Boboiboy Fanfiction
© Boboiboy | Animonsta Studio
A/N: seluruh cerita ini merupakan karangan semata dan penulis tidak mengambil keuntungan dari penulisan cerita ini. Apabila ada kesamaan ide, nama tokoh atau tempat, semua itu murni ketidaksengajaan.
≫ ──── ≪•◦ ❈ ◦•≫ ──── ≪
"Ice?!"
Aku membuang pisau di tanganku dan bergegas menghampiri remaja itu.
"Apa kau terluka? Apa aku melukaimu?"
Pencahayaan yang buruk di ruangan ini membuatku kesulitan untuk mengetahui apakah seranganku tadi mengenainya atau tidak. Belum lagi Ice yang terus diam dan tidak mengatakan apapun untuk membantu mengonfirmasi kekhawatiranku. Astaga, bagaimana ini? Apa aku melukainya? Apa yang harus aku lakukan jika aku melukainya? Aku tidak begitu tau pertolongan pertama untuk tebasan pisau. Haruskah aku memanggil Maripos?
Seharusnya tadi aku tidak bertindak buru-buru. Seharusnya kupastikan lagi siapa dan bukan asal menyerang seperti itu. Aku harap Ice baik-baik saja dan tidak terluka.
Suara kegaduhan yang kami timbulkan pasti menarik perhatian penjaga. Aku mendengar pintu diketuk dan penjaga menanyakan keadaanku. Saat itu, aku ingin memintanya memanggil Maripos, tetapi Ice meraih lengan bajuku dan menggelengkan kepalanya pelan. Sepertinya dia tidak mau ada orang lain yang tau dia ada di ruangan ini. Meski aku ragu dan khawatir, aku memilih untuk tidak mengungkap kehadiran Ice. Aku mengatakan pada penjaga jika aku baik-baik saja dan hanya terbangun karena merasa haus. Penjaga itu bertanya apakah dia harus memanggil Maripos, tetapi kukatakan padanya jika aku bisa menangani masalahku sendiri.
Begitu memastikan penjaga di luar kamarku tak akan mengganggu, aku menarik tangan Ice dan mendudukkannya di ranjang. Melalui pencahayaan terbatas, aku menutup jendela kamarku yang terbuka, lalu aku berusaha mencari lilin dan pemantik api. Untung saja Maripos begitu pengertian untuk meletakkan benda-benda itu dalam jangkauanku. Dia tau jika aku sering terbangun pada dini hari dan ingin membaca sesuatu untuk kembali tidur. Sayang sekali semua ini tidak begitu praktis. Haruskah aku meminta Halilintar membelikan kristal ajaib yang bisa menyala itu? Harganya memang mahal, belum lagi biaya pemeliharaannya, tetapi jika Halilintar bersedia mengeluarkan uang yang begitu banyak untuk membelikan obat-obatan bagi Taufan, dia pasti tidak akan keberatan melakukannya. Aku akan membicarakan ini dengannya saat dia datang berkunjung.
Begitu lilin menyala, aku bergegas menghampiri Ice yang masih duduk dengan tenang di ranjang. Sejak tadi dia hanya menatap gerak-gerikku, membuat aku merasa tidak nyaman sebenarnya. Aku hanya berpura-pura tidak terpengaruh dengan tatapannya. Tatapannya juga terasa familiar, apa dia yang menatapku sepanjang pesta dansa?
"Apa kau terluka, Yang Mulia? Mungkinkah tadi seranganku mengenai dirimu?"
Ice tidak menjawab. Dia hanya fokus menatapku. Wajahnya tidak memiliki ekspresi, matanya juga tidak menunjukkan emosi apapun. Aku tak bisa menebak pikirannya dengan wajah yang begitu datar seperti ini. Bahkan Kapten Fang masih sesekali menunjukkan emosi melalui matanya! Dia juga jadi sering tersenyum sekarang. Namun Ice... rasanya seperti menatap boneka kayu yang tidak memiliki nyawa ataupun emosi.
"Pangeran, tolong katakan sesuatu. Aku tidak bisa melakukan apapun jika kau tidak mengatakan apakah aku melukaimu atau tidak."
Ice masih tetap diam. Aku menghela nafas menghadapinya, "Jika Pangeran masih tidak mau mengatakan apapun, aku akan memanggil dokter untuk memeriksamu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Di Bawah Langit yang Sama
Fanfiction~"Nyatanya, kita semua berada di bawah langit yang sama, bukan begitu, Taufan?"~
