Dengan perasaan hancur, Clarista berjalan pelan menyusuri lorong. Kakinya melangkah entah ke mana karena Clarista sendiri tidak memiliki tujuan. Jujur perkataannya tadi memang hanya sebuah alibi untuk menghindar dari Sarah.
Clarista tak membenci Sarah, ia hanya kecewa dan tak percaya bahwa sahabat yang sudah ia anggap sebagai keluarga bisa tega menghianatinya. Memang Clarista belum tahu apa alasan Sarah melakukan itu bahkan ia juga belum sempat mendengar penjelasan dari Sarah. Hatinya yang terlalu sakit membuatnya belum siap mendengar segala perkataan yang akan keluar dari mulut Sarah.
"Eh!" pekik Clarista ketika ia merasa menabrak seseorang karena memang sedari tadi Clarista berjalan sembari menunduk.
"Kalau jalan tuh lihat ke depan!" ujar orang itu.
"Sorry!" balas Clarista dengan nada lirihnya.
Setelah mengatakan itu, Claristapun hendak kembali berjalan karena untuk saat ini Clarista enggan berdebat dengan siapapun.
"Eh, mau ke mana lo? Main pergi-pergi aja," ujar orang itu dengan tangan yang menahan lengan Clarista.
Dalam hati sebenarnya Clarista sudah cukup kesal namun untuk berdebat Clarista merasa enggan karena tenaganya sudah terkuras habis akibat pikirannya yang tengah kacau.
"Mau lo apa? Kan tadi gue udah minta maaf," tegas Clarista sebari mengangkat pandangannya secara perlahan.
Terdengar helaan napas gusar dari Clarista ketika ia sudah mengetahui siapa orang yang telah menghalangi jalannya.
"Elo ternyata. Mau ngapain lo?" ujar Clarista.
"Harusnya yang nanya gituh tuh gue. Lo mau ngapain? Mau ke mana? Jalan pake nunduk segala," kata Elvaro.
Alih-alih menjawab, Clarista justru malah melangkah pergi meninggalkan Elvaro. Namun tak sampai di situ, Elvaro ikut berjalan, menyusul langkah Clarista yang entah menuju ke mana, hingga pada akhirnya Claristapun menyadari bahwa ia tengah diikuti.
"Lo ngapain sih ngikutin gue?" kesal Clarista.
" Mau PDKT," jawab Elvaro santai sedangkan di tempatnya, Clarista tertegun bingung.
Melihat Clarista yang terdiam bingung, Elvaropun meraih pergelangan tangan Clarista dan hendak membawanya ke sebuah tempat.
Di tengah perjalanan, Clarista berontak karena langkah mereka sudah cukup jauh namun tak kunjung sampai. Alih-alih melepaskan, Elvaro justru malah mengeratkan pegangannya dan kembali membawa Clarista melangkah.
"Kita ngapain ke sini?" tanya Clarista ketika mereka sudah sampai di suatu tempat. Rooftop.
"Gak ngapa-ngapain. Ngadem aja, duduk. Tapi kalau lo mau loncat ya loncat aja, gue gak bakal larang kok," balas Elvaro lalu duduk di bangku yang sudah tersedia di sana.
Clarista yang masih berdiri di ambang pintu itupun melotot tajam ke arah Elvaro lalu hendak melangkahkan kaki. Langkahnya yanh terbilang kesal lalu dengan ganasnya Clarista langsung menjambak rambut Elvaro membuat Elvaro merintih kesakitan.
"Lo mau gue mati? Jadi lo ngajak gue ke sini nyuruh gue bunuh diri gituh? Terus nanti kalau gue udah mati, lo orang pertama yang gue hantui. Mau lo?" kesal Clarista.
"Mau-mau aja!" jawab Elvaro santai.
Mata Clarista memicing heran juga kesal. Dirasanya kakinya sudah terasa sedikit pegal, Claristapun duduk di samping Elvaro. "Lo gak takut emang?"
"Enggak. Ngapain takut, lo juga gak bakal berani loncat ini. Iya kan?" kata Elvaro.
Kekesalan Clarista sudah memuncak. Iapun bergegas menginjak kaki Elvaro dengan sekuat mungkin. Jelas itu cukup membuat Elvaro sakit namun ia berusaha bersikap setenang mungkin.
"Kok lo biasa aja sih?" tanya Clarista heran.
"Terus harusnya gimana?" Elvaro balik bertanya.
"Gak sakit emang?" Clarista kembali bertanya.
Sebelum menjawab, Elvaro lebih dulu menjauhkan kakinya dari kaki Clarista dikhawatirkan akan adanya serangan susulan.
"Sakit. Tapi emang perlu ya nunjukin sama orang-orang kalau kita itu lagi sakit? Belum tentu juga orang peduli sama kesusahan kita, jadi gak usah repot-repot buang energi," ujar Elvaro.
Mendengar perkataan dari Elvaro barusan membuat Clarista sedikit berpikir karena memang apa yang Elvaro katakan tidak bisa Clarista cerna. Terlalu bertele-tele dan membingungkan.
"Elo yang repot, ngomongnya pake ngalor ngidul segala," balas Clarista.
Suasana menjadi hening. Keduanya mendadak diam, sibuk menikmati indahnya langit di siang ini. Walau perasaan Clarista hancur namun saat ini suasana hatinya sudah sedikit membaik berkat Elvaro membawanya ke rooftop.
Di tempatnya, Elvaro diam merenung bahkan tak sengaja di benaknya terlintas kebersamaannya dengan Sang kakak karena dulu sewaktu Aldrian masih hidup, Elvaro sering menghabiskan waktu senggangnya bersama sang kakak di rooftop rumahnya.
"Lo sering ke sini?" Clarista tiba-tiba membuka suara.
"Sering. Kalau gue lagi mumet suka ke sini atau enggak ke perpus," balas Elvaro.
"Lo suka banget ya ke perpus? Apa lo gak bosen atau pusing gituh udah belajar di kelas terus belajar juga di perpus? Gak meledug tuh otak lo?" ujar Clarista.
"Selama raga gue sehat. Pikiran gue juga sehat apa salahnya gue banyak-banyak belajar, menambah wawasan. Gak bakal rugi juga kan?" balas Elvaro.
Lagi-lagi perkataan Elvaro sukses membuat Clarista mengeluarkan napasnya gusar. Rasanya ia salah telah memilih berdebat dengan Elvaro, karena segala yang ia ungkapkan benar adanya dan tak dapat disangkal.
"Ya maksud gue tuh belajar emang penting tapi selfreward juga perlu tahu," kata Clarista.
"Ya ketika gue mendapatkan pencapaian dalam hidup itu sudah termasuk selfreward bagi gue. Contohnya mendapatkan nilai bagus atau juga menjadi juara kelas. Selain selfreward itu juga bisa membuat orangtua gue bangga."
Rasanya kepala Clarista hampir pecah ketika mendengar setiap kalimat yang Elvaro keluarkan dan Clarista rasa segala kalimat itu selain Elvaro gunakan untuk menjawab itu juga ia gunakan untuk menyinggung dirinya.
"Terserah lo dah!" balas Clarista yang sudah sangat kesal.
"Lo lagi ada masalah sama Sarah? Kenapa? Bukannya kalian kek Upin Ipin yang ke mana-mana selalu bareng," ujar Elvaro.
Clarista melirik sekilas ke arah Elvaro lalu sedetik kemudian ia menghela napasnya kasar. Di tempatnya, Elvaro sadar bahwa Clarista sempat meliriknya namun Elvaro berusaha bertingkah seakan ia tidak melihatnya. Bahkan tak hanya itu, Elvaro sadar bahwa Clarista tengah merasa bimbang.
"Kalau lo gak mau ngasih tahu juga gak papa!" kata Elvaro seraya beranjak dari duduknya dan hendak pergi.
Langkah Elvaro semakin menjauh dan Clarista terus menatapnya dengan penih kebimbangan. Hingga pada saat Elvaro telah tiba di pintu rooftop, Clarista bangkit dan mengejar langkah Elvaro seraya cepat.
"Tunggu! Gue butuh temen cerita!" kata Clarista dengan memegang lengan Elvaro.
Sebenarnya Elvaro tidak terlalu mengharapkan hal ini akan terjadi karena ia juga tidak ingin terlalu ikut campur dengan urusan pribadi Clarista. Namun jika kehadirannya memang dibutuhkan, Elvaro akan senantiasa menemaninya.
"Cerita di sana aja!" ajak Elvaro lalu menyuruh Clarista kembali duduk di tempat yang sama.
Dengan perasaan sesak, Clarista mulai menceritakan semua yang terjadi di antara dirinya juga Sarah. Sedang di tempatnya, Elvaro nampak fokus menatap wajah Clarista sembari mendengarkan segala kata yang keluar dari mulut Clarista. Memang sedikit rumit namun Elvaro tidak bisa berpihak pada satu kubu karena Clarista sendiri masih enggan mendengarkan penjelasan dari Sarah.
"Lo dengerin gue gak?" tanya Clarista ketika ia baru sadar bahwa Elvaro tengah menatapnya lekat.
"Denger," jawab Elvaro santai.
"Terus gue harus gimana sekarang?" tanya Clarista meminta pendapat.
KAMU SEDANG MEMBACA
TIPU DAYA CINTA [End]
RomanceKata orang cinta itu indah. Di mana kita bisa disayangi sepenuh hati, diberi perhatian tanpa pamrih juga dilindungi tanpa dipinta. Tapi tidak bagi Clarista, ia terjebak dalam sebuah permain cinta yang penuh dengan tipu daya. Diberi suka juga diberi...
![TIPU DAYA CINTA [End]](https://img.wattpad.com/cover/372983057-64-k865237.jpg)