Tian, nampak berjalan mondar-mandir di depan toko boneka. Ia berniat membelikan hadiah untuk Sarah namun Tian masih bingung ingin membelikan Sarah boneka yang seperti apa.
"Beli yang kayak gimana ya? Selama menjalin hubungsn sama Sarah, gue belum pernah tahu dia suka sama karakter apa karena seringnya dia ngajakin menjajah kuliner terus," Tian mulai bermonolog sebari terus bermondar-mandir hingga pada akhirnya Tian tak sengaja bertabrakan dengan seseorang.
"Eh sorry-sorry, saya gak sengaja," kata Tian masih dengan kepala yang menunduk.
Orang itu tak bersuara, membuat Tian merasa penasaran juga khawatir. Mata Tian melotot tajam ketika wajahnya berhadapan dengan wajah Elvaro.
"Elo?" pekik Tian dibarengi dengan ekspresi takut.
"Kenapa?" tanya Elvaro.
"Gak papa. Lo juga gak papa kan? Terus lo ngapain di sini?" Tian balik bertanya.
"Aman. Ini gue abis beli kopi di caffe sana," balas Elvaro sebari terus memeperhatikan Tian yang nampak kebingungan. "Lo ngapain di sini? Terus kenapa kayak orang kebingungan gituh?"
Tian terdiam, karena sejatinya ia memang tidak terlalu mengenal atau bahkan dekat dengan Elvaro. Ia hanya sebatas tahu, maka dari itu Tian agak sedikit canggung jika harus bercerita masalah pribadinya.
"Kalau lo gak mau cerita juga gak papa kok, gue duluan ya!" kata Elvaro lalu hendak melangkah pergi.
"Eh tunggu-tunggu!" kata Tian. "Sebenarnya gue tuh mau beliin Sarah boneka, karena besok tuh dia ulang tahun jadi gue berniat mau beli boneka tapi masalahnya gue gak tahu dia suka karakter apa karena selama ini dia seringnya ngajak gue nguliner, dia lebih suka ke makanan gituh," jelas Tian.
"Ya kalau gituh, kenapa lo gak beliin makanan aja yang udah jelas dia suka," balas Elvaro.
"Ya kan gue mau ngasih yang gak biasa gituh, yang di luar kebiasaan dia, biar special," ujar Tian.
Elvaro diam, hal seperti ini memang bukan passionnya alhasil ia tidak bisa memberikan solusi apapun lagi selain hanya bisa mendengarkannya.
"Oh iya, gue baru inget," teriak Tian membuat Elvaro terperanjat kaget. "Lo kan deket sama Clarista ya? Bisalah lo bantuin gue!" lanjutnya dengan wajah sumringah.
"Bantuin apa?" tanya Elvaro.
"Tolong tanyainlah ke Clarista si Sarah suka karakter apa. Bisalah tolongin gue!"' ujar Tian dengan ekspresi penuh harap.
Elvaro nampak diam sejenak. Permintaan Tian memang tidak sulit tetapi rasanya Elvaro ragu untuk melakukannya.
"Tapi ... "' kata Elvaro yang tak tahu harus menjawab apa.
"Tapi apa? Lo takut ya kalau Clarista mikir yang enggak-enggak. Udah lo tenang aja, lo bilang aja kalau gue yang nyuruh!" ujar Tian.
"Ya udah kalau gituh lo aja yang nanya. Gue kasih nomernya ke elo," balas Elvaro.
Tian berdecak menandakan kalau ia tengah kesal, "ya udah lo aja yang telpon, biar gue yang ngomong. Bisa kali!"
Tak ingin terus berdebat, Elvaropun mulai mengeluarkan ponselnya lalu memencet kontak atas nama Clarista.
Teleponpun tersambung dan tak lama panggilanpun diterima.
"Hallo, El! Ada apa?" sapa Clarista di sebrang sana.
"Hallo, Cla! Ini gue Tian, sorry nih gue mau tanya. Kira-kira lo tahu gak kalau Sarah tuh suka karakter apa? Misal Hellokity, Doraemon, Panda atau yang lain gituh. Lo tahu gak?" Tian mulai nyerocos.
"Bentar-bentar, kok bisa hp El ada di lo?" Alih-alih menjawab, Clarista malah balik bertanya membuat Tian geram sendiri.
"Ah kalau urusan itu entar lo tanya langsung aja sama si El, sekarang jawab dulu pertanyaan gue, gue gak ada banyak waktu, mau nyiapin surprise buat ultah Sarah besok," balas Tian.
"Panda, dia suka panda," jawab Clarista.
"Oke deh, makasih!" kata Tian lalu mematikan sambungan teleponnya secara tiba-tiba.
Sedang di tempatnya, Clarista nampak diam kebingungan sebari mengingat perkataan Tian tadi.
"Oh iya bener, besok kan Sarah ulang tahun. Kok gue bisa lupa ya?" pekik Clarista.
Di sisi lain, Tian tersenyum lega sebari menyodorkan ponsel milik Elvaro kembali. "Makasih ya!" katanya lalu langsung berlari kecil ke dalam toko boneka itu.
"""
Clarista nampak gelisah mengingat perihal hari ulang tahun Sarah. Pasalnya hari sudah menjelang sore dan Clarista belum mempersiapkan hadiah untuk ia berikan pada Sarah.
Berkali-kali Clarista berusaha mengatur napasnya guna menetralkan rasa paniknya. Bukan hanya itu, Clarista juga berusaha berpikir untuk mencari jalan keluar dari kepanikannya itu.
"Oh iya, kemarin kalau gak salah Sarah tuh bilang kalau dia lagi BM Dimsum mentai yang ada di jalan Rajawali itu. Apa gue beli itu aja ya?" Clarista mulai membantin. "Eh tapi kalau gue beli sekarang harus gue kasiin sekarang dong. Masa iya tengah malam gue harus ke sana sendiri, nanti kalau gue diculik gimana dong?" lanjutnya.
Clarista mulai mengacak rambutnya prustasi, rasanya ia benar-benar tidak bisa berpikir jernih. Namun tak lama, ponselnya berbunyi menandakan ada pesan masuk.
"Siapa lagi ini, ganggu aja. Udah tahu orang lagi pusing," dumel Clarista namun setelah mengetahui siapa pengirimnya kekesalannya berganti dengan rasa tenang.
[Mau beli kado buat Sarah gak? Gw temenin yu! Kalau mau nanti abis maghrib gw jmpt, sekarang udah terlalu sore, tanggung!]
Begitulah isi pesan yang dikirimkan oleh Elvaro, yang mana isi pesan itu sukses membuat hati Clarista berbunga-bunga.
Dengan tangan yang sedikit bergetar, Clarista berusaha mengetikan balasan pesan untuk ia kirim kepada Elvaro.
[Iya, gw mau. Sebelumnya makasih ya!]
**
Malam sudah tiba dan Claristapun sudah siap dengan penampilannya yang terbilang casual, hanya mengenakan celana panjang cargo hitam dengan atasan sweater coklat serta rambut ysng sedikit dicurly.
"Liptin udah, parfum udah terus apa lagi ya?" Clarista mulai bermonolog. "Pake jepit kali ya biar rambutnya gak polos-polos amat," lanjutnya sebari tangannya mengambil jepit berbentuk bunga di laci meja riasnya lalu dipasangkannya di rambut sebelah kiri.
Clarista terus menatap wajahnya di depan cermin, ia terus saja tersenyum sebari mengontrol detak jantungnya yang nampak tak beraturan.
Samar-samar Clarista mendengar suara motor berhenti tepat di depan rumah dan Clarista langsung meyakini bahwa itu adalah Elvaro.
Panggilan masuk datang dari Elvaro dan tanpa pikir panjang Clarista langsung menjawabnya.
"Gue udah di depan," kata Elvaro.
"Oke," balas Clarista lalu iapun langsung mematikan sambungan teleponnya.
Clarista yang baru saja keluar dari kamar langsung menarik perhatian Manda juga Irwan. Sepasang suami istri yang tengah asyik menikmati sepiring singkong goreng juga dua gelas teh hangat itupun langsung menatap lekat ke arah anak gadisnya itu.
"Mau ke mana kamu? Rapih banget, wangi lagi," tanya Manda.
"Mau keluar, mah. Nyari kado buat Sarah, besok kan dia ulang tahun. Tadi Rista lupa baru keinget sekarang," jelas Clarista.
"Sama El?" sahut Irwan.
Mata Clarista melotot tajam. Ia terlihat begitu salah tingkah. "Kok papah bisa tahu?"
"Ya papah kan pernah muda. Udah sana kasian El udah nunggu lama, tapi awas ya jangan macem-macem!" kata Irwan yang langsung diangguki oleh Clarista.
KAMU SEDANG MEMBACA
TIPU DAYA CINTA [End]
RomanceKata orang cinta itu indah. Di mana kita bisa disayangi sepenuh hati, diberi perhatian tanpa pamrih juga dilindungi tanpa dipinta. Tapi tidak bagi Clarista, ia terjebak dalam sebuah permain cinta yang penuh dengan tipu daya. Diberi suka juga diberi...
![TIPU DAYA CINTA [End]](https://img.wattpad.com/cover/372983057-64-k865237.jpg)