Boboiboy Fanfiction
© Boboiboy | Animonsta Studio
A/N: seluruh cerita ini merupakan karangan semata dan penulis tidak mengambil keuntungan dari penulisan cerita ini. Apabila ada kesamaan ide, nama tokoh atau tempat, semua itu murni ketidaksengajaan.
≫ ──── ≪•◦ ❈ ◦•≫ ──── ≪
Aku bertemu dengan Gopal di depan gerbang Istana Utama. Dia datang seorang diri kali ini, Pavan tidak ikut bersamanya. Aku memang menuliskan surat padanya saat Halilintar memberitau mengenai penutupan kasus ini. Dia pantas untuk mengetahui teman yang dia perjuangkan akhirnya memperoleh kebebasannya. Sayangnya, Gopal tidak bisa masuk ke dalam istana karena dianggap tidak memiliki urusan di Istana. Walau menyebalkan, aku kurang lebih paham mengapa dia tidak bisa masuk. Berbeda dari Pavan yang Ayahnya adalah seorang Count, rupanya orang tua Gopal bukanlah bangsawan. Mereka hanya pengusaha kaya di Kota Tarín. Tentulah perlakuan yang mereka terima akan berbeda dari Pavan yang seorang bangsawan.
Jadi aku mengatakan pada penjaga, bahwa Gopal datang bersamaku. Aku membiarkan dia naik ke kereta kuda bersamaku. Dia terlihat sedikit canggung dan ragu untuk berbicara. Mungkin dia hanya gugup karena akan bertemu dengan sahabatnya lagi. Aku paham, dia pasti rindu pada Qually.
Halilintar telah menungguku di Istana Utama. Dia adalah orang yang membantuku turun dari kereta, melirik sekilas pada Gopal yang juga berada di dalam kereta bersamaku, tetapi tidak mengatakan apapun. Halilintar berjalan di sampingku saat kami menuju penjara. Dia sepertinya ingin membuat pilar petir lagi, tetapi aku menahannya kali ini. Ada banyak orang yang ikut bersama kami, aku tidak begitu takut seperti sebelumnya, jadi kurasa lebih baik dia tidak buang-buang tenaga.
Halilintar memberi perintah pada para penjaga penjara untuk mengeluarkan para pelayan yang ditahan. Keempat orang tersangka sudah dipindahkan ke sel lainnya kemarin, jadi tidak akan ada kesalahan dalam membebaskan mereka. Para pelayan itu, kulihat mereka memiliki ekspresi lega pada wajah mereka saat akhirnya bisa keluar dari balik jeruji besi yang sudah menahan mereka selama ini.
Gopal, tanpa menunggu Halilintar mengatakan sesuatu, bergegas berlari menuju Qually, sahabatnya. Dia berseru, "Kawan baikku!" kemudian memeluk Qually dengan erat.
Mereka berdua sama-sama menangis setelah itu, aku tidak bisa menggambarkan perasaan mereka. Pastinya haru, lega dan rindu. Senang mereka bisa bertemu lagi.
"Yang Mulia, ingat yang aku minta sebelumnya?" Tanyaku pada Halilintar.
"Iya, tapi haruskah? Apa lagi yang ingin kau tanyakan pada mereka? Mereka telah mengakui perbuatan mereka dan alasan mereka melakukannya."
"Ada beberapa hal yang harus aku pastikan, katakanlah... untuk memuaskan rasa penasaranku."
Halilintar menghela nafasnya, dia mengangguk sebagai tanda bahwa aku bisa melakukan apa yang aku inginkan. Dia mengantarku lebih jauh ke dalam penjara, di mana Vyk, Tina dan Mari dipindahkan. Ellie tidak berada di penjara yang sama karena kondisi kejiwaannya.
Aku berhenti di depan sel Tina dan Mari, keduanya duduk di lantai penjara dalam keadaan yang cukup menyedihkan. Walau cahaya penjara itu remang-remang, aku tau mereka terlihat sangat berbeda dari terakhir kali aku melihat mereka di interogasi pertama. Apa mereka... disiksa untuk mengakui perbuatan mereka? Mengapa aku lupa bahwa dunia yang aku datangi ini bukanlah dunia modern di mana HAM adalah hal yang harus kau junjung tinggi bahkan jika harus berhadapan dengan tahanan? Apakah karena ini Halilintar menolak memberitauku bagaimana cara mereka memperoleh pengakuan dari keduanya? Apa ini juga alasan Gempa melarangku mencari tau?
KAMU SEDANG MEMBACA
Di Bawah Langit yang Sama
Fanfic~"Nyatanya, kita semua berada di bawah langit yang sama, bukan begitu, Taufan?"~
