Boboiboy Fanfiction
© Boboiboy | Animonsta Studio
A/N: seluruh cerita ini merupakan karangan semata dan penulis tidak mengambil keuntungan dari penulisan cerita ini. Apabila ada kesamaan ide, nama tokoh atau tempat, semua itu murni ketidaksengajaan.
≫ ──── ≪•◦ ❈ ◦•≫ ──── ≪
Sebenarnya, aku tidak mengharapkan untuk melibatkan Solar dalam hal ini. Namun, anak itu terlihat sangat penasaran saat menemukanku dan Maripos di perpustakaan-jika aku harus menambahkan, kami terlihat sangat menyedihkan, terlebih karena kertas-kertas yang berserakan di sekitar kami.
Jadi, kini ada tambahan anak berusia 9 tahun yang ikut membaca tumpukan kertas bersama kami. Sesekali dia akan menggumamkan sesuatu mengenai bahasa yang sulit dimengerti juga beberapa istilah yang tidak dia pahami. Pada saat itu, aku akan menjelaskan beberapa kata yang memang terlalu rumit untuk anak berusia 9 tahun-dengan bantuan Maripos tentu saja.
"Apa kakak sudah tau siapa yang melakukannya?"
Mendengar pertanyaan Solar, aku merasa sedikit was-was. Apa yang aku beritau pada Halilintar harus tetap menjadi rahasia sampai aku merasa pasti. Hanya diriku, Halilintar, juga Maripos yang mengetahuinya. Halilintar sendiri telah berjanji untuk tidak memberitau siapapun sampai mendapatkan lebih banyak bukti. Maka kupikir, aku tidak bisa memberitau Solar. Tidak peduli seberapa menggemaskannya anak itu duduk di sampingku sambil memegang kertas. Tidak, aku tidak boleh membocorkan informasi pada Solar-yang kemungkinan akan berujung pada tersebarnya rumor. Tapi aku tidak ingin membohongi Solar. Mampu kah kau menatap kedua iris peraknya yang berkilauan itu dan mengatakan kebohongan? Tidak, aku menolak menjadi orang brengsek yang melakukan itu.
"Saat ini, kami memiliki seseorang yang dicurigai. Namun, karena kurangnya bukti, kami memilih untuk merahasiakannya terlebih dahulu."
Solar sedikit tidak puas aku tidak memberitau lebih banyak, tetapi bocah itu paham jika ada informasi yang dapat dan tidak dapat didengar olehnya. Jadi dia memutuskan untuk kembali pada kertas di tangannya. Aku melirik sekilas, itu adalah kertas mengenai perkiraan racun yang digunakan oleh pelaku. Ah, lembaran yang aku baca tadi sebelum Solar mengejutkanku.
Solar tiba-tiba meletakkan kertas di tangannya di atas meja, dia melompat turun dari kursinya dan berjalan pergi entah ke mana. Kupikir dia sudah merasa bosan dan ingin kembali ke Istana Pangeran atau melakukan hal lainnya, tapi tak lama dia muncul kembali dengan sebuah buku yang cukup tebal. Aku bergegas menghampirinya, mengambil buku itu dari tangannya dan menggandeng tangan Solar kembali ke tempat duduk kami.
Solar kembali menduduki tempatnya dan meminta buku di tanganku. Aku tidak begitu paham, tetapi tetap kuberikan buku itu padanya. Aku tak bisa melihat dengan jelas apa judul buku itu, sampul buku berwarna hijau tua dengan gambar akar-akar menjalar di sekitarnya. Solar sepertinya sudah membaca buku itu berkali-kali, melihat bagaimana dia tidak perlu melihat daftar isi dari buku dan langsung membukanya dan mulai mencari sesuatu di dalamnya.
Dia berhenti pada halaman yang menunjukkan tanaman bunga berwarna ungu berkelompok. Bunganya mirip dengan bunga kacang, apa tanaman ini sejenis dengan kacang? Tanaman itu bernama Lucerna[1].
Solar nampak sangat serius membaca deskripsi yang tertulis di buku mengenai bunga Lucerna, dia kemudian berhenti pada baris terakhir dari paragraph ketiga dan berseru, "Ah! Ini!"
"Kenapa dengan bunga itu?" tanyaku.
"Ini racun yang digunakan." Solar menjawab dengan penuh percaya diri. Dia mengangkat dagunya tinggi, seolah menantang seseorang untuk menyangkal perkataannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Di Bawah Langit yang Sama
Fanfiction~"Nyatanya, kita semua berada di bawah langit yang sama, bukan begitu, Taufan?"~
