Bagian 18: Vayuna I

685 108 56
                                        

Boboiboy Fanfiction

© Boboiboy | Animonsta Studio

A/N: seluruh cerita ini merupakan karangan semata dan penulis tidak mengambil keuntungan dari penulisan cerita ini. Apabila ada kesamaan ide, nama tokoh atau tempat, semua itu murni ketidaksengajaan.

≫ ──── ≪•◦ ❈ ◦•≫ ──── ≪


Akhirnya, setelah sebulan jauh dari Istana, aku kembali ke tempat yang menjadi kediamanku hingga aku bisa kembali ke duniaku sendiri. Melewati Istana Utama, ada banyak pelayan yang berdiri untuk menyambut Halilintar—jelas bukan diriku. Aku hanya melirik dari kereta ketika Halilintar turun dari kudanya bersama Ace, dia menyerahkan Ace pada seorang wanita yang mengenakan gaun hijau gelap dan rambut berwarna abu-abu tanda usianya yang tak lagi muda. Ace, remaja nakal yang banyak memberontak selama ini, terlihat begitu diam begitu Halilintar menyerahkannya pada wanita itu. Bahkan dia menundukkan kepalanya, beda sekali dengannya yang kulihat sering mengangkat dagunya penuh percaya diri.

Kulihat Halilintar mengatakan sesuatu pada wanita bergaun hijau tua itu. Wanita itu membungkukkan tubuhnya pada Halilintar, sepertinya Halilintar memberikan sebuah perintah padanya. Lalu kulihat Halilintar berlutut di depan Ace. Dia memegang pundak Ace dan sepertinya mengucapkan sesuatu kemudian memberikan pelukan pada Ace. Ace tidak membalas pelukan Halilintar, tetapi aku melihat tangannya sempat bergerak untuk memeluk Halilintar juga. Hanya saja dia tidak melakukannya entah karena apa.

Halilintar lalu berdiri, mengatakan beberapa hal lagi pada beberapa pelayan di sana. Dia tetap berdiri di tempatnya hingga wanita bergaun hijau tua dan Ace memasuki Istana. Dia kemudian kembali menaiki kudanya dan mengikuti rombonganku menuju Istana Mentari Terbenam.

Pada titik ini, aku tidak lagi heran jika Halilintar akan mengantarku sampai ke kamar. Justru aku akan terheran-heran jika dia tidak melakukannya.

Istana Mentari Terbenam masih sama dengan apa yang aku ingat ketika pergi meninggalkannya. Mungkin sedikit pengecualian pada bunga-bunga di taman yang nampak diganti dengan bunga-bunga baru.

Papileon dan beberapa pelayan lain datang menyambutku. Mereka nampak bahagia saat melihatku turun dari kereta, beberapa bahkan terlihat menangis. Aku bertanya pada Papileon mengapa mereka semua terlihat seperti itu. Jawaban yang dia berikan benar-benar mengejutkanku.

"Kami sangat khawatir saat mengetahui anda diserang oleh bandit, Yang Mulia. Kabar yang kami dengar adalah anda terluka dan tak sadarkan diri. Melihat anda berdiri di depan kami seperti ini dalam keadaan sehat, kami benar-benar senang."

Para pelayan yang berdiri di belakang Papileon menganggukkan kepala mereka untuk menyetujui perkataan gadis itu. Aku merasa sangat tersentuh akan kepedulian mereka semua padaku. Berapa kali kukatakan bahwa Taufan sangat beruntung memiliki orang-orang seperti mereka di dekatnya?

Mereka yang telah menungguku segera membantu kedua pelayan yang ikut denganku dan para pengawal untuk membongkar barang-barang yang aku bawa kembali. Aku tak lagi menaruh perhatianku pada mereka karena tau mereka akan melakukan tugas mereka dengan baik walau tak aku awasi.

Halilintar benar-benar mengantarku hingga ke kamar, dia tidak tinggal cukup lama seperti biasa. Hanya memastikan aku telah masuk ke dalam kamar lalu mengucapkan selamat tinggal. Tidak lupa dengan berbagai macam nasehat agar aku beristirahat dan tidak begadang terlalu sering—sudah pasti aku tidak akan bisa berjanji mengenai hal itu. Setelah mengacak-acak rambutku, Halilintar pergi. Aku tidak mengantarnya karena dia tak mau. Aku hanya dapat mengamati dari balkon kamar, melihat Halilintar bersama Komandan Kaika dan pasukannya keluar dari Istana Mentari Terbenam.

Di Bawah Langit yang SamaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang