Part 38

8 1 1
                                        


Tangis Neira pecah saat itu juga. Kuhentikan motor lalu berdiri disampingnya yang sedang menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Kupeluk dia dan membiarkan dadaku menjadi sandaran untuknya menangis.

"Maafkan aku Nei. Semua ini pasti sangat berat untuk kamu. Aku senang kita bertemu lagi, senang ternyata kamu baik-baik saja." Ujarku sambil mengusap punggungnya, alih-alih menenangkannya, tangisnya malah semakin menjadi-jadi. Tergambar kepedihan yang dia lalui selama ini.

"Ini patah hati terhebatku, karena aku tidak ditinggalkan, aku yang harus meninggalkan. Kamu tahu rasanya? Dada ini terasa sesak dan sakit, jiwa hampa bagai raga tanpa rasa, pikiranku berkecamuk diluar kendali, untung saja aku tidak gila." Nada bicaranya tersendat bercampur dengan isak yang belum juga sirna. Hatiku pilu mendengarnya, kukira dia tidak semerana itu.

"Aku yang gila, Nei. Aku yang memintamu pergi tapi aku juga yang akhirnya mati-matian mencari. Hampir sepertiga nusantara kujelajah. Lihat saja penampilanku sekarang, macam gembel nomaden yang berkelana mencari obat nestapa. Mujur Tuhan masih baik padaku, Dia menyentilku dengan membuat aku tergila-gila, sehingga aku hanya merasakan rindu yang membadai dan tak kunjung surut." Aku mengadu kegilaan yang kulewati tanpanya disampingku.

"Baiklah kamu menang, kamu lebih gila dari aku." Akhirnya tangisnya mereda, dia menjadikan bajuku lap untuk air mata dan ingusnya. Tuhan, bahkan kelakuannya yang menjijikkan saja menggemaskan dimataku.

"Ibu titip salam buat kamu Nei."

"Ibu?"

"Farah juga."

"Mereka tahu?"

"Mereka yang kasih tahu aku kalau kita pernah ketemu 15 tahun yang lalu."

"15 tahun 8 bulan 23 hari lebih tepatnya. Gara-gara hari itu, aku percaya kalau seorang pangeran akan datang disaat aku sedang susah."

"Kenyataannya bagaimana?"

"Kenyataannya pangerannya yang bikin aku susah."

"Haha, iya maaf. Nggak akan diulang lagi, janji." Aku mengacungkan jari kelingking kepadanya, namun Neira malah memeluk pinggangku erat sekali. "Rindu..."

"Aku lebih rindu." Kataku sambil membalas pelukannya, menuntaskan kerinduan yang selama ini terpendam. Rinduku sederhana, hanya ingin bersama, seperti ini. Beruntung aku menemukannya di savana, yang memberi kami ruang hanya berdua. Berkat rindu ini aku belajar tentang rasa yang dia rasa. Belajar menyikapinya dengan lebih bijaksana.

"Bagaimana kamu bisa ada disini?" tanyanya sambil mendongakkan kepalanya

"Where there's tea, there's hope. Berkat teh, aku bisa disini sama kamu. Kok bisa sih teh kamu nyampe ke lokasi syuting?"

"Kemarin aku liat story teman lagi ngobrol sama kamu di Weekuri, kamu bilang mau ke Tana Rara. Terus tadi pagi, temanku Vero,  mau nyusul kalian kesana. Tadinya aku mau ikut, tapi karena kamu gak mau ketemu aku, jadi aku titip teh buat kamu dan kru, dengan harapan setidaknya kamu akan ingat aku kalau kamu minum itu."

"Mana mungkin aku nggak ingat kamu, aku udah lama nyari kamu, Nei. Awalnya aku cari ke Jogja, kukira kamu kuliah disana."

"Aku nggak kepikiran buat kuliah."

"Kenapa? Itu kan cita-cita kamu."

"Nggak bisa, nggak bisa mikirin hal lain kalau di otak aku isinya cuma kamu."

"Haha, makin manis ya sekarang mulutnya."

"Kok tahu manis, emang pernah nyoba?"

Glek, aku menelan ludah. Seandainya kamu seperti perempuan lain yang pernah ada dihidupku, pasti sudah sejak lama aku merasakan bibir itu. Bibir ranum berwarna merah muda yang menjadi ambisiku untuk mengecupnya.

Mataku terpejam, kepalaku merendah mengikuti naluri untuk menciumnya. Namun yang kudapatkan hanya jari telunjuknya yang menyilang didepan bibirku. Aku mencium bau khas itu, aroma tubuhnya yang juga kurindukan. Kubuka mata dan melihatnya tersenyum. Senyum yang mengingatkanku kalau sekarang belum saatnya dan aku memahaminya.

"Kamu abis makan apa sih? kok jarinya asin." Ujarku berkelakar.

"Kayanya bekas ingus pas aku nangis barusan." Jawab Neira sambil tertawa.

Kami berpindah ke sebuah pohon yang cukup rindang untuk berteduh dan duduk dibawahnya. Aku merasa lelah, perjalanan hari ini cukup menguras energi. Posisi duduk Neira lebih tinggi dariku, sehingga aku bisa menyandarkan kepala ke kakinya. Jemari Neira membelai lembut rambutku yang lepek terkena debu bercampur keringat. Terkadang jarinya turun ke dahi dan kembali mengelus turun naik diantara kedua alisku. Nyaman sekali.

Gesekan angin dan kulitku terasa lebih sejuk ditambah lagi aroma yang sangat menenangkan, membuat aku terlelap sekejap.

"Kamu ketiduran."

"Masa? Lama?"

"Lumayan, sampai mendengkur." Neira tertawa kecil.

"Faaz, kenapa kamu cari aku?"

Harus Ku MilikiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang