Bagian 25: Pahlawan Perkasa II

694 100 47
                                        

Boboiboy Fanfiction

© Boboiboy | Animonsta Studio

A/N: seluruh cerita ini merupakan karangan semata dan penulis tidak mengambil keuntungan dari penulisan cerita ini. Apabila ada kesamaan ide, nama tokoh atau tempat, semua itu murni ketidaksengajaan.

≫ ──── ≪•◦ ❈ ◦•≫ ──── ≪


Menginterogasi orang ternyata bisa memakan waktu seharian penuh dan membuat kepalamu sakit karena terlalu banyak berpikir. Aku akui jika ketiga orang yang melakukan interogasi adalah professional dalam bidang mereka, tapi orang-orang yang diinterogasi ini juga sangat keras kepala. Mungkin karena mereka merasa mereka memang tidak melakukan kesalahan yang dituduhkan pada mereka. Aku tidak bisa menyalahkan mereka karena hal itu.

"Bagaimana menurutmu, Taufan? Apa ada yang mencurigakan dari mereka semua?

"Aku tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Mereka semua mengakui jika Tuan Muda Beruth bukan tuan muda yang baik—tepatnya sangat buruk. Kebanyakan dari mereka bahkan tidak pernah berinteraksi dengannya tetapi mengetahui seberapa buruk dia. Meski begitu, pengakuan mereka masih belum bisa membuatku menentukan siapa yang melakukannya."

Halilintar tidak mengatakan apapun. Dia mengacak-acak rambutku dan berkata jika aku boleh beristirahat. Aku hanya mengendikkan bahu dan membuat tubuhku sedikit rileks di kursiku. Masih ada seorang lagi yang harus mereka interogasi, tapi aku sudah tidak bisa memaksa otakku untuk menyimak apa yang akan dia katakan. Pantatku sakit duduk seharian ini.

Kenapa hanya untuk menemukan seseorang yang meracuni si bajingan Beruth harus sesulit ini?

Ada 15 orang pelayan yang bekerja di Kediaman Baron Kalns. Seorang Kepala pelayan, seorang pelayan wanita untuk istri Baron, 4 pelayan yang mengurus rumah, 3 juru masak—termasuk Qually, seorang pelayan dapur, 2 orang pelayan meja, 2 tukang kebun dan satu 1 penjaga kandang.

Dari 15 orang itu, yang paling sering berinteraksi dengan Beruth adalah kepala pelayan, 4 pelayan yang bertugas membersihkan kediaman dan 2 orang pelayan meja yang menyajikan makanan. Selain mereka, pelayan lain hanya bekerja pada bagian mereka masing-masing.

Jika ingin mencurigai seseorang, pastilah kedua pelayan meja yang bertugas menyajikan makanan adalah yang paling mencurigakan. Namun kedua orang itu juga ditugaskan untuk mencicipi makanan sebelum disajikan untuk memastikan tidak ada racun, jika mereka memang meracuni Beruth, bukankah itu berarti mereka tau mereka akan memakan racun terlebih dahulu dari Beruth? Terlebih makanan hanya sampai di tangan mereka begitu diantarkan ke ruang makan.

Juga, Halilintar pernah menyebutkan jika tidak menemukan racun pada sisa makanan Beruth. Bagaimana kira-kira orang ini meracuni Beruth tanpa membuat kedua pelayan meja tidak ikut keracunan saat mencicipi makanan?

Pelakunya sangat pintar.

Mungkin seharusnya aku mengambil jurusan hukum di duniaku atau mendaftar di kepolisian, dengan begitu aku memiliki beberapa pengetahuan untuk mengungkap siapa pelakunya. Sungguh menyedihkan saat seorang mahasiswa seni malah harus bermain sebagai detektif dan memecahkan kasus.

"Interogasi untuk hari ini sudah selesai, kita akan melanjutkannya lagi di hari lain." Ucap Halilintar. Mendengar perkataannya, aku tersadar jika orang terakhir sudah selesai di interogasi. Astaga, aku tidak mendengar apapun yang dia katakan. Melirik Halilintar, dari ekspresinya aku tau dia tidak puas dengan hasil interogasi kali ini.

Aku tak tau harus mengatakan apa untuk menghibur dirinya, jadi kuputuskan hanya diam saja. Halilintar menuntunku keluar, ketiga orang berbaju hitam itu membungkukkan tubuh mereka pada Halilintar dan berkata akan mengatur sesi interogasi lainnya.

Di Bawah Langit yang SamaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang