Boboiboy Fanfiction
© Boboiboy | Animonsta Studio
A/N: seluruh cerita ini merupakan karangan semata dan penulis tidak mengambil keuntungan dari penulisan cerita ini. Apabila ada kesamaan ide, nama tokoh atau tempat, semua itu murni ketidaksengajaan.
≫ ──── ≪•◦ ❈ ◦•≫ ──── ≪
Aku tak bisa tidur karena terus terpikir mengenai perkataan Kapten Fang. Bandit itu adalah hal yang merepotkan. Mereka tak akan bisa benar-benar dibasmi. Mereka seperti rumput yang dicabut dan akan tumbuh kembali. Belum lagi kebanyakan bandit juga tidak pandang bulu dalam memilih mangsanya. Mau itu bangsawan atau hanya rakyat miskin, mereka akan tetap menyerang demi keuntungan mereka. Mereka juga selalu menyerang secara berkelompok untuk memastikan mereka tidak kalah.
Aku percaya pada kemampuan Komandan Kaika dan prajurit lainnya, aku juga percaya pada Kapten Fang dan prajurit dari Istana Mentari Terbenam. Namun, aku terus merasa khawatir sejak tadi. Tanganku berkeringat dan jantungku berdetak cepat, perutku juga terasa tidak nyaman karena khawatir. Semoga semua ini hanya firasatku semata dan perjalanan kami baik-baik saja.
"Anda terlihat kelelahan, Yang Mulia."
"Iya, aku tidak bisa tidur semalam."
Kupikir Maripos akan memarahiku karena tidak beristirahat dengan benar atau menyerangku dengan berbagai peratanyaan. Nyatanya dia tidak melakukan apa yang aku perkirakan. Pemuda itu berpindah ke sisiku, perlahan merangkul pundakku dan membuat kepalaku bersandar pada pundaknya. Dia mengusap lenganku dengan lembut dan membuatku merasa nyaman memilikinya di sampingku.
"Anda dapat beristirahat sekarang, Yang Mulia." Maripos menyarankan. Aku hanya mengangguk dan mencoba untuk rileks. Tak akan ada apapun yang terjadi, aku mencoba meyakinkan diriku demikian.
Kami terus berjalan sepanjang hari itu. Tidak ada istirahat sedikitpun meski hanya untuk memberi minum kuda. Komandan Kaika berkata dia khawatir jika kami berlama-lama di hutan, malah akan bertemu dengan para bandit. Terlepas dari diriku yang merasa kasihan pada para kuda dan pelayan, aku menyetujui perkataan Komandan Kaika. Aku benar-benar tidak mau bertemu dengan para bandit. Sebelum matahari terbenam, kami berhenti pada sebuah area dekat Sungai untuk beristiharat dan bermalam. Komandan Kaika terlihat seperti ingin terus melanjutkan perjalanan tanpa mempertimbangkan kondisi yang lain. Kurang lebihnya aku paham dengan pemikiran Komandan Kaika, jika bisa aku juga mau terus berjalan agar kami segera tiba di Istana. Namun kami juga harus mempertimbangkan orang lain yang ikut bersama kami. Para kuda pasti lelah sudah berjalan seharian membawa beban berat, para pelayan yang duduk di kereta barang juga pasti lelah dan lagi lebih penting memulihkan tenaga karena kami tak tau apa yang akan kami hadapi ke depannya. Kami tidak boleh bertindak egois dengan tidak mempertimbangkan mereka.
Kali ini Maripos menuruti perkataanku untuk tidak mendirikan tenda, dia mungkin sama khawatirnya dengan diriku. Mereka hanya menggelar alas tidur yang cukup tebal di tanah dekat api unggun bagi diriku. Kedua pelayan yang mengikutiku juga duduk di dekat api unggun dan saling bersandar. Aku menawarkan selimut bagi keduanya agar tidak kedinginan. Sementara para prajurit mengambil giliran untuk berjaga.
Kapten Fang duduk tepat di sisiku, tangannya selalu berada pada gagang pedang di pangkuannya dan matanya menatap waspada pada sekitar. Maripos juga duduk di sisiku dan aku memegang tangannya untuk menenangkan diriku sekaligus menenangkan dirinya. Malam ini terasa sangat berat, udara dipenuhi dengan ketegangan. Sungguh kontras dengan ketika kami melakukan perjalanan menuju kuil. Komandan Kaika terlihat sangat tegang, prajurit yang mengikutinya juga nampak gelisah. Pastilah bandit-bandit ini tidak dapat dianggap remeh hingga mampu membuat Komandan dari pasukan elit Kerajaan gelisah seperti ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Di Bawah Langit yang Sama
Fanfic~"Nyatanya, kita semua berada di bawah langit yang sama, bukan begitu, Taufan?"~
