Bagian 17: Cahaya Berapi III

645 96 55
                                        

Boboiboy Fanfiction

© Boboiboy | Animonsta Studio

A/N: seluruh cerita ini merupakan karangan semata dan penulis tidak mengambil keuntungan dari penulisan cerita ini. Apabila ada kesamaan ide, nama tokoh atau tempat, semua itu murni ketidaksengajaan.

≫ ──── ≪•◦ ❈ ◦•≫ ──── ≪


Kami semakin dekat dengan Ibu Kota. Melihat dari peta yang dibawa Maripos, hanya tersisa 3 kota lagi menuju Ibu Kota. Akan memakan waktu 2 hari kata Maripos jika kami terus berjalan dan hanya berhenti untuk istirahat ketika siang dan malam.

Hari ini, kami akhirnya tiba di Tarín. Ini adalah kota yang sangat ingin aku jelajahi ketika pertama kali keluar dari istana. Namun sekarang, aku tidak memiliki semangat apapun. Memang benar suasana hatiku telah membaik berkat Kapten Fang dan Maripos, tetapi tetap saja aku merasa tidak bersemangat. Halilintar telah berjanji untuk mengajakku jalan-jalan di kota ini. Dia berjanji untuk membawaku ke toko buku paling terkenal di kota, tetapi sikapnya padaku malah terlihat sangat jauh sekarang. Seperti dia berusaha menghindariku.

Aku masih tak tau kesalahan apa yang sudah aku lakukan padanya hingga dia bersikap seperti itu.

"Yang Mulia, anda tak ingin turun dari kereta?"

Aku memainkan bunga yang tadi diberikan oleh Kapten Fang, tidak berniat menatap Maripos yang sepertinya berusaha untuk membujukku keluar dari kereta, "Tidak. Katakan saja jika kita akan melanjutkan perjalanan atau akan bermalam di kota ini."

Aku mendengar helaan nafas dari Maripos. Dia mungkin memilih untuk mengalah saat ini. Sebaiknya begitu, karena aku akan memilih untuk bersikap keras kepala kali ini.

"Fang berdiri di depan pintu jika anda berubah pikiran." Maripos berkata sebelum turun dari kereta. Aku tidak memperhatikannya sama sekali, perhatianku tertuju pada bunga di tanganku.

Aku berusaha memikirkan hal lain. Misalnya bagaimana Kapten Fang menemukan bunga-bunga ini? Atau apakah dia hanya mengambil bunga yang dia lihat atau dia mencari yang sesuai?

Kapten Fang itu orang yang romantis ya. Aku tidak pernah menyangka pemuda yang selalu berekspresi datar sepertinya ternyata memiliki jiwa romantis. Jika suatu hari nanti dia jatuh cinta, aku yakin dia akan menjadi jauh lebih romantis.

Kalau Maripos bagaimana ya? Mungkin dia akan menjadi seseorang yang terlalu protektif, atau malah dia menjadi sangat santai dengan pasangannya?

Aku merasa geli memikirkannya.

Ya, siapapun yang mendapatkan mereka, pasti akan sangat beruntung.

Lamunanku terputus oleh suara ketukan di pintu kereta. Ah, itu pasti Kapten Fang. Pasti Maripos menyuruhnya untuk membujukku lagi setelah beberapa saat. Dasar Maripos itu.

"Aku sedang tidak ingin keluar, Kapten."

Tak ada lagi ketukan setelah itu. Aku mengambil buku yang tertinggal di tempat Maripos, mencari-cari halaman terakhir yang aku baca. Sepertinya aku ingat sudah membaca hingga bagian pertengahan, halaman berapa ya itu?

"Apa bukunya semenarik itu sampai kau melupakanku?"

Aku akan menyangkal jika aku berteriak seperti seorang gadis. Tidak. Itu bukan jeritan. Itu murni hanya diriku yang terkejut dan berteriak seperti laki-laki pada umumnya.

Di pintu kereta yang terbuka, Halilintar berdiri, menyeringai seperti biasa ketika dia menjahiliku. Aku mendengus ketika melihatnya, tidak tertarik dengan apapun yang ingin dia lakukan atau bicarakan. Dia yang lebih dahulu mengabaikanku, bukan salahku jika mengabaikannya juga 'kan? Lebih baik fokus pada bukuku. Tadi sampai mana? Sepertinya aku masih berusaha mencari halaman terakhir yang aku baca.

Di Bawah Langit yang SamaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang