10. Makasih dan Maaf

14 2 1
                                        

"Lo tenangin diri dulu. Beruntung sekarang jamkos jadi lo aman, gak kemasuk bolos," kata Sarah ketika mereka sudah sampai di kelas dan duduk di bangkunya.

Menurut, Claristapun duduk di bangkunya dan mulai membaringkan kepalanya di atas meja dengan tas sebagai bantalnya.

Setelah kejadian tadi, Clarista merasa badannya lemas, kepalanya sakit juga detak jantungnya seakan tak beraturan bahkan untuk bicarapun rasanya Clarista tak sanggup.

Di sisi lain, Sarah tengah duduk sembari memainkan ponselnya. Ia terlihat tengah mengetikan sesuatu seperti sedang mengirimkan pesan kepada seseorang.

Sekilas Clarista melihat hal itu namun ia tak ingin ambil pusing lagipula di antara mereka tetap memiliki urusan pribadi masing-masing.

"Lo kenapa? Ada masalah tadi? Terus tadi lo abis dari mana, gue cariin ke kantin juga udah gak ada?" tanya Sarah meminta penjelasan.

Clarista mengangkat kepalanya lalu mulai menatap Sarah dengan lekat. "Sebenarnya tadi ... "

Clarista mulai menceritakan semua yang terjadi tadi tanpa ada yang terlewat sedikitpun lengkap dengan ekspresi memelasnya. Namun ada satu hal yang membuat Clarista heran, Sarah nampak biasa saja, tidak ada raut terkejut ataupun khawatir. Ia seakan tidak cemas juga seperti sudah tahu apa yang akan Clarista ceritakan.

Kendati demikian, Clarista berusaha berpikir positif karena mungkin saja ada yang Sarah pikirkan juga selain masalah Clarista mengingat tadi Sarah nampak sibuk dengan urusannya.

"Tapi lo gak papa kan?" tanya Sarah memastikan.

"Gak papa. Tadi ada Elvaro yang nolongin gue. Kalau tadi gak ada dia, gak tahu juga nasib gue sekarang gimana. Tapi tetap aja akhirnya dia nyebelin, beruntung tadi gue lagi kacau jadinya gak gue serang dia," kata Clarista sembari menahan kekesalan

"Lo jangan kayak gituh. Gimanapun, dia udah bantuin lo. Kalau gak ada dia belum tentu juga kan sekarang lo ada di sini, sehat walafiat juga," ujar Sarah.

Clarista diam. Lagi-lagi ia sedikit tertegun dengan perkataan lawan bicaranya. Tak berani menyanggah ataupun menentang karena memang yang dikatakan Sarah ada benarnya juga.

Sedikit ada rasa penyesalan di dalam hati Clarista karena sudah berkali-kali Elvaro menolongnya namun Clarista tidak pernah mengucapkan terima kasih dengan tulus atau juga berprilaku baik pada Elvaro.

"Iya sih, gue ngaku gue salah. Terus sekarang gue harus ngapain?" tanya Clarista meminta pendapat.

"Lo harus temuin Elvaro. Minta maaf sama dia terus jangan lupa bilang makasih!" titah Sarah.

Wajah Clarista terlihat begitu terkejut, Sarah yang melihat itu hanya tersenyum tipis sembari menggeleng pelan. "Gue tahu ekspresi lo bakal kayak gituh. Tapi itu cuma saran dari gue aja kalau lo gak sanggup ya gak papa tapi paling nanti lo bakal nyimpen penyesalan seumur hidup," jelas Sarah.

Jelas Clarista terbelalak mendengarnya. Ia hanya bisa menelan salivanya kasar tanpa mampu berkata apapun. Rasanya saat ini Clarista tengah berada di persidangan. Ia seperti seorang tersangka yang tengah dijatuhi hukuman, tak bisa menyangkal ataupun mengemukakan pendapat.

"Eh lo mau ke mana?" tanya Sarah ketika ia melihat Clarista beranjak dari tempat duduknya.

"Tadi lo nyuruh apa?" Clarista balik bertanya lengkap dengan nada ketusnya.

Diam. Sarahpun memilih tak menjawab dan hanya meresponnya dengan senyuman tipis.

Setelah kepergian Clarista, Sarahpun kembali memainkan ponselnya dan terlihat begitu fokus.

Lain halnya dengan Sarah, di sisi lain Clarista nampak tengah berjalan seorang diri sembari menyusuri tiap lorong kelas. Kepalanya tak tinggal diam, ia terus berputar memerhatikan sekitar, tentunya tengah mencari keberadaan Elvaro.

Sejujur hatinya belum terlalu siap untuk melakukan apa yang Sarah sarankan tadi. Namun jika menunggu siap, rasanya itu tidak akan pernah terjadi alhasil Clarista tetap harus melakukan itu walau dengan setengah keterpaksaan.

"Ngapain lo bengong di sini udah kek anak ilang?"

Pertanyaan itu berhasil membuat Clarista kembali pada alam sadarnya. Memang setelah lelah mencari keberadaan Elvaro tadi, tak sadar langkahnya terhenti dan Clarista melamun sejenak.

Alih-alih menjawab pertanyaan itu, Clarista justru kembali sembari menatap keberadaan yang kini berdiri di hadapannya.

"Udah gak waras!" cibir orang itu lalu hendak berjalan pergi meninggalkan Clarista.

"Nyariin lo!"

Perkataan yang baru saja keluar dari mulut Clarista sukses membuat langkah Elvaro terhenti. Keningnya berkerut heran, tatapannya terkesan dingin dan bagi siapa saja yang melihatnya mungkin akan merasa takut.

"Ngapain lo nyariin gue?" tanya Elvaro ketus seraya dirinya membalikan badan kembali menatap Clarista.

Jujur melihat raut wajah Elvaro yang seperti membuat Clarista sedikit gelagapan karena menahan takut. Sepertinya ia telah salah mengambil keputusan dengan menuruti saran dari Sarah. Namun rasanya menyesalpun tiada guna.

"Orang tanya tuh ya jawablah bukan malah bengong kayak gituh. Kayaknya otak lo ketinggalan pas lo lahir ya?" kata Elvaro yang merasa geram karena Clarista tak kunjung buka suara.

"Lo kalau sekiranya gak bisa ngomong baik-baik mending lo diam aja, gak usah ngomong," ujar Clarista yang sudah tersulut emosi.

"Gue ngomong juga tergantung lawan bicaranya. Berhubung lo juga kalau ngomong sama orang gak pernah baik jadi ya gue lakuin baliklah sama lo," balas Elvaro.

Geram, Claristapun mengepalkan tangannya kuat-kuat guna meluapkan kekesalannya. Jika mengikuti kata hatinya, jujur Clarista ingin sekali menerkam wajah Elvaro saat ini namun ia teringat kembali akan niat awalnya mencari keberadaan Elvaro. Mungkin untuk saat ini Clarista harus banyak bersabar.

"Jadi, buat apa lo nyariin gue? Gue gak punya banyak waktu, gue sibuk," Elvaro kembali bertanya.

"Gue cuma mau minta maaf sama lo sama makasih juga!" ujar Clarista.

Sedikit heran ketika Elvaro mendengar ujaran yang dilontarkan Clarista. Terlihat sangat jelas raut kebingungan dari wajah Elvaro seakan tak percaya bahwa yang kini ada di hadapannya adalah Clarista. Perempuan yang terkenal pandai, banyak  prestasi juga terkenal karena kesombongannya pada laki-laki.

"Buat?" tanya Elvaro meminta penjelasan.

"Ah lo gak usah belaga bego deh. Intinya lo mau maafin gue gak?" kesal Clarista.

"Gue yakin. Selain gue, orang-orang di luar sana juga ogah maafin kalau yang minta maafnya aja modelan kek gini," balas Elvaro yang tadi sempat terpaku dengan sikap Clarista namun di waktu yang bersamaan ia juga dibuat geram kembali.

"Ih lo jangan kurang ajar ya!" kata Clarista.

"Heh, elo yang udah gak waras!" balas Elvaro.

Rasanya untuk menanggapi Clarista hanya akan membuang-buang waktu. Maka dari itu, Elvaropun memilih untuk membalikan badan dan melanjutkan perjalannya menuju perpustakaan.

Namun baru saja satu langkah, pergelangan tangan Elvaro seperti ada yang menahan. Alhasil, Elvaropun diam dan kembali membalikan badannya.

"Apa lagi sih?" tanya Elvaro ketus.

"Gue udah susah payah ya nyari lo buat minta maaf jadi lo jangan seenaknya ninggalin gue dong! Maafin gue dulu!" tegas Clarista.

"Ya suka-suka gue dong. Lagipula gue gak nyuruh lo buat minta maaf sama gue kok," kata Elvaro.

"Ya tapi Sarah yang nyuruh," sahut Clarista.

TIPU DAYA CINTA [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang