Boboiboy Fanfiction
© Boboiboy | Animonsta Studio
A/N: seluruh cerita ini merupakan karangan semata dan penulis tidak mengambil keuntungan dari penulisan cerita ini. Apabila ada kesamaan ide, nama tokoh atau tempat, semua itu murni ketidaksengajaan.
≫ ──── ≪•◦ ❈ ◦•≫ ──── ≪
"Blaze. Blaze!"
Taufan mendesis pada adiknya, berusaha menarik perhatian adiknya yang tengah terpesona pada tumpukan kue di hadapan mereka. Taufan mendesis sekali lagi, tapi bukan Blaze yang memperhatikannya, malah Machioness Fjord yang menoleh padanya. Dia tersenyum cepat pada wanita itu, harapnya wanita itu tidak akan menanyakan apapun padanya.
Senyumannya berhasil, karena Marchioness Fjord membalas senyumannya dengan sangat ramah lalu kembali fokus pada Ayah dan Marquess Fjord yang tengah berbincang mengenai pengembangan tambang besi di wilayah sang Marquess.
"Blaze!"
Blaze akhirnya menoleh padanya. Terlihat kebingungan karena masih terlena dengan banyaknya kue di hadapan mereka.
"Apa kau mau keluar sekarang?"
Kebingungan tampak jelas pada wajah adiknya. Dia pasti lupa bahwa tujuan mengikuti Taufan ke Kota Fontis bukan untuk menikmati kue di rumah Marquess Fjord, melainkan menjelajahi kota indah yang terkenal sebagai kota untuk pengikuti sang dewa air, Vaser. Mengapa Blaze malah terpesona pada kue? Di istana dia menikmati kue-kue terbaik yang hanya tersedia bagi keluarga kerajaan, belum lagi Taufan sering menyelendupkan beberapa manisan untuknya dan Ice saat pergi ke Istana Utama.
Huh, Blaze melupakan alasan dia mengikuti Taufan dan sekarang Taufan tidak tau bagaimana cara meminta ijin pada Ayah untuk membiarkan mereka pergi. Padahal dia dan Blaze sudah mengatur rencana untuk melarikan diri dari pertemuan ini. Rencana awalnya adalah membiarkan Blaze mengatakan pada Ayah pertemuan ini membosankan dan meminta Taufan menemaninya bermain di luar. Namun sekarang rencana itu tidak bisa digunakan karena Blaze malah terpesona dengan kue.
Sejujurnya Taufan bisa menyeret Blaze keluar bersamanya dengan berbagai macam alasan yang dia siapkan, tapi dia tidak yakin Blaze tidak akan merengek karena meninggalkan kue di hadapannya. Jadi, Taufan harus menahan dirinya mendengarkan percakapan Ayah bersama kedua orang dewasa lainnya sementara adiknya sibuk mengagumi hidangan di hadapannya.
Namun, Taufan tidak perlu menderita terlalu lama. Ayah menyadari kejenuhannya, dia mengatakan meminta agar mereka membiarkan Taufan dan Blaze berjalan-jalan di sekitar Manor milik Marquess Fjord. Taufan bergegas menarik Blaze keluar dari ruangan—dia membiarkan Blaze mengambil beberapa kudapan agar adiknya itu tidak merengek padanya—lalu melarikan diri ke taman di Manor Marquess Fjord.
"Kau teralihkan." Tegur Taufan.
Blaze menatapnya dengan mata polos dan mulut penuh kue, terlihat menggemaskan sekaligus menjengkelkan. Taufan ini mencubit dan memukulnya pada saat yang bersamaan. Taufan hanya menghela nafas, memang Blaze itu begitu mudah teralihkan. Ini merupakan kesalahan Taufan karena tidak menyiapkan rencana cadangan, dia harus mulai lebih teliti lagi dan lebih siap dibanding sebelumnya.
"Ayo, aku akan mengajakmu berkeliling Kota Fontis."
"Tapi kita tidak meminta izin pada Ayahanda. Bagaimana jika Ayahanda mencari kita? Juga, bukankah kita tidak boleh pergi tanpa pengawalan?"
Taufan mendengus pelan, tapi dia dengan cepat memperbaiki ekspresi wajahnya begitu menyadari bahwa Blaze berbeda dari dirinya. Dia telah mengikuti Ayahnya sejak berusia 5 tahun. Duduk di ruangan bersama para orang dewasa yang membicarakan banyak hal yang tidak dia mengerti selama berjam-jam. Melarikan diri ketika dia merasa bosan atau tidak dibutuhkan dalam pertemuan tersebut setiap kali dia memiliki celah. Dia sudah melakukan ini selama bertahun-tahun, tapi Blaze berbeda. Ini pertama kalinya dia mengikuti Ayah, dia tidak memiliki pengalaman apapun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Di Bawah Langit yang Sama
Fanfiction~"Nyatanya, kita semua berada di bawah langit yang sama, bukan begitu, Taufan?"~
