Clarista menatap heran ke arah rumah Elvaro. Sepulang dari tempat aksesoris juga toko bahan kue, Elvaro memang tak bertanya akan ke mana begitu juga dengan Clarista yang tak memberi tahu tujuan mereka akan ke mana. Tetapi Clarista tak menyangka bahwa dirinya akan dibawa ke rumah Elvaro, tempat yang tak terbersit sama sekali di benak Clarista.
Clarista sebelumnya berpikir bahwa ia akan dibawa ke suatu taman, cafe atau tempat nongkrong lain selagi menunggu waktu tengah malam tiba. Ia sama sekali tak berpikir atau bahkan mengharapkan akan dibawa ke kediaman Elvaro apalagi di waktu malam seperti ini.
Melihat ketegangan di wajah Clarista tentu saja membuat Elvaro tertawa. Lain halnya dengan Elvaro, di tempatnya Clarista nampak gugup bahkan tawa ledekan dari Elvaro saja tak ia gubris.
"Kenapa sih lo tegang banget kayak gituh? Santai aja kali, gak bakal gue apa-apain juga. Ada nyokap di rumah, santai aja!" jelas Elvaro.
Walau masih setengah gugup, Clarista sedikit merasa lega mendengar penjelasan dari Elvaro. Clarista juga tak menyangka bahwa Elvaro bisa sepeka itu.
"Apaan sih lo? Gue juga santai kali!" alibi Clarista padahal terlihat sangat jelas raut ketegangan di mimik wajah dirinya.
"Santai kok gugup kayak gituh? Udah, ayo cepetan masuk!" ujar Elvaro sebari berjalan ke arah pintu masuk.
Masih senantiasa diam di tempat. Clarista belum juga melangkahkan kakinya barang sedikitpun. Kali ini bukan gugup karena takut melainkan gugup karena canggung jika harus berhadapan dengan ibu dari Elvaro. Memang ibu Elvaro bersikap baik tetapi sebagai anak perempuan yang normal, wajar jika Clarista mengalami kegugupan ini.
Merasa geram dengan diamnya Clarista, Elvaropun melangkahkan kakinya menghampiri Clarista, tentunya dengan langkah yang penuh kekesalan.
"Kenapa sih lo? Lo takut gue apa-apaan? Atau justru lo malah ngarep gue apa-apain?" tuding Elvaro.
"Sembarangan!" bantah Clarista lengkap dibarengi dengan geplakan di kening Elvaro.
"Kasar banget lo jadi cewek!" dumel Elvaro.
Clarista juga Elvaro berjalan bersisian memasuki ruang tamu rumah Elvaro. Walau masih saling diam tetapi secara diam-diam, Clarista melirik Elvaro sebari tersenyum dalam hati.
"Duduk!" titah Elvaro dan Claristapun langsung menurut.
Di kala Clarita tengah duduk, Elvaro berjalan ke arah dapur guna menyiapkan minuman untuk Clarista.
Sebari tersenyum, Elvaro membawa dua gelas teh lemon hangat dari arah dapur ruang tamu lalu ia simpan di atas meja.
"Diminum!" kata Elvaro seraya ikut duduk di samping Clarista.
"Makasih!" balas Clarista lalu mulai menyeruput teh lemon itu.
Teringat akan sesuatu, Clarista bergegas beranjak dari duduknya lalu berjalan keluar rumah. Melihat hal itu Elvaro lantas mengerutkan keningnya bingung.
"Eh, mau ke mana lo?" tanya Elvaro setengah berteriak.
"Bentar!" balas Clarista.
Walau dilanda penasaran, Elvaro memilih diam dan kembali menikmati teh lemonnya. Tak berselang lama Clarista kembali masuk tetapi tidak dengan tangan kosong. Ia nampak menenteng satu box yang Elvaro yakini itu adalah box berisi dimsum.
"Gak lengkap kalau gak ada makanan!" kata Clarista seraya membuka box itu. "Nih makan!" lanjutnya sebari menyodorkan dimsum yang sudah ia ampit dengan sumpit.
"Makanlah sama lo. Itu kan punya lo!" balas Elvaro.
"Iya, ini punya gue tapi gue mau berbagi sama lo. Ayo cepet!" ujar Clarista sebari terus memaksa Elvaro untuk segera melahapnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
TIPU DAYA CINTA [End]
RomanceKata orang cinta itu indah. Di mana kita bisa disayangi sepenuh hati, diberi perhatian tanpa pamrih juga dilindungi tanpa dipinta. Tapi tidak bagi Clarista, ia terjebak dalam sebuah permain cinta yang penuh dengan tipu daya. Diberi suka juga diberi...
![TIPU DAYA CINTA [End]](https://img.wattpad.com/cover/372983057-64-k865237.jpg)