"Hai!" balas Clarista seraya berdiri menyambut kedatangan Elvaro.
Elvaro lekas tersenyum sebari berjalan menghampiri Clarista. Sesampainya di samping Clarista, Elvaro menyuruhnya duduk diikuti dengan dirinya yang juga ikut duduk.
"Kenapa nyuruh ke sini?" tanya Elvaro yang sedikit kebingungan.
"Aku mau ngasih ini. Dihabisin ya. Semoga suka!" kata Clarista sebari memberikan paperbag tadi.
"Apa ini?" tanya Elvaro yang semakin bingung.
"Buka aja!" balas Clarista.
Elvaro menurut. Ia mulai membuka paperbag itu lalu mengeluarkan kotak beukal miliknya dari dalam sana.
"Oh ini. Padahal gak usah dibalikin juga gak papa," kata Elvaro lalu kembali memasukan kotak beukal itu.
Di tempatnya, Clarista nampak mengerutkan keningnya membuat Elvaro sedikit heran, tak mengerti.
"Kenapa?" tanya Elvaro.
"Kamu gak denger tadi aku ngomong apa. Aku kan bilang habisin. Masa iya aku nyuruh kamu buat habisin kotak beukal itu," omel Clarista.
Elvaro terdiam. Ia mencoba mengingat kembali segala perkataan yang keluar dari mulut Clarista. Ia sedikit terkekeh setelah berhasil mengingat, karena memang sepertinya kali ini Elvaro kurang bisa konsentrasi.
"Oke-oke, maaf!" kata Elvaro dan kembali mengeluarkan kotak beukal itu dan bahkan juga membukanya.
Senyum manis tercetak jelas di bibir Elvaro dan hal itu membuat kekesalan Clarista menjadi hilang.
"Makasih ya!" kata Elvaro lalu mulai menyantap makanan yang ada di kotak beukal itu.
Tak butuh waktu lama untuk Elvaro menghabiskan makanan yang sudah disiapkan oleh Clarista. Rasa bahagia tak bisa disembunyikan dari raut wajah Clarista.
Secara spontan kening Elvaro berkerut membuat raut bahagia di wajah Clarista seketika hilang.
"Kenapa? Gak enak ya?" tuding Clarista dengan wajah memelasnya.
"Bukan. Ada minum gak? Seret nih," kata Elvaro.
Clarista menyengir lebar sebari menggaruk kepalanya yang sama sekali tak terasa gatal. "Gak ada, aku lupa bawa air minumnya."
"Kamu belum makan kan?" tanya Elvaro.
"Belum," jawab Clarista.
"Ya udah kita ke kantin sambil cari makanan buat kamu," ujar Elvaro sebari menggenggam tangan Clarista.
Seisi kantin nampak terpaku ketika Elvaro juga Clarista menginjakan kakinya ke sana. Semua orang menatap tak percaya dan bertanya-tanya dalam hati.
Di kala semua orang tengah kebingungan, lain halnya dengan Elvaro yang nampak santai menggenggam tangan Clarista dan membawanya ke sebuah stand yang menjual makanan berat.
"Kamu mau makan apa?" tanya Elvaro seraya dirinya membawa satu botol air mineral lalu meneguknya hingga tersisa setengah karena memang ia tengah kehausan.
"Apa aja boleh," balas Clarista.
"Bi, nasi kuningnya satu, air mineralnya 2 udah saya ambil ya!" kata Elvaro lalu berlalu membawa Clarista ke bangku kosong.
Tak lama pesanan Elvaro datang dan menyuruh Clarista untuk memakannya.
"Kamu mau gak?" tanya Clarista.
"Gak usah. Kan tadi aku udah makan masakan kamu," balas Elvaro dibarengi dengan senyuman.
Hati Clarista terasa begitu hangat ketika melihat senyuman Elvaro. Iapun buru-buru memakan nasi kuning itu guna menghindari kontak mata dengan Elvaro.
KAMU SEDANG MEMBACA
TIPU DAYA CINTA [End]
RomanceKata orang cinta itu indah. Di mana kita bisa disayangi sepenuh hati, diberi perhatian tanpa pamrih juga dilindungi tanpa dipinta. Tapi tidak bagi Clarista, ia terjebak dalam sebuah permain cinta yang penuh dengan tipu daya. Diberi suka juga diberi...
![TIPU DAYA CINTA [End]](https://img.wattpad.com/cover/372983057-64-k865237.jpg)