Waktu istirahat sudah tiba, namun suasana di antara Clarista juga Sarah masih senantiasa diam tanpa suara. Jelas Sarah merasa heran juga cemas namun untuk bertanya Sarah tak memiliki keberanian karena melihat raut wajah Clarista yang terbilang cukup dingin seperti tak ingin diganggu.
Lain dari kebiasaannya, Clarista nampak masih senantiasa diam di tempatnya padahal bel tanda istirahat sudah berbunyi dari 5 menit yang lalu.
Di tempatnya, Sarah mencoba melirik, memastikan bahwa Clarista baik-baik saja. Berulang kali Sarah hendak membuka suara namun niatannya itu ia urungkan kembali ketika ia mendengar helaan napas kasar dari Clarista.
"Lo gak mau ke kantin?"
Akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulut Sarah. Walau cukup sulit untuk melakukannya namun Sarah akhirnya bisa bernapas lega.
"Gak," balas Clarista tanpa berniat melirik ke arah sahabatnya itu yang kini sukses membuatnya kecewa.
Clarista sadar bahwa apa yang ia lakukan pada Sarah mungkin terbilang tega. Mendiamkan tanpa memberi penjelasan. Tapi Clarista melakukan semua itu bukanlah tanpa alasan, ia hanya belum bisa menerima kenyataan atas kejadian semalam, memang Clarista belum menemukan ataupun meminta penjelasan hanya saja ia takut jikalau ia bertanya pada Sarah bukan kejujuran yang ia dapat melainkan kebohongan lagi.
"Lo beneran gak papa?" Sarah mencoba bertanya lagi.
"Lo kalau mau ke kantin berangkat aja sendiri. Gue mau di sini," kata Clarista.
Sarah memilih diam. Ia tak ingin membuat Clarista semakin tak nyaman. Walau dalam hati Sarah merasa sakit juga kecewa karena didiamkan tanpa alasan oleh Clarista namun ia tetap berusaha menguatkan hatinya.
"Ikut gue!"
Suara itu mengalihkan perhatian Clarista. Di depannya Elvaro sudah senantiasa duduk di kursi depan bangku Clarista. Tanpa permisi, Elvaro langsung menarik tangan Clarista dan menyuruhnya untuk segera berdiri.
"Biasa aja. Gak usah narik-narik!" tegur Clarista lalu iapun mengikuti perintah dari Elvaro tanpa protes sedikitpun.
Di kala Clarista berjalan melewati Sarah guna keluar dari bangkunya, tak sengaja matanya melirik ke arah wajah Sarah yang tengah menampilkan kebingungan juga kesedihan.
Selepas kepergian Clarista keluar dari kelas, di tempatnya Sarah nampak terdiam sembari berpikir sekiranya apa penyebab Clarista bersikap seperti ini.
Secara tiba-tiba pikiran Sarah teringat pertemuannya semalam dengan Clarista.
"Apa gara-gara masalah semalam ya? Tapi bukannya semalam gue udah jelasin dan Clarista juga baik-baik aja kok," Sarah nampak bermonolog.
Di sisi lain, Clarista nampak berjalan bersisian dengan Elvaro menyusuri lorong sekolah. Banyak orang yang membicarakan tentang kedekatan mereka, berbagai macam tanggapan pula yang keduanya dapatkan, pastilah ada yang mendukung ada pula yang menentangnya.
"Lo mau bawa gue ke mana?" tanya Clarista setelah mereka berjalan cukup jauh.
"Lo bisa baca kan?" Elvaro balik bertanya lengkap dengan nada ketusnya.
Tak terima dengan jawaban Elvaro yang kelewat ketus, Claristapun langsung memasang wajah ketusnya pula, "maksud lo apaan?"
"Tuh baca!" balas Elvaro sebari melirik ke atas.
Clarista mengikuti arah lirikan Elvaro yang mana ia langsung melihat papan bertuliskan 'Perpustakan' yang menempel di atas pintu.
"Ya orang lo gak ngomong kalau kita udah nyampe," kata Clarista.
"Gue mau ngomong tapi lo keburu nanya," ujar Elvaro.
Memilih tak ingin berdebat dengan Elvaro, Clarista langsung berjalan masuk ke arah rak buku fiksi. Di sana terdapat banyak buku-buku novel fiksi yang bercerita tentang kehidupan. Mata Clarista langsung bekerja, mencari buku mana yang hendak ia baca.
"Gue cariin dari tadi tahunya di sini malah nyari buku drama. Baca buku pelajaran!" kata Elvaro dengan tangan yang dipenuhi buku materi Fisika juga Kimia.
"Eh lo kira buku yang kayak gini gak ada pelajarannya gituh? Jangan sembarangan lo kalau ngomong, lo sendiri juga belum tentu bisa nulis buku kayak gini?" ujar Clarista.
Kening Elvaro berkerut heran, ia tak menyangka bahwa respon Clarista akan sekesal itu. "Sewot banget sih lo. Buruan duduk ke sana!" kata Elvaro sembari menunjuk ke sebuah bangku yang kosong.
Tanpa berniat menjawab, Clarista berjalan menuju bangku yang dimaksud oleh Elvaro. Iapun langsung duduk dan membaca buku yang sudah ia ambil.
Tak lama Elvaro datang, duduk tepat di hadapannya kemudian melakukan hal yang sama dengan Clarista, yaitu membaca buku yang sudah Elvaro pilih pula.
Mereka tak saling bicara, keduanya nampak fokus dengan bacaannya masing-masing hingga pada akhirnya Clarista teringat sesuatu.
"Btw, lo gak punya temen ya? Kok gue perhatiin lo suka sendiri mulu," celetuk Clarista.
Elvaro yang saat itu tengah fokus dengan bacaannya seketika langsung melotot tajam ke arah Clarista. Melihat ekspresi Elvaro yang seperti itu seketika membuat Clarista menelan salivanya kasar, dalam hati ia merutuki dirinya sendiri yang mana mungkin tadi pertanyaannya telah menyinggung perasaan Elvaro.
"Rajin banget lo merhatiin gue. Kenapa? Udah mulai suka lo sama gue?" kata Elvaro.
Wajah yang sedari tadi tegang berubah menjadi kesal. Hal itu dikarenakan perkataan Elvaro yang terbilang cukup percaya diri dan menyudutkan Clarista.
"Eh lo jangan kepedean ya. Gue bukan sengaja merhatiin lo tapi gue gak sengaja orang lo ngintiliin gue mulu," ujar Clarista membela diri.
"Halah lo gak usah ngelak deh. Peduli banget lo sama hidup gue sampe nanyain temen gue segala. Kenapa? Pengen dikenalin?"
Lagi-lagi perkataan Elvaro membuat Clarista kesal bahkan mungkin sampai naik darah. Dan sepertinya perkataan ayahnya tadi salah sasaran.
"Lupakan pertanyaan gue yang tadi!" kata Clarista penuh penegasan.
Elvaro tersenyum miring, rasanya ia puas telah membuat Clarista kesal. Cukup lama Elvaro memandangi wajah Clarista yang mana jika semakin dipandang Clarista terlihat semakin manis di mata Elvaro. Namun sejurus kemudian, Elvaro langsung menggelengkan kepalanya kasar, mencoba menepis apa yang telah ia pikirkan barusan.
"Apaan-apaan ini? Fokus El fokus sama tujuan awal!" gumam Elvaro dalam hati.
"Lo kenapa dah?" tanya Clarista ketika ekor matanya tak sengaja melihat Elvaro tengah menggelengkan kepalanya kasar.
"Ngapain sih lo? Kepo banget!" balas Elvaro berusaha tegas walau sebenarnya ia cukup malu.
Clarista mengernyit heran, ia benar-benar tidak mengerti dengan tingkah Elvaro pagi. Terkesan aneh juga membingungkan. Sekilas Clarista melirik jam tangannya, waktu istirahat akan habis 10 menit lagi maka iapun memutuskan untuk bangkit dari duduknya dan berjalan keluar perpustakan meninggalkan Elvaro seorang diri.
******
Sarah berjalan pelan keluar kelas sembari terus menelpon seseorang. Raut wajahnya terlihat begitu kesal bahkan beberapa kali ia nampak mengumpat karena panggilannya tak kunjung diterima.
"Eh kamu dari mana aja sih? Dari tadi aku telponin," rutuk Sarah ketika panggilannya sudah berhasil tersambung.
"Sorry, tadi aku abis makan dulu. Kenapa?" balas orang di sebrang sana.
"Kita ketemu di lorong dekat perpus sekarang!" kata Sarah.
"Siap!' balas orang itu.
Setelah sambungan telepon itu terputus, Sarah langsung berjalan cepat ke arah tempat yang telah disepakati. Suasana di lorong itu cukup ramai karena masih dalam jam istirahat. Tak butuh waktu lama, Sarahpun langsung menemukan keberadaan orang yang ia telpon tadi, yang mana orang itu adalah orang yang sama dengan orang yang semalam.
"Tian!" panggil Sarah ketika ia melihat Tian terus mengedarkan pandangannya, sepertinya sedang mencari keberadaan Sarah.
KAMU SEDANG MEMBACA
TIPU DAYA CINTA [End]
RomansaKata orang cinta itu indah. Di mana kita bisa disayangi sepenuh hati, diberi perhatian tanpa pamrih juga dilindungi tanpa dipinta. Tapi tidak bagi Clarista, ia terjebak dalam sebuah permain cinta yang penuh dengan tipu daya. Diberi suka juga diberi...
![TIPU DAYA CINTA [End]](https://img.wattpad.com/cover/372983057-64-k865237.jpg)