Bagian 10: Layangara

688 104 19
                                        

Boboiboy Fanfiction

© Boboiboy | Animonsta Studio

A/N: seluruh cerita ini merupakan karangan semata dan penulis tidak mengambil keuntungan dari penulisan cerita ini. Apabila ada kesamaan ide, nama tokoh atau tempat, semua itu murni ketidaksengajaan.

≫ ──── ≪•◦ ❈ ◦•≫ ──── ≪


Layangara. Itu adalah nama untuk upacara penghormatan bagi Vint. Upacara yang dilakukan sebelum dimulainya Festival Layang-Layang yang menjadi simbol kebebasan, kekuatan dan berkah dari Dewi Angin itu. Upacara yang diadakan di Kuil Dewi Angin terasa benar khimat dan penuh spiritualitas. Mengingatkanku pada upacara keagamaan di duniaku dahulu. Benar, bagaimanapun Vint adalah Dewi yang dipercayai dan disembah oleh orang-orang. Bisa kukatakan jika dia adalah Tuhan bagi sebagian orang. Upacara ini sebagai bentuk rasa syukur dan hormat para pengikutnya pada sang Dewi Angin.

Aku telah didandani oleh Maripos sebaik mungkin karena ini adalah pertama kalinya Taufan muncul lagi di Upacara Layangara setelah 3 tahun tak pernah menghadirinya. Dia menegaskan bahkan jika bukan aku yang nantinya akan menerbangkan lonceng angin, aku harus tetap berpenampilan pantas di hadapan para pengikut Dewi Angin. Aku adalah pangeran walau kini statusku tak lagi sama. Merepotkan sekali, padahal aku yakin tak akan ada yang peduli aku hadir atau tidak.

Upacara itu berlangsung di aula kuil, dimana seluruh pengikut Vint yang hadir berkumpul dan duduk menantikan Pendeta Tinggi untuk datang dan memulai upacaranya. Sebenarnya aku ingin memilih tempat duduk yang sedikit pojok pada bagian belakang agar tidak menarik perhatian. Namun beberapa pendeta kuil yang melihatku mengatakan jika mereka telah menyiapkan tempat khusus untukku begitu mengetahui aku akan datang.

Tebaklah.

Ya, tempat itu ada di bagian depan, dimana setiap orang dapat melihatku. Astaga! Aku sangat malu diperhatikan oleh banyak orang. Ada yang menatapku dengan tatapan meremehkan, ada juga yang melihatku dengan tatapan sinis seperti aku telah menghina Ibunya, ada yang tidak peduli untuk menatapku dan ada beberapa yang nampak penasaran. Upacara belum dimulai dan aku sudah ingin pulang. Maripos, kumohon bawa aku pulang!

Aku rindu pada ponselku. Jika disaat seperti ini aku memiliki benda itu, aku bisa saja berpura-pura tidak peduli pada sekitarku. Kapan aku akan kembali ke duniaku?

Untungnya, aku tak perlu menanggung malu terlalu lama karena kemudian aku mendengar suara gemerincing halus bersamaan dengan tabuhan gendang yang lembut. Saat itu, Aarav, dalam balutan jubah putih dengan bordiran melengkung dari benang biru pada tepi jubahnya, berjalan masuk ke dalam kuil. Dia berjalan dengan tenang tanpa pakaiannya bergerak tersapu angin. Rambutnya yang hitam panjang dikepang ke belakang tanpa aksesoris apapun menghiasinya. Ekspresi wajahnya terlihat tenang dan damai sementara di tangannya terdapat benda berbentuk pusaran angin—bentuk yang sama yang aku lihat di permadani.

Aku merasakan hembusan angin sepoi-sepoi pada kulitku saat Aarav memasuki kuil. Seperti dia memanggil angin untuk berhembus ke dalam kuil sebagai tanda kedatangannya. Luar biasa bagaimana kehadirannya saja bisa begitu mempengaruhi seluruh kuil ini. Aku menjadi penasaran akan seperti apa Taufan asli jika dia bisa menggunaan kekuatannya dengan bebas.

Dengan hadirnya Aarav, maka dimulailah Upacara Layangara.

...

Aku sangat lelah.

Padahal aku tak melakukan apapun selain duduk dan memperhatikan upacara yang tengah berlangsung, tetapi aku merasa begitu lelah dan ingin tidur sekarang. Mungkin karena sepanjang upacara yang dapat aku lakukan hanyalah duduk selama berjam-jam tanpa melakukan apapun. Aku bahkan nyaris ketiduran saat Aarav mulai membacakan doa dan berkhotbah—karena aku sama sekali tidak paham. Setidaknya tari-tarian yang mereka persembahkan cukup menghiburku. Upacara itu akhirnya mencapai akhir begitu Aarav memanggil bangsawan yang akan menerbangkan lonceng angin ke langit. Saat itu, semua mata tertuju padaku dan bukannya gadis berambut hitam yang berjalan naik ke altar. Mungkin saja mereka bertanya-tanya mengapa bukan sang pangeran yang menerbangkan lonceng angin padahal dia telah hadir. Maaf merusak ekspektasi kalian, tapi aku tak sehebat Taufan yang kalian tau. Aku hanya bisa berpura-pura tidak peduli pada tatapan mereka dan memperhatikan gadis yang akan menerbangkan lonceng angin itu. Dia kelihatannya seumuran atau mungkin lebih muda dari Taufan. Gaun yang dia kenakan sangat sederhana—mungkin karena dia menghadiri upacara penghormatan untuk Dewi—hanya gaun berwarna biru muda polos tanpa bordiran apapun di gaunnya. Dia juga tidak mengenakan perhiasan apapun selain jepitan rambut berbentuk kupu-kupu yang warnanya senada dengan gaunnya.

Di Bawah Langit yang SamaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang