Bagian 22: Terus Ikuti Cahaya I

708 115 61
                                        

Boboiboy Fanfiction

© Boboiboy | Animonsta Studio

A/N: seluruh cerita ini merupakan karangan semata dan penulis tidak mengambil keuntungan dari penulisan cerita ini. Apabila ada kesamaan ide, nama tokoh atau tempat, semua itu murni ketidaksengajaan.

≫ ──── ≪•◦ ❈ ◦•≫ ──── ≪


Dalam perjalanan menuju Istana Utama, aku telah bertanya pada Maripos mengenai perubahan Komandan Kaika. Kata Maripos, beginilah sifat asli dari Komandan Kaika. Dia nyatanya adalah seorang pria yang baik juga penuh hormat terhadap atasannya. Dia setia terhadap keluarga kerajaan dan telah bersumpah untuk selalu melindungi dan melayani keluarga kerajaan.

Jika begitu, mengapa sikapnya sangat tidak menyenangkan ketika kami pertama kali bertemu? Apa dia menganggap Taufan bukan anggota kerajaan dan karena itu tak pantas mendapatkan rasa hormatnya? Maksudku perubahan sikapnya ini terlalu tiba-tiba dan membuatku merasa ngeri.

Aku memutuskan untuk tidak bertanya lagi tentang dia. Sebaiknya kupikirkan mengapa Halilintar memutuskan untuk membiarkan aku datang ke Istana Utama. Kupikir dia tak akan mau aku pergi ke Istana Utama lagi setelah kejadian dengan Pavan beberapa bulan yang lalu. Aku ingat dia sangat marah karena aku datang ke Istana Utama saat itu. Dia terlihat menyeramkan.

Begitu tiba di Istana Utama, aku melihat deretan pelayan berdiri di gerbang, seolah menunggu untuk menyambut kedatanganku. Tapi apa mungkin? Mungkin saja ada tamu penting yang datang dan mereka tengah menunggunya.

Meski begitu, kereta yang aku tumpangilah yang berhenti tepat di depan para pelayan itu. Para pelayan berbaris dengan rapi dan mereka semua memandang ke bawah dengan patuh. Kapten Fang adalah orang yang membuka pintu kereta untukku. Maripos keluar lebih dahulu, dia berdiri di samping Kapten Fang, menungguku keluar dari dalam kereta. Saat aku keluar, para pelayan itu serentak membungkukkan tubuh mereka dan mereka berseru, "Kami menyambut kedatangan Pangeran Kedua, Pangeran Taufan."

Aku benar-benar terkejut dengan semua ini. Apa Halilintar yang mengaturnya? Bukankah semua ini terlalu berlebihan? Aku jadi takut dengan semua ini.

Aku memegang tangan Kapten Fang dan turun dari kereta. Saat itu, seorang pria tua—mungkin seusia dengan kakekku—yang mengenakan seragam sama persis dengan Maripos menghampiriku—aku menebak dia adalah kepala pelayan di Istana Utama.

"Yang Mulia Pangeran Halilintar telah menunggu kedatangan anda, Yang Mulia. Biar saya antarkan anda pada Yang Mulia Pangeran Halilintar."

Aku mengangguk kaku. Membiarkan pria tua tersebut menuntunku ke tempat Halilintar berada. Aku melirik dengan was-was sekitarku, para pelayan yang menyambutku masih tetap menundukkan kepala mereka hingga aku tak dapat melihat ekspresi mereka. Benar-benar berbeda dengan saat pertama kali aku mendatangi tempat ini. Aku mengingat jelas ekspresi meremehkan yang aku lihat di wajah mereka dan bagaimana mereka memandangku seolah aku tak lebih dari seorang rakyat jelata. Saat ini, mereka semua menundukkan kepala mereka dengan patuh, tak ada yang berani mengangkat kepala mereka atau berbicara meski hanya sebuah bisikan.

Maripos dan Kapten Fang mengikutiku dari belakang. Lalu yang mengejutkan, Komandan Kaika dan keenam prajuritnya juga mengikutiku. Aku ingin bertanya mengapa mereka ikut denganku, kemudian kuingat jika Komandan Kaika sudah mengatakan bahwa dia akan menjagaku selama aku berada di Istana Utama. Ini mungkin salah satu perintah dari Halilintar.

Kali ini, saking gugupnya, aku tidak mengamati sekitarku seperti saat pertama kali datang. Aku bahkan tidak ingat jalan mana saja yang kami lalui hingga tiba di depan pintu mewah berukir api merah di tepiannya. Terlihat seperti api itu sedang melahap pintu tersebut, padahal itu hanya ukiran semata. Pria tua yang menuntunku mengetuk pintu tersebut, mengumumkan kedatanganku. Dari balik pintu itu, aku mendengar suara teredam yang mengatakan untuk masuk. Pria tua tersebut membuka pintu, lalu dia membungkuk dan membuat gerakan tubuh untuk mempersilahkan aku masuk.

Di Bawah Langit yang SamaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang