Bagian 31: Tatapan Biru Es I

691 105 16
                                        

Boboiboy Fanfiction

© Boboiboy | Animonsta Studio

A/N: seluruh cerita ini merupakan karangan semata dan penulis tidak mengambil keuntungan dari penulisan cerita ini. Apabila ada kesamaan ide, nama tokoh atau tempat, semua itu murni ketidaksengajaan.

≫ ──── ≪•◦ ❈ ◦•≫ ──── ≪

Aku tidak bisa melakukan ini!

Setelah pria itu mengumumkan kedatangan Halilintar dan diriku, ruangan menjadi sunyi dan semua perhatian teralih pada kami. Aku sangat ingin bersembunyi saat itu. Di manapun rasanya tak masalah, bahkan aku tidak akan protes jika ada seseorang yang datang dan mendorongku ke dalam lubang, asal aku tak lagi mendapat tatapan dari orang-orang itu. Berbeda dengan diriku, Halilintar terlihat sudah biasa dengan semua perhatian yang diberikan padanya. Seharusnya tak usah heran lagi, berapa banyak pesta yang dia hadiri selama ini? Juga, sudah jelas sebagai seorang pangeran, dia akan mendapat perhatian lebih dibanding orang lain.

Aku yakin dahulu Taufan juga seperti itu.

Mungkin inilah yang selalu Taufan rasakan ketika dia mendapat perhatian setelah insiden 5 tahun yang lalu. Dia pasti merasa gugup berada di antara orang-orang ini. Terlebih dengan mereka yang memperhatikan setiap tindakannya, setiap hal yang dia perbuat dapat menjadi rumor baru yang membuat namanya semakin memburuk. Seorang anak remaja harus menghadapi semua itu sendirian, tak heran Taufan menjauhkan dirinya dari orang-orang.

Saat ini yang ingin aku lakukan adalah kembali ke Istana Mentari Terbenam dan berbaring di tempat tidur sambil membaca buku bersama Maripos.

Setelah kesunyian itu, ruangan kembali diisi dengan kebisingan. Para bangsawan berusaha mencari perhatian dari Halilintar. Mereka berusaha membangun hubungan dengan pangeran yang saat ini adalah kandidat terkuat sebagai Raja. Mereka sepenuhnya lupa jika pesta ini adalah untuk merayakan ulang tahun Blaze dan Ice.

Kulihat Halilintar dengan santai meraih gelas dari nampan yang bawa oleh salah seorang pelayan. Dia juga mengambil sendok dari meja terdekat dan mengangkat gelas itu. Kemudian dia memukul gelas menggunakan sendok, menghasilkan bunyi denting yang menarik perhatian para bangsawan. Setelah memastikan semua memperhatikan dirinya, Halilintar tersenyum penuh percaya diri dan mulai berpidato.

Dia berbicara dengan lancar, setiap katanya terdengar jelas di telinga, dia juga menyampaikan maksudnya secara langsung. Bahwa malam ini adalah pesta untuk kedua saudaranya dan dia mengharapkan orang-orang mengingat bintang di acara ini adalah Blaze dan Ice, bukan dirinya. Setelah itu, dia menyatakan bahwa pesta telah resmi dimulai.

Niatku mengikuti pesta ini karena ingin bertemu dengan Duchess Satriantar, tetapi aku merasa sepertinya tidak bisa melakukan semua itu. Tidak dengan banyaknya orang di pesta ini, belum lagi aku tak pernah bertemu dengannya. Hah, sungguh disayangkan.

Karena Halilintar telah dikerumuni banyak orang, aku memilih menjauh darinya. Berdiri di pojok ruangan yang kebetulan dekat dengan meja makan. Selagi menunggu Halilintar selesai dengan orang-orang yang ingin menjilatnya—entah kapan selesai—aku berusaha memutuskan apakah lebih baik aku mencoba kue coklat atau pie blueberry yang nampak menggoda itu.

Pie blueberry sepertinya keputusan yang tepat. Aku belum pernah mencoba satu saat di duniaku, tetapi aku sudah memakannya beberapa kali di dunia ini. Rasanya selalu enak. Walau begitu, kue coklat juga terlihat sangat menggoda. Sudah lama aku tidak memiliki kue coklat untuk dimakan. Tapi apa coklatnya sama dengan coklat di duniaku? Apa rasanya akan pahit atau manis?

Di Bawah Langit yang SamaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang