Clarista menajamkan pandangannya ke arah Sarah. Mendengar perkataan yang Sarah lontarkan tadi pada Elvaro membuat Clarista sedikit kesal dan berpikiran yang bukan-bukan.
Lain halnya dengan Clarista, Sarah justru malah tersenyum tipis melihat ekpresi konyol dari Clarista.
"Tahu gak? Muka lo lucu kayak orang lagi cemburu," ujar Sarah.
"Maksud omongan lo tadi apa? Rahasia apa lagi yang lo simpen?" tegas Clarista to the point.
"Gak ada rahasia apa-apa. Tadi gue cuma minta tolong sama El buat temenin lo takutnya tadi lo ngelakuin hal-hal yang di luar nalar," ujar Sarah.
"Jadi kalian berdua sekongkol?" tuding Clarista.
"Udahlah gak usah marah-marah yang penting kan kamu happy terus berkat El juga kan kita bisa baikan," kata Sarah.
Merasa keberadaan dirinya juga sudah tidak diperlukan, Elvaropun berniat melangkah meninggalkan Sarah juga Clarista.
"Gue duluan ya!" pamit Elvaro yang langsung diangguki oleh Sarah sedang Clarista hanya mampu menatap keberadaan laki-laki itu, yang mana semakin lama semakin jauh.
"Dilihatin doang. Samperin domg!" goda Sarah yang mana langsung dibalas dengan delikan tajam oleh Clarista. "Apa mau gue panggilin aja?" lanjut Sarah dan saat itu pula injakan keras langsung mendarat di kaki Sarah.
"Gak usah berisik!" tegas Clarista dengan penuh penekanan.
Sarah mencebikan bibirnya kesal namun ia lebih memilih diam dibanding harus berdebat dengan Clarista.
"Mau langsung pulang apa mau nongkrong dulu?" tanya Sarah.
"Pulang. Gue males lama-lama sama lo," balas Sarah dengan nada sewotnya.
Langkah kaki Clarista terhenti ketika di hadapannya melintas motor yang dikendarai Elvaro. Tak disangka, Elvaro memberhentikan laju motornya membuat Clarista menatap heran.
"Ayo!" ajak Elvaro.
Clarista semakin menatap heran, terbukti dengan keningnya yang menciptakan banyak kerutan. "Apaan?" tanyanya.
"Ayo pulang!" kata Elvaro lagi.
"Iya kan ini juga mau pulang. Lo pulang aja duluan sana!" balas Clarista.
Di tempatnya, Sarah yang melihat perdebatan antara Clarista juga Elvaro hanya mampu tersenyum sembari menggeleng pelan. Dalam hati Sarah bersyukur karena kini hubungan dirinya juga Clarista sudah membaik. Dan sebenarnya hal inilah yang Sarah takutkan dari dulu, rahasia yang ia simpan terbuka dan menciptakan keributan antara mereka.
Dengan semua masalah ini Sarah berharap bahwa sifat Clarista perlahan bisa membaik dan Sarah bisa melihat bahwa hal itu bisa terjadi karena Elvaro.
"Ya ayo naik!" titah Elvaro.
Clarista mengangguk pelan seakan sudah paham apa maksud dari ucapan-ucapan Elvaro.
"Lo mau ngajakin gue pulang. Gituh maksudnya?" tanya Clarista.
"Iya," balas Elvaro.
Clarista melirik ke arah belakang, lebih tepatnya ke arah Sarah guna meminta pendapat. Di tempatnya Sarah tersenyum tipis lalu berjalan pelan ke arah Clarista.
"Lo boleh pulang bareng sama sahabat gue tapi lo harus inget, jangan macem-macem dan jagain sahabat gue!' ujar Sarah.
"Gampang!" balas Elvaro.
"Ayo buruan naik!" titah Elvaro lagi karena Clarista tak ada pergerakan apapun.
Sarah menyenggol bahu Clarista guna memberikan isyarat. Alih-alih langsung menuruti perintah dari Elvaro, Clarista justru malah diam melamun membuat Sarah ikut merasa jengkel.
Kesabaran Elvaro yang seakan terasa diuji, iapun turun lalu menggendong Clarista dan mendudukan di atas jok motor Elvaro.
Mata Clarista melotot tajam ketika ia baru menyadari atas apa yang Elvaro lakukan tadi.
"Eh lo ngapain tadi? Kan tadi Sarah udah bilang lo jangan macem-macem sama gue," omel Clarista.
"Kepaksa. Lagipula tadi lo kayak orang bego, malah diem, ngelamun," balas Elvaro.
Melihat hal itu, Sarah hanya bisa diam sembari tertawa pelan. "Udah sana buruan pulang!" titahnya.
Elvaro membunyikan klakson motornya sebagai tanda pamit pada Sarah yang langsung dibalas dengan anggukan pelan.
