boboiboy | Animonsta Studio

A/N: seluruh cerita ini merupakan karangan semata dan penulis tidak mengambil keuntungan dari penulisan cerita ini. Apabila ada kesamaan ide, nama tokoh atau tempat, semua itu murni ketidaksengajaan.

≫ ──── ≪•◦ ❈ ◦•≫ ──── ≪


Latihan pedang bersama Kapten Fang adalah neraka! Dia benar-benar tidak berbelas kasih dalam melatih diriku. Dia mengajariku kuda-kuda dasar dan menyuruhku mempertahankannya selama satu jam penuh. Lalu menyuruhku mengayunkan pedang dari atas ke bawah berkali-kali. Jika ayunanku terlalu tinggi atau terlalu rendah, dia menyuruhku untuk mengulanginya lagi dari awal. Benar-benar penyiksaan.

Tubuhku sangat sakit setelah selesai latihan, aku bahkan tak sanggup mengangkat sendok saat makan malam hingga harus disuapi oleh Maripos dan tidur jauh lebih awal dibanding biasanya. Keesokan harinya, Kapten Fang masih sama kejamnya. Aku disuruh melakukan hal yang sama dengan yang aku lakukan kemarin.

Aku tau belajar berpedang tidak pernah mudah, tetapi tak kusangka akan seberat ini.

Jika Halilintar yang melatih diriku, apa dia juga akan sekejam Kapten Fang?

"Mungkin ada baiknya anda berhenti, Yang Mulia." Maripos mengatakan hal yang sama untuk kesekian kalinya. Dirinya kini tengah memijat lenganku usai latihan keras yang diberikan oleh Kapten Fang. Sudah seminggu sejak aku mulai berlatih pedang dan selama itu Maripos telah berusaha meyakinkanku untuk berhenti. Dia menganggap diriku yang belajar pedang adalah hal yang berbahaya, bahkan memarahi Kapten Fang ketika hari pertama aku belajar—padahal dia sudah memberiku ijin untuk berlatih.

"Maripos, bukankah aku sudah menjelaskan mengapa aku ingin belajar berpedang?"

"Saya tau itu, Yang Mulia. Namun saya masih merasa lebih baik anda tidak melakukannya. Sebagai gantinya, saya akan berlatih sekeras mungkin agar bisa melindungi anda lebih baik lagi."

Aku melambaikan tanganku, "Aku juga ingin bisa melindungi diriku sendiri dan mungkin suatu saat aku bisa melindungimu juga."

"Yang Mulia... saya hanya berharap anda dapat tumbuh dengan baik dan selalu sehat. Anda tidak perlu memikirkan saya."

Maripos itu orang yang sangat tidak peduli pada dirinya sendiri asalkan Taufan baik-baik saja. Aku kembali mengingat bagaimana dia berjuang mati-matian hanya untuk melindungiku walau tubuhnya sudah tidak sanggup untuk berdiri. Mengapa dia melakukan sejauh itu hanya untuk Taufan?

Malam itu, aku benar-benar berpikir akan kehilangan Maripos. Saat aku menggendongnya untuk mencari bantuan, aku bisa merasakan bagaimana nafas Maripos yang perlahan-lahan mulai melemah. Aku benar-benar ketakutan. Kupikir aku berjalan terlalu lambat, kupikir aku tidak akan bisa mencapai kota yang dia maksudkan, kupikir aku tidak bisa menolongnya. Aku ingat bagaimana aku berusaha menahan air mataku selama berjalan dan berusaha untuk tetap tegar.

Aku tidak ingin Maripos terus seperti itu. Namun aku tau aku tidak bisa meyakinkannya untuk melakukan hal yang sebaliknya. Itulah mengapa aku ingin belajar berpedang, aku ingin bisa melindungi diriku sendiri tanpa Maripos harus mengorbankan dirinya.

"Tidak, aku ingin Maripos selalu ada bersamaku. Jadi aku harus bertambah kuat agar bisa selalu melindungi Maripos juga."

Tatapan mata Maripos terlihat begitu lembut padaku, dia juga tersenyum penuh kasih sayang. Seperti seorang kakak pada adiknya. Seperti tatapan Halilintar padaku.

Di Bawah Langit yang SamaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang