47. Jadian

7 1 0
                                        

Mata Clarista tak bisa berhenti menatap ke arah Elvaro yang kini tengah berdiri di sampingnya. Lain halnya dengan Clarista yang nampak gugup, Elvaro justu berdiri santai sebari tersenyum lalu duduk tanpa permisi tepat di samping Clarista.

Elvaro datang tidak dengan kosong, ia nampak menenteng sebuah kotak makan lalu diletakan tepat di hadapan Clarista.

"Apaan ini?" tanya Clarista heran.

"Kotak makan. Lo gak bisa lihat?" balas Elvaro lengkap dibarengi dengan ledekannya.

"Ya maksudnya isinya apa?" Clarista kembali bertanya dengan nada yang lebih tinggi.

"Ya makananlah, kan namanya juga kotak makan," jawab Elvaro.

Clarista nampak semakin kesal, terbukti dengan ia mengusap wajahnya kasar lalu memilih untuk mencari jawabannya sendiri dengan cara membuka kotak makan itu.

"Nasi goreng chiken katsu," ujar Clarista dalam hati ketika ia melihat isi dari kotak makanan itu.

Jelas saja dalam hati Clarista tersenyum lebar bahkan jika bisa, Clarista ingin berteriak senang karena memang itu salah satu makanan kesukaan Clarista.

"Oh nasi goreng," kata Clarista berusaha secuek mungkin.

"Ya udah makan!" titah Elvaro.

Lagi-lagi Clarista terdiam. Entah kenapa perhatian sekecil itu mampu membuat hati Clarista berbunga-bunga. Alih-alih menuruti perintah dari Elvaro, Clarista justru malah diam sebari memandangi nasi goreng itu.

"Malah bengong. Buruan makan!" tegur Elvaro dan seketika Claristapun langsung terhenyak kaget.

"Ya udah sih, biasa aja!" balas Clarista.

Lain halnya dengan Clarista yang nampak asyik menikmati makanannya, di sisi lain Elvaro nampak melamun sebari memandangi wajah Clarista.

Cantik. Begitulah kira-kira isi hati Elvaro namun sayang Elvaro sendiri tidak ingin mengakuinya karena tujuan utamanya bukanlah itu.

Rasa sakitnya yang ia alami dulu membuat Elvaro menjadi sedikit keras. Tidak. Elvaro tidak dendam hanya saja Elvaro ingin memberikan pelajaran pada orang yang sudah membuat kakaknya menderita dulu.

Aldrian dan Elvaro merupakan saudara kembar yang saling menyayangi satu sama lain. Mereka memang memiliki karakter yang berbeda tetapi di balik semua itu mereka tetap saling peduli satu sama lain.

Sudah 2 tahun berlalu namun nampaknya Elvaro belum bisa melupakan kejadian kelam itu. Seorang kakak yang paling Elvaro sayangi harus pergi dengan cara yang menurutnya 'kurang wajar'. Memang tidak dibunuh secara fisik melainkan dibunuh secara psikis.

Akal sehatnya hilang disebabkan ia mencintai seseorang yang tidak tahu diri hingga menyebabkan kakaknya, Aldrian menjadi bahan bullyan fisik juga psikis sampai membuatnya sakit. Bukan hanya sakit fisik tetapi psikisnya juga ikut merasakan sampai harus membuatnya menghabiskan waktu di dalam rumah sakit jiwa.

3 bulan setelah Aldrian di rawat di rumah sakit jiwa, bukannya membuat Aldrian pulih tetapi justru malah membuatnya semakin drop sampai pada akhirnya Aldrian harus pergi untuk selama-lamanya.

Sejak kejadian itu, Elvaro memutuskan untuk mencari tahu tentang siapa perempuan yang sering kali Aldrian sebut-sebut namanya itu hingga akhirnya Elvaro menemukan sebuah buku di mana buku itu merupakan buku diary milik kakaknya. Beruntung di sana terdapat foto seorang perempuan yang diambil secara candid dan foto itu bertuliskan nama Clarista Damayanti. Di mana itu nama yang sering Aldrian sebut.

Bukan hanya mengetahui tentang perempuan yang kakaknya suka tetapi Elvaro juga mengetahui bahwa ternyata selama ini kakaknya sering menjadi bahan bullyan di sekolahnya. Mengetahui akan hal itu Elvaro semakin tak terima dan emosinyapun seakan memuncak.

TIPU DAYA CINTA [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang