Bagian 14: Janji di Bawah Langit

869 101 77
                                        

Boboiboy Fanfiction

© Boboiboy | Animonsta Studio

A/N: seluruh cerita ini merupakan karangan semata dan penulis tidak mengambil keuntungan dari penulisan cerita ini. Apabila ada kesamaan ide, nama tokoh atau tempat, semua itu murni ketidaksengajaan.

≫ ──── ≪•◦ ❈ ◦•≫ ──── ≪


Semenjak bepergian bersama Halilintar, aku merasa jauh lebih tenang dan santai. Mungkin karena aku sangat mempercayai kemampuannya sebagai ahli pedang terbaik Ignisia, atau ini salah satu pesona yang dimiliki oleh seorang protagonis. Yang manapun aku merasa senang karena dia ada untukku. Seperti sekarang, kami telah kembali melakukan perjalanan setelah sarapan yang sedikit heboh di penginapan. Kini Halilintar menuntun kudanya agar berjalan di sisi kereta, seperti yang dilakukan Kapten Fang kemarin. Jelas aku juga mengajaknya berbicara untuk mengisi waktu. Berbeda dari Kapten Fang yang hanya menanggapiku dengan senyuman dan anggukan, Halilintar membalas setiap perkataanku. Dia juga tertawa dan sesekali tangannya akan terulur ke arahku agar aku bisa memegangnya.

"Taufan, apa kau ingin mencoba berkuda?"

Eh?

"Eh?"

Kenapa tiba-tiba Halilintar menanyakan itu padaku? Apa dia ingin membunuhku? Aku akan menarik perkataanku barusan mengenai dirinya!

Halilintar mencondongkan tubuhnya ke depan, dia menepuk leher kudanya lalu menatapku, "Iya. Apa kau ingin mencoba berkuda denganku?"

"Err... terima kasih atas tawarannya, tapi aku baik-baik saja di dalam kereta."

"Jangan begitu, kau juga harus merentangkan kakimu."

"Tidak, terima kasih, Yang Mulia. Aku di dalam kereta saja."

Ya... kataku begitu sih, tapi aku tidak tau kenapa aku malah berada di situasi seperti ini. Sekarang aku duduk di atas kuda Halilintar. Tinggi sekali sampai membuatku pusing. Apa berada di atas kuda memang setinggi ini? Aku melihat ke kiri dan kanan, berharap ada yang menolongku. Namun selain Maripos yang terlihat sangat cemas, yang lainnya nampak sangat santai. Tidakkah mereka menyadari jika aku hampir pingsan di atas kuda ini?! Saat kuda itu bergerak, aku menjadi sangat ketakutan dan nyaris terjatuh.

"Ah, kau harus berhati-hati." Halilintar—yang entah sejak kapan sudah duduk di belakangku—menahanku dari terjatuh. Dia memegang tali kekang pada kuda dan menyentak kakinya. Kuda itu mulai bergerak lagi, kali ini hewan itu mulai berjalan. Aku memegang ujung pelana seerat mungkin, berharap aku tak akan terjatuh dari atas kuda raksasa yang mengerikan ini.

"Kau masih saja takut naik kuda." Di saat seperti ini, Halilintar malah menertawakanku. Tak sadarkah dia jantungku berdetak terlalu cepat hingga nyaris meledak?

"Jangan menutup matamu, tegakkan tubuhmu."

Aku menoleh padanya, berharap dia melihat kemarahan pada wajahku. Namun pemuda itu malah tertawa. Dia menyentak kakinya lagi. Kali ini kuda bukan hanya berjalan tetapi mulai berlari. Aku pasti menjerit saat itu, karena aku yakin aku mendengar suara teriakan yang ditutupi suara tawa. Entah ini hanya perasaanku saja atau kuda itu memang mulai berlari dengan sangat cepat. Kali ini, bahkan memegang pelana saja terasa tidak cukup untuk membuatku aman.

"Jangan khawatir, Taufan. Kakak disini."

"Jangan khawatir, Taufan. Kakak disini."

Eh? Barusan... aku seperti mendengar suara lain selain suara Halilintar. Seperti suara anak-anak. Tapi mungkin aku hanya berhalusinasi karena saat ini sedang menunggangi kuda yang terlalu besar bersama Halilintar yang tidak perhatian.

Di Bawah Langit yang SamaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang