"Kenapa? Ada masalah?" tanya Tian ketika Sarah sudah berdiri di sampingnya.
Sarah tak langsung menjawab. Ia lekas terdiam sembari menghela napasnya kasar. Melihat gelagat tak biasa dari Sarah, Tian tahu bahwa ada yang tengah dipikirkan oleh Sarah.
Tanpa bicara apapun, Tian menggenggam tangan Sarah dan membawanya duduk di bangku yang ada di pinggir lapangan.
Teringat akan sesuatu, Tian merongoh saku celananya, mengambil sesuatu yang mungkin itu bisa membuat perasaan Sarah sedikit membaik.
Sesuai harapan, Sarah tersenyum dan menerima permen lolipop yang Tian berikan. "Makasih ya! Tahu aja!" kata Sarah dengan semangatnya.
"Sama-sama. Lagian masa iya sih kesukaan pacar sendiri gak tahu," kata Tian.
"Pacar?"
Baik Sarah maupun Tian, keduanya terkejut mendengar suara yang berasal dari belakang mereka. Pelan-pelan Sarah menoleh ke belakang dan betapa terkejutnya ia ketika mendapati Clarista tengah berdiri di belakangnya. Sama halnya dengan Sarah, Tianpun ikut menoleh bahkan juga ikut terkejut.
"Cla! Sejak kapan lo di sini?" tanya Sarah dengan nada lirih.
"Gak usah ngalihin pembicaraan. Ini maksudnya gimana? Kalian pacaran? Beneran?" kata Clarista berusaha setenang mungkin padahal dalam hati emosi Clarista sudah menggebu-gebu.
"Duduk dulu. Biar gue jelasin!" ujar Sarah dengan nada lembut juga memegang tangan Clarista berharap Clarista bisa luluh namun ternyata malah ditepis.
"Jelasin apa? Jelasin kalau lo pacaran sama cowok yang udah ngerendahin gue. Gituh? Gue gak nyangka kalau lo juga ikut-ikutan ngerendahin gue dengan pacaran sama ini cowok. Apa gak ada cowok lain gituh yang lebih bener daripada dia. Kenapa harus dia, Sar? Lo kan tahu kalau harga diri gue diinjek-injek sama dia. Atau jangan-jangan lo juga udah ngasih harga diri lo sama dia? Terus yang semalam gue lihat itu jangan-jangan dia? Iya?
Sar, lo udah gak bisa ngelak lagi. Gue lihat semuanya semalam, gue lihat lo balik sama cowok itu. Lo udah bohong sama gue. Kenapa lo jadi kayak gini? Apa semua gara-gara dia? Dia yang udah bawa pengaruh buruk sama lo?"
Mendengar ocehan yang keluar dari mulut Clarista membuat emosi Sarah ikut tersulut. Bahkan tanpa sengaja tangan Sarah menampar keras pipi Clarista membuat Clarista juga Tian melotot kaget.
"Cukup ya, Cla! Lo gak bisa nyimpulin semuanya seenak jidat lo. Jaga ucapan lo, jangan mentang-mentang lo lebih pinter, lebih cantik, lebih tajir dari gue terus lo bisa seenaknya ngatain gue. Gue gak serendah itu ya, lo berhak marah tapi lo gak berhak ngatain orang seenaknya. Gue udah bilang sama lo gue bisa jelasin semuanya, gue udah ngomong baik-baik sama lo tapi lo main nyerocos aja tanpa mikir dulu.
Iya, gue semalam emang bohong sama lo. Soal cowok itu, iya itu emang Tian dan dia itu pacar gue dari 3 bulan yang lalu," jelas Sarah.
"3 bulan? Jadi waktu kejadian itu kalian ... " Air mata Clarista sudah tak bisa ditahan lagi. Kedua pipinya basah dengan air mata dan Claristapun memilih untuk pergi dari sana.
Di tempatnya, Sarah hanya bisa menatap kepergian Clarista yang semakin lama semakin jauh. Suasana di sana cukup ramai dan Sarah sadar bahwa dirinya, Clarista juga Tian sudah menjadi pusat perhatian.
Tian menggenggam tangan Sarah dan menyuruhnya untuk duduk kembali. Air mata Sarah keluar, membasahi kedua pipinya dan dengan sigap Tian langsung mengusapnya pelan.
"Apa aku keterlauan ya udah nampar Clarista kayak tadi?" lirih Sarah.
"Gak papa kok, lagian tadi kamu gak sengaja kan? Lagipula Clarista juga keterlaluan kok tadi. Jadi gak sepenuhnya salah kamu," ujar Tian berusaha menenangkan.
*****
Elvaro bangkit dari duduknya dan berniat untuk menyusul langkah Clarista. Namun sebelum itu, ia menyempatkan diri untuk membereskan kembali buku yang sudah ia ambil dengan Clarista.
Setelah semuanya kembali tertata rapih, samar-samar Elvaro mendengar keributan dari arah luar. Perasaan Elvaro mendadak tak tenang, iapun melangkah cepat keluar perpustakan dan penglihatannya langsung mendapati Clarista yang tengah beradu mulut dengan Sarah.
Sedikit heran karena Elvaro sendiri tahu bahwa Clarista juga Sarah berteman dekat, lalu saat ini Elvaro melihat keduanya tengah bertengkar.
Melihat Clarista yang berlari sembari menangis entah kenapa membuat perasaan Elvaro khawatir. Dengan cepat, Elvaropun langsung mengejar langkah Clarista yang mana itu mengarah ke kelasnya.
Baru saja Elvaro hendak melangkah masuk namun bel tanda istirahat berakhir sudah berbunyi alhasil mau tak mau Elvaro mengurungkan niatnya dan iapun berbalik arah hendak berjalan menuju kelasnya.
Tak lama selepas Clarista duduk di tempatnya, Sarahpun datang dan duduk di samping Clarista. Hampir semua warga kelas mengarahkan pandangannya pada Clarista juga Sarah karena memang pertengakaran mereka sudah menyebar ke seluruh warga sekolah.
"Lo udah tahu berita tentang mereka berdua?" tanya orang yang duduk di belakang Clarista juga Sarah pada teman sebangkunya.
"Udah, orang beritanya langsung heboh gituh. Sebenarnya ada apa ya sama mereka?" balas temannya itu yang langsung direspon dengan gelengan kepala.
Jelas Clarista mendengar semua pembicaraan itu. Dalam hati ia sungguh ingin menangis, karena Clarista belum mempercayai semua ini, sahabatnya yang begitu ia percaya tapi sekarang nyatanya membuat Clarista kecewa.
Bukan hanya Clarista yang mendengar tetapi Sarah juga ikut mendengar. Perlahan pandangan Sarah melirik ke arah Clarista dan matanya langsung mendapati Clarista yang tengah tertunduk seperti menahan tangis.
"Cla!" panggil Sarah pelan dan hendak mengatakan sesuatu tapi niatannya itu ia urungkan karena guru yang hendak mengajar sudah lebih dulu masuk.
Pembelajaran kali ini terasa begitu lama bahkan Clarista sendiri tidak bisa berkonsentrasi. Segala apa yang guru jelaskan di depan sana tak dapat Clarista cerna. Pikirannya tengah kacau, suasana hatinyapun begitu buruk. Andai waktu bisa dipercepat mungkin Clarista akan melakukannya dan memilih pulang ke rumah dengan segera.
"Bu, maaf! Saya boleh izin ke toilet?" kata Clarista sembari mengangkat tangan kanannya.
"Oh iya. Tapi jangan lama-lama ya!" balas guru itu.
Clarista mengangguk pelan lalu iapun beranjak dari duduknya lalu melangkah keluar kelas. Melihat hal itu, jujur Sarah merasa cemas dan memiliki keinginan untuk mengikuti Clarista. Namun Sarah sadar, jika ia melakukan hal itu justru akan menambah masalah baru.
Diam-diam Sarah mengeluarkan ponselnya dari dalam saku bajunya. Iapun dengan cepat langsung mengetikan pesan pada seseorang yang beruntungnya pesan itu langsung dibaca dan dibalas. Dengan begitu Sarah tak akan terlalu cemas dengan kondisi Clarista saat ini.
Sarah memang marah bahkan kecewa dengan sikap juga perkataan Clarista tadi. Tetapi bagaimanapun juga Sarah sudah menganggap Clarista sebagai keluarganya. Sudah banyak hal yang mereka lalui berdua dan Sarah tak bisa melupakan semua itu dengan mudah.
Sarah juga tak menyalahkan Clarista sepenuhnya. Wajar jika ia bersikap seperti itu karena bagaimanapun Sarah juga salah karena tak jujur. Dengan adanya masalah ini Sarah berharap bahwa hubungan keduanya akan semakin kuat juga bisa merubah sikap buruk Clarista.
KAMU SEDANG MEMBACA
TIPU DAYA CINTA [End]
RomanceKata orang cinta itu indah. Di mana kita bisa disayangi sepenuh hati, diberi perhatian tanpa pamrih juga dilindungi tanpa dipinta. Tapi tidak bagi Clarista, ia terjebak dalam sebuah permain cinta yang penuh dengan tipu daya. Diberi suka juga diberi...
![TIPU DAYA CINTA [End]](https://img.wattpad.com/cover/372983057-64-k865237.jpg)