Setelah keberadaan Clarista juga Elvaro hilang dari pandangannya, Sarahpun hendak melangkahkan kakinya pergi namun niatannya itu terhalang ketika ada seseorang yang menahan pergelangan tangannya.
"Aku cariin dari tadi ternyata kamu di sini," kata Tian.
"Ada apa emangnya? Terus kenapa gak nelpon aja?" ujar Sarah.
"Mau ngajak pulang barenglah. Aku juga udah nelponin kamu berkali-kali tapi gak diangkat-angkat," balas Tian.
Mata Sarah melotot kaget, iapun bergegas mengambil ponselnya dari dalam tas. Senyuman konyol terbit di bibir Sarah sebari melirik ke arah Tian. "Oh iya. Maaf gak denger," katanya.
Tianpun ikut tersenyum lalu menggenggam erat tangan Sarah. Sudah lama sebenarnya Tian ingin melakukan hal ini, bersikap romantis pada Sarah di tempat umum tanpa merasa takut apapun.
Mendapat perlakuan manis dari Tian seperti ini, seketika Sarah merasa terkejut. Iapun menatap bingung ke arah Tian yang langsung dibalas dengan senyuma oleh Tian.
"Boleh kan? Clarista udah tahu ini kan?" ujar Tian.
"Iya boleh," balas Sarah sebari tersenyum.
Keduanya saling tersenyum bahagia. Tianpun membawa Sarah berjalan menuju parkiran sekolah. Sesampainya di sana, Tian memakaikan helm ke kepala Sarah dan itu sukses membuat Sarah tersipu malu juga membuat detak jantungnya tak beraturan.
"Ayo naik!" ajak Tian ketika motornya berhasil keluar dari parkiran.
******
"Makasih ya!" kata Clarista ketika ia baru saja turun dari motor Elvaro.
"Sama-sama. Kalau gituh gue pulang ya!" balas Elvaro.
Clarista tak berkata apapun. Ia hanya mengangguk sebagai bentuk mempersilahkan. Selepas kepergian Elvaro, Claristapun melangkah masuk namun anehnya, Clarista merasakan perasaan tak biasa dari dalam hatinya bahkan tanpa sengaja bibirnya membentuk sebuah senyuman membuat Manda yang tengah duduk di ruang tv menatapnya heran.
"Rista!" tegur Manda.
Alih-alih menjawab, Clarista nampak diam saja dan terus berjalan sebari tersenyum. Hal itu sukses membuat Manda khawatir bercampur jengkel dengan kelakuan anak semata wayangnya itu.
"Rista!" panggil Manda sekali lagi namun tetap saja tak ada jawaban.
Tak ada pilihan lain. Manda beranjak dari duduknya walau sebenarnya Manda melakukan ini dengan terpaksa karena memang Manda tengah asyik menonton acara tv kesukaannya. Dengan cepat, Manda meraih lengan Clarista lalu mencubitnya pelan.
"Awww!!" ringis Clarista karena ia merasakan sakit di bagian lengannya.
Perlahan Clarista menolehkan kepalanya ke arah belakang, tempat di mana Manda berdiri. "Ih mamah, kenapa cubit aku? Sakit tahu," protes Clarista.
"Ya kamu kenapa senyum-senyum sendiri? Masuk ke rumah main nyelonong aja, gak nyadar apa ada mamah di sini? Dipanggilpun gak denger, udah kayak orang kehilangan akal tahu gak," kata Manda.
"Ih kok mamah ngomongnya gituh sih sama anak sendiri?" lirih Clarista.
Manda melirik Clarista dari atas sampai bawah, seakan ada yang beda dengan aura anaknya saat ini. Terkesan lebih ceria juga lebih bersemangat.
"Kamu kok kelihatannya kayak seneng banget gituh? Lagi jatuh cinta ya? Apa jangan-jangan kamu udah pacaran sama El ya?" tuding Manda.
Mata Clarista terbelalak kaget. Lantas iapun meneguk salivanya kasar. "Udah ah, Rista mau ke kamar dulu. Capek," katanya sebari berlalu pergi meninggalkan ibunya seorang diri.
Di tempatnya, Manda lekas tersenyum tipis sebari menatap kepergian anaknya. Sesuai penglihatannya, semenjak Clarista dekat dengan Elvaro, Manda bisa merasakan perubahan anaknya menjadi lebih baik dan Manda bersyukur akan hal itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
TIPU DAYA CINTA [End]
RomansaKata orang cinta itu indah. Di mana kita bisa disayangi sepenuh hati, diberi perhatian tanpa pamrih juga dilindungi tanpa dipinta. Tapi tidak bagi Clarista, ia terjebak dalam sebuah permain cinta yang penuh dengan tipu daya. Diberi suka juga diberi...
![TIPU DAYA CINTA [End]](https://img.wattpad.com/cover/372983057-64-k865237.jpg)